Melestarikan dan Menjaga Nilai Budaya Kluet Raya Adalah Tugas Awak Milenial

0
Foto: Doc Riri.

Oleh: Leddy Avista Lestari, M.Pd (Penggiat Pendidikan, Sosial, dan Budaya di Aceh).

Generasi milenial harus mampu mempertahankan dan melestarikan budaya lokal agar tidak terkikis oleh sejarah. Di zaman milenial seperti sekarang, begitu banyak informasi yang mudah dan cepat kita akses untuk mendapatkan informasi secara cepat dan akurat.

Salah satunya adalah menjaga dan melestarikan warisan budaya dengan cara menuliskannya agar dapat dibaca untuk generasi selanjutnya. Warisan budaya, juga merupakan cerminan bahwa bukti cinta seorang masyarakat terhadap daerah dan leluhurnya, dengan memiliki pemahaman budaya yang luar biasa dalam mengetahui dasar dan pondasi sejarah, menciptakan karya budaya beserta simbol filosofinya, juga melestarikan setiap budaya yang ada.

Aneka Budaya di Kluet Raya;

Secara umum, budaya di Kluet Raya memiliki keterpaduan ketiga suku, meskipun terdapat perbedaan pada hal-hal tertentu, namun dalam hal ini penulis lebih melihat pada kesamaannya. Suku tersebut adalah Suku Kluwat, Aneuk Jamee, dan Aceh.

Budaya dan adat istiadat di Kluet Raya juga memiliki ciri khasnya tersendiri yang berbeda dengan daerah-daerah lainnya. Baik dalam kehidupan sosial masyarakat, budaya dalam penikahan, sunat rasul, budaya pada hari-hari besar Islam, serta hukum adat atau reusam daerahnya. Dimana menjadi komponen yang saling merekatkan dan menautkan sebagai jati diri dan khas budaya di Kluet Raya.

Budaya di Kluet Raya secara mendasar memiliki keunikannya tersendiri yang sudah ada sejak tempo dulu. Dari sekian banyak budaya unik di daerah ini, dapat dilihat dari beberapa contoh kecil, seperti menggelar pesta pernikahan atau sunat rasul anak hingga 4-5 hari, prosesi pesta yang memiliki pertunjukkan budaya, mengundang dengan sekapur sirih yang mesti dimakan oleh penerima undangan, hari besar Islam yang khas, kenduri-kenduri tertentu seperi kenduri Blang, jirat, uteun, sawah dan sebagainya. Bahkan pada kegiatan pesta pemuda memiliki peran yang sangat penting dan sangat kolaboratif.

Budaya yang disebutkan di atas, juga sebagian kecil dari banyaknya pelestarian dan pelanggengan nilai budaya yang ada di Kluet Raya yang wajib dijaga oleh generasi selanjutnya, meliputi seluruh kehidupan sosial masyarakat, dan tentunya tidak dapat disebutkan satu per satu dalam tulisan singkat ini.

Realita yang dihadapi;

Tak hanya objek wisata dan cagar budaya di Kluet Raya yang sudah terkikis oleh sejarah. Sejumlah suku, bahasa, adat istiadat, termasuk wilayah pun terkesan dilupakan. Suku Kluet merupakan satu di antara dua suku lainnya, yaitu Aceh dan Aneuk Jamee, yang hidup di wilayah teritorial Kluet Raya. Suku ini umumnya terdapat di wilayah Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Timur, dan Kluet Tengah.

Sebagai generasi milenial Kluet Raya, tantangan kita bersama adalah peran kolaborasi yang bersama mendukung dengan melestarikan, merawat, dan mempulikasikannya melalui karya kebudayaan dengan menciptakan karya literasi yang mampu dibaca oleh seluruh warga seantero dunia.

Di sini juga perlu peran semua elemen, baik pemerintah daerah maupun kepekaan dari masyarakat itu sendiri. Bahwa mencintai budaya lokal, bukan lantas dan berarti kita bisa dikatakan kuno dan ketinggalan jaman. Paradigma ini yang sebenarnya keliru yang dianut oleh generasi milenial sekarang ini.

Justru mencintai kebudayaan lokal sendiri adalah kekuatan untuk mendobrak budaya asing yang akan masuk dan mengganggu ekosistem budaya lokal yang sudah berabad-abad dianut oleh para endatu terdahulu.

Ada beberapa catatan kecil penulis untuk membangkitkan gairah dan semangat para generasi milenial terhadap budaya bangsa Kluet Raya, yaitu:

Generasi milenial harus bisa menjaga dan melestarikan budaya tradisi asli budaya suku Kluet. Sebab inilah identitas dan nilai luhur yang berasal dari nenek moyang suku dan etnis Kluet Raya.

Dengan demikian, mencintai budaya natural Kluet Raya bukanlah hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Justru akan bernilai positif jika bisa dengan peran kreatifitas dan produktifitas dengan menampilkan dan memperkenalkan kepada dunia bahwa budaya Kluet Raya memiliki kekayaan budaya alam yang luar biasa.

Sebagai catatan akhir penulis dapat menyimpulkan bahwa kecintaan generasi milenial terhadap budaya Kluet Raya adalah:

1. Generasi milenial Kluet Raya harus bisa menjaga dan melestarikan nilai budaya dan tradisi asli suku Kluet Raya. Karena ini adalah identitas dan bernilai luhur dari nenek moyang Kluet Raya.

2. Kemajuan teknologi dan malang melintangnya informasi yang mudah dan cepat kita akses, justru bisa kita manfaatkan untuk mengemas secara kreatif budaya asli suku dan etnis Kluet Raya untuk diperkenalkan di nasional dan internasional.

3. Mencintai budaya natural Kluet Raya, bukanlah hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Justru akan bernilai positif jika bisa dengan kreatifitas dan produktifitas karya budaya Kluet Raya dalam menampilkan dan memperkenalkan kepada dunia.

Itulah beberapa catatan kecil saya tentang pentingnya generasi muda milenial Kluet Raya dalam menjaga dan melestarikan nilai budaya natural Kluet Raya di tengah maraknya teknologi informasi dan sosial media publikasi yang seakan tak berbatas dan menembus ruang dan waktu. Semoga bermanfaat!