Lima Menteri yang Logis Direshuffle Versi LSJ

0
266

download (4)

JAKARTA – Lembaga Survei Jakarta (LSJ) merilis hasil survei terkait kinerja jajaran Kabinet Kerja dalam setahun terakhir. Setidaknya ada lima menteri yang dianggap buruk dan logis dicopot.

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi mendapatkan persepsi terburuk di mata responden. “Ketidakmampuan mengembalikan citra sepak bola yang baik jadi salah satu faktor utama,” kata Peneliti LSJ Ikhsan Rosidi dalam rilis survei di Kopitiam, Lot 8, SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2015).

Kedua, Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno. Menurut Ikhsan, nyaris semua kebijakan yang diambil Rini selalu dianggap negatif oleh publik. Rini bahkan masuk dalam taraf public enemy di berbagai kalangan, di antaranya kebijakan kereta cepat Jakarta-Bandung.

Tragedi kebakaran hutan dan bencana asap yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia juga turut mendegradasi tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi-JK. Alhasil, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar dianggap publik sebagai salah satu menteri berkinerja buruk.

Menurut Ikhsan, sebanyak 78,9 persen tidak puas dengan cara pemerintah dalam menangani kebakaran hutan dan lahan. Hanya sebanyak 14,6 persen menyatakan puas dan sisanya 6,5 persen tidak tahu.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro juga menjadi sasaran kekecewaan masyarakat. Pasalnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dianggap stagnan bahkan kerap terinjak-injak, walau hal ini wewenangnya Bank Indonesia.

“Terakhir, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani. Puan selalu diam dan karena itu susah dinilai,” ujar Ikhsan.

Survei ini dilakukan pada 27 hingga 31 Oktober 2015 terhadap 831 responden yang tersebar di 15 kota besar di Indonesia. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara melalui telepon dan pedoman kuosioner.

Adapun nomor teleponnya dipilih acak dari buku telepon yang ada. Sementara itu, margin of error sebanyak 3,4 persen dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.

Dari hasil survei ini, Ikhsan mengaku, tidak ada kaitannya dengan desas-desus yang kian kuat berembus terkait reshuffle jilid II. Namun, ia juga tak meyakini nama-nama tersebut dapat dipertahankan Presiden Jokowi untuk dipertahankan hingga akhir jabatan.

“Logisnya di mata masyarakat terkait nama-nama menteri yang dianggap enggak baik, bisa direshuffle. Tapi kalau saya bilang layak atau tidak, saya tidak bisa. Karena itu hak prerogatif presiden,” tandas dia. (metrotvmews.com)

BAGIKAN

KOMENTAR