Memahami Esensi Zakat

0
237

Oleh Hafas Furqani
ZAKAT adalah bagian dari rukun Islam yang mencari keseimbangan dalam kehidupan manusia. Dari satu sisi, zakat adalah semacam ritus kesucian (sakral ritual), seperti shalat yang merupakan tindakan kesalehan pribadi yang hubungannya lebih cenderung kepada Tuhan.
Di sisi lain, kesadaran menunaikan zakat sebenarnya adalah merupakan bagian dari kesadaran bermasyarakat dan juga merupakan kesempurnaan kesadaran keberagamaan. Dengan kata lain, zakat adalah manifestasi keimanan dalam dimensi kemanusiaan. Kesadaran berzakat adalah cerminan kesadaran hidup yang bermakna transedental dan terefleksi ke dalam kesadaran horisontal dalam bentuk kepedulian sosial (Nurcholish Madjid, 2000).
Falsafah ini terekam dengan sempurna dalam makna kata zakat itu sendiri, yang berarti tumbuh dan suci. Arti etimologis zakat ini memang sangat sesuai dengan fungsi dan tujuan zakat itu sendiri, yang menginginkan kesucian jiwa dan harta dan kesejahteraan sosial ekonomi.
Arti kata zakat yang pertama adalah tumbuh, berkembang dan bertambah (al-nama’). Sepertidiketahui, zakat diwajipkan kepada harta yang telah melebihi jumlah maksimal atau telah mencapai nisab. Allah Swt berfirman, “dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: Yang lebih dari keperluan.” (QS. Al-Baqarah: 219).
Dalam Islam, harta yang surplus (lebih) di satu sektor mesti dialirkan kepada sektor yang mengalami kekurangan (deficit). Islam melarang bertumpuknya dan tertahannya harta di tangan orang kaya saja (QS. Al-Hasyr: 7). Setiap harta yang tumbuh melewati nisab dan genap satu tahun musti ditarik oleh Baitul Mal dan dibagi-bagikan kepada masyarakat.
Distribusi kekayaan
Zakat adalah alat distribusi kekayaan dalam masyarakat, yang memastikan alokasi kekayaan juga mengalir kepada orang miskin. Zakat dalam hal ini berfungsi melengkapi distribusi kekayaan melalui mekanisme pasar yang dianggap hanya efektif bagi mereka yang memiliki modal, informasi dan kemampuan untuk masuk dan berinteraksi di pasar. Sedangkan mereka yang miskin hanya akan menjadi “penonton” di luar arena dari berbagai macam transaksi barang dan jasa yang tidak mampu dimilikinya.
Zakat memastikan transfer harta kepada si miskin, sehingga harta tersebut tidak beredar di kalangan mereka yang kaya saja (pemilik modal). Zakat dalam hal ini berfungsi sebagai wealth transfer mechanism, yang menjamin distribusi kekayaan negara secara konstan dari mereka yang memiliki kelebihan harta (surplus sectors) kepada mereka yang merasa kekurangan (deficit sectors), sehingga perekonomian sebuah negara menjadi seimbang dan jurang sosial di dalam masyarakat menjadi semakin kecil.
Harta zakat yang telah dikumpulkan dan dibagi-bagikan kepada delapan sektor yang berhak menerima zakat, akan memberikan multiplier effect berupa transformasi pertumbuhan ekonomi dari yang selama ini hanya terjadi di kalangan mereka yang kaya kepada mereka yang miskin. Transformasi ekonomi tersebut akan mempunyai implikasi positif pada pemerataan dan keadilan distribusi ekonomi kepada setiap golongan ekonomi dalam masyarakat, sehingga jurang sosial-ekonomi menjadi semakin kecil.
Makna tumbuh juga bermaksud bahwa zakat harus bisa menjadi alat empowerment (pemberdayaan) si miskin, sehingga keluar dari belenggu kemiskinan dan menjadi muzakki (orang yang membayar zakat). Zakat tidak bermaksud tumbuh, kalau distribusinya habis untuk tingkat konsumtif fakir dan miskin saja. Sebaliknya, zakat harus mempunyai implikasi produktif yang bisa menggerakkan ekonomi fakir dan miskin untuk memperbaiki kehidupan mereka ke arah yang lebih baik.
