Lonte Politik

0
243

 

Dewasa ini dunia politik di negara kita sedang hangatnya terlebih menjelang tahun politik 2019 nantinya dengan agenda pilpres dan caleg. Kita mengetahui bersama bahwa politik itu sebuah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.

Pengertian diatas merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Harolf Lasswell dan Crik. Dalam pandangan mereka politik itu siapa mendapat apa, kapan dan bagaimana caranya danjalan memerintah masyarakat dengan proses diskusi yang bebas dan tanpa kekerasan.

Kehadiran politik juga kerap melahirkan penyimpangan dalam prosesnya dan berbagai macam fenomena lainnya. Salah satunya istilah yang agak tabu saat musim politik tiba timbul dan lahirnya ungakpan diantara digelari dengan “pelacur politik” (Lonte Politik).

Ungkapan Politik atau pelaku politik (politikus) dan pelacur tentunya mempunyai wajah (alasan) kesamaannya dari satu sisi walaupun ada perbedaannya. Sosok politikus dan pelacur sesungguhnya keduanya sangat berbeda, akan tetapi jika kita mengkaji pada substansinya lebih dalam, pelacur dengan politikus dalam batas-batas tertentu ada sedikit kesamaannya yaitu pada kepuasan.

Pengertian politik seperti yang telah diutarakan diatad, sedangkan Pelacur atau prostitusi adalah orang yang berkegiatan dalam penjualan jasa seksual, tujuannya untuk uang dan kepuasan. Jadi ada sedikit nilai kesamaannya antara Politikus dengan Pelacur atau Pelacuran, yaitu kepuasan. (Imam Kodri, 2015)

Dalam perjalanannya antara politik dan pelacur keduanya ada persamaan. Politik itu secara garis beaar bermuara kepada kepuasan, kekuasaan dan money. Hal tersebut juga tersebut juga terjadi dengan melakukan pelacuran atau prostitusi si pelaku akan merasakan kepuasan. Kepuasan yang didapat dalam politik maupun prostitusi sifatnya sementara alias tidak abadi.

Hanya saja kepuasan dari pelacuran atau prostitusi lebih cepat berlalu secepat anak panah melesak lepas dari busurnya. Bahkan ada yang lebih cepat dari itu. Setiap besaran sesuatu fariabel tentu ada yang bernilai positip maupun negatip.

Jika Politik dan Prostitusi dianggap sebagai suatu besaran dari fariabel yang menghiasai kehidupan umat manusia, maka baik politik maupun prostitusi seharusnya ada nilai positipnya dan negatipnya. Akan tetapi yang saya ketahui dalam pelacuran atau prostitusi sangat sulit mencari nilai positipnya bahkan oleh banyak kalangan prostitusi dianggap suatu perbuatan tercela. Oleh sebab itu dalam prostitusi selalu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, karena si pelaku tidak akan sudi jati dirinya diketahui oleh umum, walaupun dalam proses ada kesepakatan oleh para pelaku-pelakunya.(Imam K, 2015)

Implementasi para “pelacur politik” dalam prakteknya terkadang mereka mangkal di tempat strategis dan menggiurkan ini gunanya demi meraup keuntungan pribadi. Salah satu praktik yang digunakan cenderung manipulatif dan merekayasa rakyat dalam bentuk data-data statistik pengeluaran yang disusun seksi dan menarik.

Usaha mereka dilakukan dengan balutan liptis yang “aduhai” bahkan menggunakan topeng agama, tentunya pada akhirnya rakyat kagum dan terpesona dengan polesan bedak pencitraan politisi yang tampil dengan retorika yang “seksi” dan “menggoda” baik ditempat umum atau acara seremonial.

Para “pelacur politik” tentunya mereka berusaha mengontrol diri seperti penampilan, gesture, dan retorika agar prilaku penyimpangan tidak tercium oleh publik, karena politisi tersebut faham betul menjaga citra merupakan bagian penting untuk mendulang simpati. Dengan begitu, koruptor berperan ganda, atau malah bermuka dua.

Pelacur Politik mereka tidak menghiraukan pihak manapun yang penting kepuasan mereka terpenuhi dilakukan dengan berbagai macam cara dan modus bahkan mereka tidak segan menggunakan jubah keagamaan dan Islami. Sunnguh sangat kita sayangkan fenomena ini lahir dalam masyarakat kita.

Beranjak dari itu apapun modus dan tipe serta istilahnya baik pelacur politik dan sejenisnya sebagai bentuk kemungkaran politik tentunya itu merupakan  praktek yang terlarang bahkan berdosa. Lantas ditengah arus globalisasi  politik ini semakin mengalir perlahan-lahan dengan arus kian meningkat akumalasinya di pileg dan pilpres tahun 2019. Apakah kita termasuk bagian dari “Pelacur Politik” dan “germo politik” bertopeng agama, nasionalis dan lainnya atau termasuk pembenci dan pembasminya?

Na’uzubillah

*** Helmi Abu Bakar el-Langkawi,  pecinta kopi dan literasi asal Pidie Jaya. 

 

BAGIKAN

KOMENTAR