Mahasiswa Aceh Deklarasi Garda Terdepan Bela NKRI

0
53
Diskusi publik tentang belanegara. Foto: LA

Liputanaceh.com | Sejumlah mahasiswa Aceh menggelar deklarasi garda terdepan bela negara sekaligus diskusi publik dengan tema ‘Pemuda Sebagai Garda Terdepan Menjaga Persatuan dan Menanamkan Cinta Tanah Air’. Acara tersebut diadakan di aula lantai 3 Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Selasa 21 November 2017. Acara yang berlangsung dari pukul 14.30 hingga 17.30 WIB itu dihadiri sekitar 200 orang.

Turut hadir pada kegiatan tersebut pejabat terkait diantaranya Wakil Gubernur Aceh diwakili Kaban Kesbangpol Aceh, Drs. Mahdi Efendi, Pangdam Iskandar Muda diwakili Ahli Bidang Hukum dan Humaniter, Kolonel Caj Dr. Drs. Ahmad Husen, MA yang juga sebagai narasumber pada kegiatan tersebut.

Selain itu, narasumber lainnya yaitu Kapolda Aceh diwakili Staf Dir Res Narkoba Ipda Nasir (narasumber), Kasubbid Ormas Kesbangpol Aceh, Mus Mulyadi, S.Pd.I, MM (narasumber), Ketua KNPI Aceh diwakili Wakil Ketua Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Muhammad Al-Musawir, S.IP, Ketum Umum DPP Garda NKRI Pusat, Haris Pertama, Koordinator Garda NKRI Aceh, Muzammil, Pengurus Wilayah Garda NKRI Aceh serta mahasiswa pendaftar Garda NKRI Aceh.

Wakil Gubernur Aceh diwakili Kaban Kesbangpol Aceh, Drs. Mahdi Efendi, dalam sambutannya mengapresiasi kehadiran Garda NKRI Aceh. Menurutnya, langkah yang digagas para pemuda dan mahasiswa ini patut didukung bersama, sehingga upaya untuk menyebarkan semangat nasionalisme dan komitmen terhadap keutuhan NKRI senantiasa dapat terus ditingkatkan.

“Untuk itu, atas nama Kepala Pemerintahan Aceh, saya mengucapkan selamat atas kehadiran Garda NKRI di daerah ini. Semoga organisasi ini dapat berperan mendorong semangat bela negara di kalangan generasi muda kita,” kata Mahdi Efendi.

Semangat bela negara sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, merupakan sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai kecintaannya terhadap kesatuan dan persatuan bangsa di bawah payung NKRI. Keterlibatan dalam bela negara dapat diwujudkan melalui penguatan karakter dan jati diri dalam berkepribadian, berbudaya serta menjunjung tinggi rasa cinta kepada tanah air.

“Karena itu semangat bela negara penting kita perkuat sebagai bagian dari hak dan kewajiban anak bangsa. Apapun profesi yang digeluti, cinta NKRI dan semangat bela negara adalah kewajiban yang harus kita junjung demi tegaknya marwah dan kelangsungan hidup bangsa,” ujarnya.

Menurut Mahdi, makna kecintaan kepada bangsa sesungguhnya sangat luas. Para guru, tenaga kesehatan, dan profesi lain yang menjalankan perannya di daerah terpencil, juga bisa dikatakan telah menunjukkan rasa cintanya kepada bangsa. Para atlit yang berjuang mengharumkan nama bangsa, bisa pula dikategorikan sebagai pejuang bangsa. Termasuk mereka yang aktif menjaga kelestarian budaya, peduli pada lingkungan, aktif mencegah penyalahgunaan narkoba, gerakan melawan kejahatan, dan juga para pejabat negara yang menjalankan tugas dengan penuh dedikasi dan tanggungjawab, semua itu menurutnya merupakan bagian dari semangat bela negara dan cinta kepada bangsa.

“Karena itu, sekali lagi, pemahaman tentang bela negara dan cinta pada bangsa jangan diartikan secara sempit. Pemahaman ini yang harus kita sosialisasikan agar semangat bela negara menjadi spirit bagi setiap rakyat Indonesia. Kita harus menyadari bahwa kemajuan teknologi yang kian pesat yang juga diperkuat dengan semarak globalisasi di berbagai sektor kehidupan, sangat berpotensi menghadirkan ancaman terhadap kedaulatan bangsa. Hal itu dapat kita lihat dari rendahnya tingkat kedisiplinan masyarakat, tingginya angka pelanggaran hukum dan kurang pekanya kita terhadap lingkungan, serta munculnya berbagai paham radikal yang dapat mengganggu stabilitas keamanan masyarakat,” jelasnya.

“Jika kita tidak peka pada kondisi ini, akan memudahkan pengaruh buruk itu terus menyebar sehingga dapat membuat paham-paham yang bertentangan dengan nasionalisme Indonesia itu kian berkembang, termasuk potensi bahaya laten komunis. Semua itu sangat berpotensi merusak ideologi bangsa,” tambah dia lagi.

Dilanjutkan Mahdi, untuk mengantisipasi hal ini, penguatan semangat cinta NKRI dan jiwa bela negara perlu ditingkatkan di tengah-tengah masyarakat. Mahasiswa sangat diharapkan berperan dalam menyebarkan semangat ini, mengingat mahasiswa memiliki idealisme yang murni dan merupakan kekuatan besar untuk dapat melahirkan perubahan di masyarakat. Karena itu, kehadiran Garda NKRI diharapkan dapat menjadi motor dari semangat penguatan jiwa NKRI ini, apalagi anggota dari organisasi ini didominasi para mahasiswa dan anak-anak muda Aceh.

“Besar harapan saya, kehadiran Garda NKRI ini di daerah kita dapat mensosialisasikan semangat bela negara dan cinta NKRI kepada seluruh masyarakat, sehingga ancaman dan gangguan dari berbagai ideologi yang bertentangan dengan nasionalisme Indonesia dapat kita singkirkan. Mudah-mudahan dialog publik yang kita gelar ini kian memperjelas makna spirit NKRI dan bela Negara ini, sehingga semangat nasionalisme kian melekat di relung hati masyarakat Aceh,” pungkasnya. (SA)

BAGIKAN

KOMENTAR