Zakat juga bermaksud suci dan dimaksudkan sebagai penyuci hati dan harta manusia (tazkiyah). Allah Swt berfirman, “Ambillah zakat dari mereka untuk membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. Al-Taubah: 103).
Zakat dalam hal ini menjalankan dua fungsi sebagai pembersih sifat kotor manusia dan sebagai pembersih harta manusia. Hati manusia memang tidaklah selalu suci seratus persen. Sifat alami manusia untuk cenderung suka kepada harta benda, kekayaan dan kemewahan, mementingkan dirinya sendiri dan lain-lain menyebabkan dirinya sering lalai dalam mengendalikan hawa nafsu (QS. Ali Imran: 14).
Zakat dimaksudkan untuk melenyapkan sifat ini dan menundukkan hawa nafsu, sehingga hati manusia menjadi suci, tidak ada lagi sifat mementingkan diri sendiri (individualistik) dan rakus tehadap harta benda, selanjutnya akan tumbuh perasaan sosial, sikap kasih sayang dan tolong-menolong sesama manusia.
Menyucikan harta
Zakat juga dimaksudkan sebagai pembersih harta manusia. Dalam hal ini, Imam Fakhruddin Al-Razi dalam tafsirnya Al-Kabir berpendapat, zakat dikatakan sebagai penyuci diri dan harta manusia karena memang zakat itu adalah kotoran manusia. Ketika zakat dikeluarkan, maka berarti kita telah menyucikan harta kita. Sebab itulah Nabi saw menolak untuk menerima zakat dan mengharamkannya kepada ahli keluarga beliau.
Nabi bersabda, “Zakat adalah kotoran manusia (min awsakh al-nas), ia tidaklah halal kepada Muhammad juga tidak halal kepada keluarga Muhammad” (HR. Muslim). Zakat tidak sama seperti hadiah ataupun harta fa’i, di mana Rasulullah dan keluarganya diperbolehkan menerimanya.
Zakat adalah ritual keagamaan yang mempunyai fungsi membentuk kesalehan pribadi Muslim dengan menyucikan dirinya dari sifat rakus akan kemewahan. Zakat juga mempunyai fungsi sosial menciptakan keadilan distributif dalam masyarakat dan menumbuhkan ekonomi masyarakat.
Zakat adalah alat yang sempurna untuk menerjemahkan prinsip Islam tentang keimanan dan persaudaraan kemanusiaan kedalam kehidupan yang nyata. Allah Swt menghendaki agar zakat ditujukan sebagai suatu bentuk “kontribusi” tetap oleh setiap Muslim, lelaki dan perempuan, terhadap kemajuan dan kesejahteraan umat (QS. Al-Taubah: 71).
Namun demikan, patut menjadi catatan kita bahwa zakat tidaklah bermaksud tumbuh kalau pengelolaannya tidak benar, pengumpulannya tidak diatur dengan rapi, distribusinya tidak adil dan tidak dapat mengubah kondisi hidup si penerima zakat. Demikian pula, zakat tidaklah bermaksud suci kalau pembayaran zakat hanya sekadar ritual tahunan tanpa ada kesan mendalam kepada perubahan tingkah laku, sehingga sifat serakah terhadap harta tidak lenyap dari hati dan kembali menumpuk harta dengan jalan yang batil (akl amwal al-nas bi al-batil).
Sebab itulah, dalam sebuah sistem ekonomi yang berdasarkan kepada nilai-nilai Islam, kesadaran untuk membayar zakat menjadi tidak membawa kesan apapun jika tidak ada mekanisme pengumpulan zakat yang efisien dan tidak terorganisir dengan rapi. Demikian pula, manajemen zakat yang bagus juga tidak cukup, kalau tidak tumbuh kesadaran untuk menyucikan hati dari perilaku mencari harta dengan cara yang haram, serakah dan tidak pernah merasa cukup terhadap harta benda. Wallahu a’lam bi al-sawab.
* Dr. Hafas Furqani, Direktur CENTRIEFP (Center for Training & Research in Islamic Economics, Finance and Public Policy), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: hafasf@gmail.com (Sumber Serambinews.com)

BAGIKAN

KOMENTAR