Masa Kejayaan Kelapa di Simeulue Tinggal Kenangan

0

Banda Aceh – Selain dikenal sebagai penghasil cengkeh, Kabupaten Simeulue juga dikenal salah satu wilayah penghasil buah kelapa terbesar di Aceh. Namun kini tinggal kenangan, kelapa untuk kebutuhan keluarga warga di sana harus dipasok dari luar daerah.
Kejayaan minyak dan buah kelapa serta kopra di Simeulue terjadi dalam rentang waktu 1970- 2000. Hal itu disokong oleh sebuah pabrik pengolahan minyak buah kelapa swasta yang dibangun Safwan (57), seorang pengusaha setempat pada tahun 1970 dan beroperasi hingga 2014.
Dengan pabrik ini, masyarakat di sana menjadi rajin menanam kelapa karena hasilnya dinilai dapat mensejahterakan mereka. Setelah tsunami pabrik itu tidak lagi beroperasi karena gedungnya yang berlokasi di pinggir laut, Suka Maju Sinabang direndam air gelombang tsunami pada 26 Desember 2004.
Hingga sekarang pabrik itu tak kunjung diperbaiki kembali oleh pemiliknya juga oleh pemerintah setempat. “Sejak tahun 2004 atau setelah musibaah tsunami, pabrik sudah tidak beroperasi lagi hingga sekarang,” kata Safwan, pemilik pabrik belum lam ini.
Menurutnya, pabrik itu sebelumnya sanggup mengolah buah kelapa hingga 450 ton dan menghasilkan minyak 172 ton perbulan, kemudian di kirim ke Medan Provinsi Sumatera Utara dan Padang Sumatera Barat. “Buah kelapa yang kita olah, semua kita beli dari masyarakat di Simeulue. Dulu kelapa sangat banyak di seantro Simeulue,” ujarnya mengingat masa itu.
Keberadaan pabrik kelapa pada masa itu, menunjang perekonomian maysarakat terutama pemilik kebun kelapa dan untuk memenuhi kebutuhan konsumen minyak kelapa di wilayah kepulauan itu.
“Siemeulue awalnya dikenal dengan penghasil kelapa baru kemudian dengan buah cengkeh. Sejak pabrik ini beroperasi, perna saya minta bantuan kepada Pemkab, untuk sediakan lahan seluas 100 hektar khusus ditanamai kelapa, tapi permintaan itu tidak diakomodir,” imbuhnya.
Dirinya juga pernah meminta kepada pemerintah untuk merehabilitasi batang kelapa yang telah berusia uzur untuk diremajakan. Permintaan awalnya sudah disampaikan Bupati Simeulue masa itu, Drs Darmili ke pihak dewan setempat, namun tida mendapat respon positif dari wakil rakyat masa itu.
Ekskutif dan legislatif, justru memilih untuk membuka sektor kebun kelapa sawit. Pabrik kelapa minyak buah kelapa yang perna mengangkat nama Simeulue malah diabaikan begitu saja.
Karena Pemkab lebih memilih kelapa sawit, sehingga pabrik minyak kelapa tersebut menjadi tidak beroperasi lagi. Para perkebun kelapa kemudian menjadi malas menanam kelapa karena buahnya tidak ada lagi yang menampung.
“Yang terjadi saat ini di Simeulue, kalau awalnya menjadi lumbung kelapa dan minyak kelapa menjadi terbalik. Sekarang untuk kebutuhan minyak dan buah kelapa saja harus dipasok dari luar Simeulue,” pungkasnya.(Sumber Habadaily.com)