In Memoriam H. Saifannur Cut Hasan

0
Alm H. Saifannur Cut Hasan. (Bupati Bireuen)- Foto: Istimewa

Oleh: Haekal Afifa***

Saya dan Risman Rachman pernah bekerja sebagai Konsultan Politik untuk Pemenangan alm. H. Saifannur Cut Hasan dalam kontestasi Pilkada Bireuen 2017 lalu. Secara professional, kami melakukan banyak hal. Mulai dari planning, mapping, branding, mobilisasi, bahkan sampai ke manajemen kampanye dan pemenangan.

Dalam banyak kesempatan, kami sering berkomunikasi dengan Alm. Di mata kami, beliau sosok yang lugas, berbicara apa adanya, kiban crah meunan beukah.
Penampilannya sederhana dan apa adanya, tidak ekslusif. Jiwa sosialnya terkenal sejak sebelum ia menjabat Bupati Bireuen. Dan yang paling terkesan adalah Insting nya begitu tajam, analisanya sangat kuat.

Suatu hari, saya pernah bertanya kenapa Ia mencalonkan diri sebagai bupati, padahal kehidupannya sudah sangat mapan secara ekonomi.

“Saya sudah pernah merasakan bagaimana pedihnya menjadi pengusaha dibawah rezim yang zalim. Hari ini, saya tidak mau apa yang saya alami dirasakan oleh orang lain. Seorang pengusaha saja bisa dizalimi, bayangkan apa yang akan dihadapi oleh rakyat,” Cerita alm. kepada saya waktu itu. Bagi saya, alm. adalah sosok yang sudah selesai dengan diri sendiri. Dia memang ingin berbuat untuk yang lain.

Dalam kerja pemenangan, hal yang paling sulit kami alami saat itu adalah kala alm. tidak lewat tes kesehatan dengan ‘vonis’ Neurobehaviour. Untuk kendala ini, kami melakukan investigasi mendalam. Ya, akhirnya kami tau bahwa salah satu calon bupati saat itu ikut bermain atas Surat Hasil Kesehatan yang menyatakan alm. tidak lolos tes. Artinya, dia memang di setting untuk tidak lewat tes kesehatan.

Saat itu, tim merasa gundah. Ilham Akbar ST selaku Ketua Relawan Poros Muda waktu itu mampu menenangkan psikologi relawan dan fokus pada pemenangan. Kami tau, penyelenggara khususnya KIP Bireuen waktu tidak bermain dalam kegagalan ini. Saat Sidang Sengketa di Panwaslih, alm. Dinyatakan menang dan bisa kembali ikut tes kesehatan. Walaupun masalah ini berlarut-larut, hingga beliau dinyatakan menang dan bisa kembali ikut kontestasi Pilkada melalui vonis Mahkamah Agung.

Oh ya, soal Politik Uang dalam politik. Pada Pilkada 2017 itu, semua kontestan ikut bermain. Ada dalam bentuk Jilbab, Radio, Semen, Sembako, bahkan sampai “Uang Hasil Sabu” ikut beredar. Saya paham ini, karena memang politik tidak cukup dengan modal Keupiyah dan kemampuan orasi semata. Dan, Alhamdulillah Kami mampu menghadapi Politik uang dari pihak lawan dengan strategi yang jitu dan tepat.

Begitu juga, saat dia dihantam dengan isu “Menjual Ulama” karena photonya yang tidur dipangkuan Abu Tumin beredar dan diframing oleh pihak lawan. Kami bergerak cepat untuk meng-counter framing ini, hingga akhirnya Abu Tumin pun menjelaskan dan mengakui bahwa H. Saifannur adalah keluarganya (cucunya).

Alm. Sangat kuat dalam menghadapi masalah. Dia begitu tenang, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Beliau suka berdiskusi, apalagi soal sejarah dan masa lalu. Rumahnya selalu terbuka untuk umum, bahkan banyak orang yang masuk ke rumahnya karena mengira Mesjid. Namun, ia tetap memberi tempat untuk shalat.

Hari ini, sosok sederhana ini sudah pergi. Abu Tumin mengimami shalat jenazahnya. Bireuen berhutang banyak jasa kepadanya. Dia adalah Bapak Pembangunan untuk Bireuen, sejak daerah ini di mekarkan sebagai kabupaten baru pada tahun 1999. Selamat Jalan H. Saifannur. Insyaa Allah, beliau akan mendapat tempat terbaik disisi Allah. Dan, semoga Allah memberikan ketabahan dan kesabaran untuk Keluarga. Amin.

***Haekal Afifa, Penikmat Kopi Sanger Warga Kota Banda Aceh