Menerawang Negeri Lhok Ghop dan Syekh Ibrahim yang Menyimpan Seribu Misteri

0

UDARA yang segar dan pemandangan masih asri nan perawannya alam dengan tumbuhan dan aliran air menghiasi wajah daerah pedalaman, bahkan sang surya sore juga sangat bersahabat di negeri Bandar Dua, Pidie Jaya.

Daerah pedalaman Ulee Glee, Bandar Dua, masih kental dengan alam yang perawan dan tidak banyak pergeseran dan pengrusakan alam dan tatanan masyarakat dengan majunya dunia saat ini sudah menggapai era 4.0 ini.

keperawanan negeri itu tentu saja auranya juga memberikan efek terhadap masyarakat sekitar bahkan wajah ayu nan cantik “bidadari” juga masih terlihat di panteu rumah yang sudah permanen dengan wajah berseri dan menyimpan malu dalam senyumannya tersunggihnya.

Dua mata terus menatap panaroma negeri itu, untaian zikir burung masih sangat merdu dan bersahutan walaupun waktu sudah menunjukkan senja yang mengingatkan kita akan kematian dan limit rotasi waktu.

Salah satu tempat yang mungkin bernbeda dan ada nilai relegi sera magicnya Lhok Ghop. Kawasan ini merupakan tempat “makhluk khusus” beribadah dan bermunajah kepada sang pencipta alam ini.

Masyarakat Ulee Glee saat turun ke sawah mereka menjadikan negeri Lhok Ghop tempat washilah dan bermunajat mendoakan kebaikan dan perbaikan juga disertai dengan kenduri bersama.

Lhok Ghop merupakan daerah pintu aliran air yang dipenuhi bebatuan yang besar bahkan kini sudah ada masyarakat yang mencoba “mengotori” kesakralan dan magic dengan tamasyanya berhura-hura. Aliran air Batee Iliek juga punya hubungan dengan Lhok Ghop.

Memang kawasan Ulee Glee masih banyak makhluk “asing” sebagian masyarakat menyebutnya orang saleh atau lebih kentalnya sang “Waliyullah”.

Waktu merupakan permata yang tidak boleh disia-siakan, mencoba memfaatkan permata itu untuk menggali sedikit rahasia dan mutiara yang tersimpan di negeri Ulee Glee pedalaman dari masyarakat sekitar, salah seorang sang “waliyullah” yang telah lama hilang dalam kehidupan kasat mata masyarakat pedalaman mereka menyebutnya Syekh Ibrahim.

Sang Syekh rutin beribadah di tempat sunyi dan lebih senang beruzlah di sekitar kawasan Lhok Ghop, pernah suatu hari saat ada kenduri di tempat keluarga Almarhum Abu Uteun Bayu terlihat sang Syekh Ibrahim bertemu dan berbincang dengan penuh “kemesraan”.

Warga sekitar yang mempunyai ikatan saudara dengan sang “Waliyullah” itu mencoba untuk bertemu dengan beliau, tiba-tiba hilang jejak dalam pandangan kasat mata para warga setempat.

Walaupun bagaimanapun perubahan zaman yang pasti sang orang saleh (waliyullah) itu mereka masih ada, namun karena diri kita sendiri dan berkaratnya qalbu kita memyebabkan jauh dari mereka.

Memang kawasan Ulee Glee, Samalanga dan Jeunib masih banyak makhluk asing itu mendoakan dan bermunajah untuk kita, bahkan mereka terkadang kesehariannya dengan pakaian dan penampilan aneh juga mengitari tempat orang banyak atau pasar dan sejenisnya.

Manusia terpilih atau dalam bahasa lain orang saleh dan lebih khasnya “waliyullah” mereka merupakan sebagai paku negeri ini. Mereka itu mempunyai tugas dan wilayah tersendiri dengan tingkat dan hirarki yang berjenjang.

Dunia tanpa paku pasti akan lain ceritanya, para waliyullah itu merupakan “pengganti” nabi dan Rasul di dunia ini. Wali itu bermacam titelnya ada Abdal, Ghaust dan lainnya. Mereka ada hanya dikenal oleh Allah SWT dan makhluk tidak mengenalnya.

Kita mengetahui bahwa Aceh dari dulu terkenal dengan negeri sang Waliyullah termasuk kawasan Ulee Glee, Samalanga dan Jeunib serta kawasan sekitarnya. Ulee Glee sejak dulu lahir para ulama besar dan cendekiawan serta tokoh agamawan serta masyarakat.

Mari kita rawat bersama negeri ini dalam bingkai warisan endatu terlebih mereka juga para ulama da waliyullah, walaupun jasad mereka telah tiada namun jiwa dan ruhaniahnya masih menyapa kita dan hadir dalam wujudnya. Sekali lagi jangan abaikan generasi penerus dalam awan kejahilan dan didik serta ajaklah penerus estafet termasuk kita untuk selalu berjihad meraih maghfirah dan sa’adah daaraini (kebahagiaan dua negeri). Amin.

****Helmi Abu Bakar el-langkawi, Penggiat Masalah Sufi dan Keagamaan serta Penikmat Kopi BMW Cek Pen Lamkawe