Melepas Jomblo Mengharap Samara dalam Keberkahan Rabiul Awal Sayyidul Ayyam

0

BANDA ACEH yang merupakan ibu kota propinsi paling ujung barat di nusantara ini. Keberadan Kota Banda Aceh bukan hanya menjadi destinasi wisata dengan keindahan alam dan lainnya. Kini Kota Banda Aceh yang dipimpin bapak Aminullah juga menjadi desnasi religi dengan lahirnya masjid dengan daya Tarik tersendiri selain Masjid Raya baiturrahman yang telah berdiri sejak ratusan tahun silam.

Pagi berkah Sayyidul Ayyam (hari Jumat)di sinari sang surya dengan cuaca sangat bersahabat, tampak rombongan dari negeri jauh blahdeh Seulawah menghadiri salah satunya masjid yang diresmikan awal tahun 2019 dengan desain ala Timur Tengah dan Pernik-perniknya khas kearifan local.

Masyarakat menyebutnya dengan Masjid Haji Keuchik Leumik namanya yang berdiri megah di pinggiran Krueng Aceh yang telah diresmikan pada Senin, 28 Januari 2019 oleh Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Lokasi masjid itu terletak Aceh di Gampong Lamseupeung, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh.

Nama itu mengambarkan sang musamma, begitu juga dengan Masjid ala Timteng itu sesuai namanya, masjid ini dibangun oleh keluarga besar Haji Keucik Leumik. Saudagar emas terkenal di Aceh. Seluruh dana pembangunan masjid yang mampu menampung hingga seribu jemaah ini berasal dari kantong pribadi.

Informasi yang dihimpun menyebutkan masjid itu lasnya 34×22 meter, berdiri di atas lahan seluas 3.500. Untuk masjid menggunakan lahan hingga 2.500 meter, sisanya digunakan untuk balai pengajian ala arsitek kearifan lokal.

Terlihat rombongan memperhatikan pemandangan penuh dengan nilai estetika relegi dari sisi mana pun, masjid ini akan terlihat menarik. Keindahan masjid tersebut bertambah nilainya dengan serpihan dibalut warna cokelat muda dengan kombinasi warna emas. Lembut dan elegan. Corak Timur Tengahnya begitu kental.

Rombongan terlihat juga dua sosok muda belia berpakaian serba putih memauki masjid tersebut. Rasa penasaran gerangan dua sosok itu menjadi pertanyaan besar di hari yang berkah itu. Sebelum kaki melangkah sorotan dua bola terkesima saat pemandangan menoreh bagian atas terdapat satu kubah besar yang dikelilingi empat kubah kecil. Melengkapi keberadaan menara setinggi mencapai kurang dari 100 meter.

Walaupun dua sosok misterius bak pakaian raja dan permaisuri itu belum terjawab namun rasa tak sabar segera ingin melihat kedalamnya meskipun aura kemewah semakin terasa saat kita berada di dalam masjid. Ukiran dan arsiteknya melahirkan decak kagum plus lukisan yang ada di dalam sangat artistik, yang paling mencolok seperti area mimbar yang terdapat ukiran kaligrafi dari kuningan.

Sepertiga waktu dhuha telah berlalu hingga rombongan terus berdatangan dengan mobil mewah dan sebagian warga sekitar dengan kenderaan roda dua. Petugas masjid memberikan isyarah dan pengumuman bahwa tidak lama lagi akan berlangsung acara sakral.

Sang misterius berpakaian putih duduk dalam rombongan bahkan “pengawal” dua anak muda bertubuh kurus dan satu lagi wajah agak putih terlihat berbicara ringan. Sebagian jamaah yang sudah memasuki masjid megah itu menempatkan diri untuk shalat sunat tahyatul masjid dan dhuha.

