Menebar Ukhuwah dalam Secangkir Kopi Awal Tahun

0
30

WAKTU itu tidak pernah berhenti, terus berotasi sesuai dengan kodrat-Nya dan sang khalifahpun silih berganti mewarnai dunia ini sebagai insan sosial dengan berinteraksi satu sama lainnya. Setiap hari fenomena terus berubah atau dalam bahasa turas klasik qaidah mantiq menyebutkan al’alam mutaghair, wakullu mutaghair hadist kesimpulannya alam ini berubah.

Salah satunya tanpa terasa kita sekarang telah berada diawal masa tahun yang berbeda dengan sebelumnya. Kita dituntut untuk meraih hari ini lebih baik dari kemarin dan esok lebih baik dari hari ini. Tentunya itulah insan yang beruntung, termasuk kitakah?

Prosesi interaksi dilakoni dengan berbagai jenjang. Agama menganjurkan kita untuk berteman dengan orang baik dan dilarang berkawan dengan orang tidak baik (orang jahat perangainya) Tentu saja ini sesuai dengan perumpamaan kawan yang baik dan teman duduk yang jahat perangainya seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Pernyataan ini sesuai dengan sebuah hadits shahih berbunyi:

“Permisalan teman yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya, dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu, dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Baginda Rasulullah Saw menerangkan bahwa sahabat dapat memberikan pengaruh positif atau negatif, sesuai dengan kebaikan atau kejelekannya. Beliau menamsilkam (menyerupakan) sahabat  yang baik dengan penjual minyak wangi, engkau akan dapati satu dari tiga perkara sebagaimana tersebut dalam hadits diatas.

Persahabatan didunia ini terutama Aceh bahkan Indonesia tidak terlepas dari duduk kopi bareng (kopdar) atau juga sering disebut ngopi bareng. Bahkan dalam agama kopi sangat bernilai dalam dimensi pahala. Hal ini sebagaimana dipaparkan oleh salah seorang ulama ternama Syekh Abu Hasan Asy-Syadzili.

Secangkir kopi dalam kopi bareng itu merupakan media pemersatu sekaligus penjalin kerukunan. Karena dalam ngopi bareng, terwujudlah perbincangan, berkelakar hingga gojlok-menggojlok alias saling ledek. Pokoknya, kalau punya jamaah halaqah qahwah, nanti pas sudah pulang pasti deh kangen kebersamaan itu.

Dalam “ritual” kopi bareng, tentu tak boleh sembarangan celegak-celeguk minum banyak. Karena hanya secangkir, minumnya pun harus sedikit-sedikit sembari ngobrol. Kalau ada yang minumnya agak banyak, ya digojloki dengan komentar, “Kalau haus, jangan minum kopi, Kang.”

Fenomena kopdar itu bukan hanya di kalangan masyarakat namun ada juga momen seru dalam secangkir kopi ala santri. Ini biasanya hanya untuk ngopi dalam rangka lobi termasuk “lobi” sang klasik alias mutala’ah.

Sebagian ada berdua atau bertiga bersama kalangan santri yang dianggap lebih senior. Acara kopi bareng dengan senior, bisa menjadi kesempatan yang diciptakan untuk berbagi permasalahan diri maupun umum untuk mencari solusi. Kepala asrama dengan kepala komplek, ketua kamar dengan kepala asrama, bahkan santri dengan mustahiqnya bisa ngobrol dan curhat dengan menyertakan kopi, termasuk yang putus cinta. Bahkan ada yunior yang korban haba mameh hingga merajut kembali perjuangan sang jomblowan.

Beragam fenomena terkupas dalam secangkir kopi mencari solusi dan menebarkan program pengembangan SDM, islah diantara yang bermasalah termasuk “serangan” fajar mendelete status hidupnya dan beragam nuansa problematika lainnya termasuk politik juga sang kopi punya cara dan wacananya dalam menggarap secercah harapan.

Beranjak dari itu memang kopi sosok pemersatu dan meraut yang hilang atau dalam bahasa kerennya Kopi itu Kompak, persahabatan dan sehati (KOPI). Marilah diawal masa tahun yang baru ini, kita terus introspeksi diri, muhasabah dan menebarkan senyuman kebaikan dan ukhuwah serta menjauhkan diri dari saling mencela menggapai hari esok yang lebih baik dan berkah. Semoga

***Helmi Abu Bakar El-Langkawi Penggiat literasi asal Dayah MUDI Samalanga dan penikmat kopi BMW Cek Pen Lamkawe
.

BAGIKAN

KOMENTAR