Membeludaknya Jamaah Pengajian Balee Al-Ihsan Pango, Ini Pesan Tgk. Nurkhalis Mukhtar

0

BANDA ACEH I LA– Seseorang dalam beribadah sangat ditentukan oleh faktor niat dan pentingnya mengelola niat sesuai dengan tuntunan syariat dalam realisasi berbagai bentuk kegiatan yang positif dan bernilai ibadah.

Demikian yang diantara paparan yang disampaikan Dr. Tgk. Nurkhalis Mukhtar, Lc, MA alumni Timur Tengah yang juga dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh dalam pengajian rutin Jum’atan di Balee al-Ihsan Pago, Kota Banda Aceh,Kamis,(3/10/2019).

Ulama muda yang aktif dan giat berdakwah dan kajian Islamnya mengutip sebuah hadist pertama dalam Kitab Hadist karangan Imam Nawawi lengkap perawinya yang diriwayatkan oleh dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang dengan bunyi hadistnya:

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya (diterima dan mendapatkan pahala). Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” 

Doktor Nurkhalis menjelaskan niat itu sangat urgen dalam melahirkan pahala, satu pekerjaan atau amaliah akan menghasilkan banyak pahala tergantung niatnya, seperti halnya jamaah yang hadir ke Majelis Pengajian Balee Al-Ihsan Pago dengan niat mencari ilmu, ta’rufan dan silaturahmi serta bermacam niat lainnya, tentunya multi pahala juga akan diraih jamaah.

“Amaliah mubah saja dengan bermacam niatnya melahirkan banyak pahala, maka hadirkan multi niat dalam menghadiri majelis ilmu dan kegiatan lainnya,” lanjutnya.

Intelektual muda kelahiran negeri Abdya menyampaikan syarahan dan kupasannya dengan bahasa yang mudah dipahami jamaah yang hadir dalam majelis pengajian Al-Ihsan dibawah naungan H. Ihsanuddin Marzuki, SE, MM yang merupakan putra Pidie Jaya sukses di perantauan Kota Banda Aceh bahkan masyarakat Pidie Raya (Pidie-Pidie Jaya) mempercayakannya sebagai salah seorang legislator di “Senanyan” Aceh itu.

“Beribadah itu banyak tingkatannya termasuk beribadah dengan mengharapkan pahala dan surga, tentunya beribadah dengan motivator pahala dan surga tidak dilarang dalam syariat,” sambungnya.

Di samping itu, Doktor lulusan Sudan itu juga menguraikan esensi Al-Ihsan dalam beribadah dengan perspektif muraqabah yang merupakan salah satu pelajaran inti dalam tarekat.

“Al-Ihsan dalam beribadah yang juga dijadikan oleh pemiliknya sebagai nama Balee Pengajian rutin jumatan ini (Balee Al-Ihsan) tentunya tafaulan atau sampena jamaahnya mampu menerapkan nilai al-Ihsan dalam keseharian. Al-Ihsan itu dapat diaplikasikan lewat tiga cara, pertama, seorang beribadah itu dalam hatinya mampu “melihat”-Nya, ini merupakan tingkatan tinggi, , kedua, seorang beribadah apabila tidak mampu “melihat”-Nya, seumpama Allah SWT “mengintai”nya sehingga merasa malu apabila ibadah ada cacat juga malu dengan kemaksiatannya, sebab setiap saat Allah “mengintai”nya, Ketiga, melahirkan Al-Ihsan apabila tidak mampu via dua cara itu bisa dilakukan dengan banyak mengingat mati, bahkan banyak hadist yang menganjurkan kita memperbanyak mengingat maut,” paparnya.

Pantauan liputanaceh.com membeludaknya jamaah pengajian Balee Al-Ihsan Pango yang dihadiri berbagai kalangan muda dan tua, antusiasnya dan hausnya ilmu jamaah yang melahirkan multi pertanyaan dan jawaban Tgk. Nurkhalis Mukhtar mampu disarikan dengan lugas dan tuntas dilengkapi referensi yang mumpuni juga mudah dicerna jamaah.

H. Ihsanuddin Marzuki, SE, MM di Gedung DPRA dalam prosesi acara pelantikan anggota DPR Aceh periode 2019-2024. (HAB/FB)

Salah satu pertanyaan berkaitan dengan pelaksanaan shalat jum’at yang masbuq apakah sang masbuq (orang yang terlambat mengikuti shalat jamaah) shalatnya dua rakaat atau shalat dhuhur.

” Berkaitan dengan makmum masbuq dalam shalat Jumat, setidaknya ada dua pembagian. Pertama, masbuq yang menemui ruku’ rakaat yang kedua dari shalatnya imam. Masbuq jenis ini sederhananya adalah makmum yang menemui satu rakaat bersama imam. Masbuq jenis pertama ini tergolong orang yang menemui rakaat shalat Jumat. Setelah imam salam, ia cukup menambahkan satu rakaat untuk menyempurnakan Jumatnya. Hal ini sebagaimana diungkapkan Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

(وَلَا تُدْرَكُ الْجُمُعَةُ إِلَّا بِرَكْعَةٍ ) لِمَا مَرَّ مِنْ أَنَّهُ يُشْتَرَطُ الْجَمَاعَةُ وَكَوْنُهُمْ أَرْبَعِيْنَ فِيْ جَمِيْعِ الرَّكْعَةِ الْأُوْلَى فَلَوْ أَدْرَكَ الْمَسْبُوْقُ رُكُوْعَ الثَّانِيَةِ وَاسْتَمَرَّ مَعَهُ إِلَى أَنْ يُسَلِّمَ أَتَى بِرَكْعَةٍ بَعْدَ سَلَامِ الْإِمَامِ جَهْرًا وَتَمَّتْ جُمُعَتُهُ
Artinya: “Jumat tidak dapat diraih kecuali dengan satu rakaat, karena keterangan yang lampau bahwa disyaratkan berjamaah dalam pelaksanaanya serta jamaah Jumat berjumlah 40 orang dalam keseluruhan rakaat pertama. Dengan demikian, apabila makmum masbuq menemui ruku’ kedua dan berlanjut mengikuti imam sampai salam, maka ia menambahkan satu rakaat setelah salamnya imam dengan membaca keras dan telah sempurna jumatnya”, paparnya dengan lugas.

Selanjutnya, Tgk. Nurkhalis menambahkan, Kedua, masbuq yang tidak menemui ruku’ rakaat yang kedua dari shalatnya imam. Masbuq jenis kedua ini maksudnya adalah makmum yang sama sekali tidak menemui rakaatnya imam. Mengenai ketentuannya, ia wajib mengikuti jamaah shalat jumat dengan niat Jumat. Setelah salamnya imam, ia wajib menyempurnakannya sebagai shalat dhuhur, maksudnya wajib menambahkan empat rakaat. Saat menyempurnakan rakaatnya, ia tidak perlu niat dhuhur.

Pengajian yang berlangsung pasca shalat Isya berjamaah hingga menjelang pukul 23.00 WIB, jamaah yang didominasi kaum muda dan tua juga tokoh berbagai elemen bahkan H. Ihsanuddin juga hadir dalam halaqah ilmu itu, mengikuti hingga selesai pengajian tersebut dan Tgk. Nurkhalis diakhir pengajiannya memberikan motivasi jamaah untuk terus giat mengikuti majelis ilmu dan terus berbenah menghijrahkan diri mempersiap kehidupan yang lebih baik pasca kematiameraih di hari esok nantinya.