Acara sakral di masjid ala Timur Tengah itu dimulai setelah protokol mempersilahkan tamu dan undangan plus dua orang “misterius” berpakaian serba putih duduk di tempat yang telah di tentukan juga beberapa porsi tempat lainnya termasuk orang penting dalam acara penuh sensasi dan mungkin hanya sekali seumur hidup dalam misi menghalalkan yang haram terlebih momen paling ditunggu oleh kaum jomblo di dunia ini.

Setelah pembacaan ayat suci al-quran untuk memberkahi momen sakral itu dan beberapa ara lainnyaa termasuk beberapa untaian nasehat bagaimana bersikap dan bertindak seorang Imam dalam membangun mahligai rumah tangga dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Kesabaran dan saling berbagi kelebihan dan menerima kekurangam serta terus membangun komunikasi dengan dua pihak yang berbeda demi meraih mahligai bahtera SAMARA.

Nasehat lainnya juga mengamanahkan dan menitipkan buah hatinya untuk seorang anak muda untuk di didik dan dibina menjadi makmum yang mampu berbakti bukan hanya untuk imamnya juga berkonunikasi dan berakhalkul karimah tetmasuk dua pihak keluarga.

Sejak dulu rasa penasaran dua sosok misterius itu berpakain serba putih sedikit demi sedikit terjawab. Kala menjelang detik-detik paling bersejarah dan sakral di dunia dan paling di tunggu jomblo, tepatnya jarum kecil bergerak di dinding bertulisan kaligrafi indah itu menunjukkan angka 08.44.12 WIB.

Semua mata tertuju kepada dua sosok yang saling berhadapab dengan para saksi plus jamaah yang menghadiri masjid destinasi wisata religi Kota Madani Banda Aceh itu, dua sejoli misterisirus sejak beberapa hari hingga detik itu masih berdebar hati dan jantungnya menanti sebuah jawaban hijrah status kehidupan.

“Saya nikahkan anak saya Ika Novita kepada Saifullah bin Abu Bakar………….” begitu terdengar lewat pengeras suara, seakan makin jelas keberadaan dua sosok misterius itu dan tidak lama setelah itu balasan jawaban juga terdengar jawaban qabul dengan suara tegas penuh optimisme. Sorotan mata sang gadis cantik jelita merasa puas dan lega dengan untaian kalimat yang barusan menggema serta membuat tersenyum bahagia dua pihak keluarga termasuk jamaah yang hadir dalam masjid tersebut.

Ternyata terjawab sudah sang teka teki di hari yangb berka hari jumat plus bulan Rabiul Awal bahkan aura sang surya sangat bersahabat bahkan aliran Krueng Aceh ikut mengamini dan doa keberkahan untuk dua sejoli sang raja dari negeri Pedir tepatnya Lamkawe, Kembang Tanjung putra tokoh pendidikan yang telah melahirkan banyak generasi lintas tokoh walaupun telah menghembus nafas terakhir akhir 2016 namun dalam persepektif syariat merka ysng telah tiada itu juga bisa melihat aktiftas kelaurga di dunia dan terntunya senyuman bahagia dan kepuasan bathin bahkan doanya menyertai bahtera rumah tangga si bungsunya.

Tentunya raja Pedir adik kandung Fuadi Abu Bakar, Ak (Fuad Lamkaruna tokoh penting di Bireuen), Iskandar Abu Bakar, MT (Dosen Politeknik Lhokseumae), Nurlaila Abu Bakar, S. Sn dan Khairiah Abu Bakar, S.Pd.I (Guru di Pidie) plus seorang lagi saudara lainya perantau di negeri Kota Santri Samaalanga dengan permaisurinya putri sulung juga anak tokoh sebuah gampong di negeri Aceh Lhe Sagou Aceh Rayeuk, semoga bahtera rumah tangganya mampu mengarungi samudera nan luas hingga sampai negeri harapan bernama SAMARA bukan hanya di dunia juga akhirat kelak.

.بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرٍ

Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fiil Khairin. ”Mudah-mudahan Allah memberkahi engkau dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan”

**Helmi Abu Bakar El-Lamkawi, Penikmat Kopi BMW Cek Pen