Menguak Sejarah Gampong Blang Dalam Ulee Glee dan Ketokohannya

0
399

PIDIE JAYA I LA-Salah satu daerah dekat perbatasan Bireun tepatnya Bandar Dua, Ulee Glee, terdapat satu gampong yang telah memberikan warna kemajuan lewat andil beberapa tokoh yang dilahirkan dari gampong yang dikenal dengan nama Blang Dalam.

Tidak banyak yang mengetahuinya asal usul negeri tersebut terlebih generasi zaman now. Penulis mencoba menggaji dari tokoh masyarakat dan agamawan setempat untuk mengambarkan sepintas negeri itu dalam literasi sederhana.

Dulunya, ada tujuh orang yang di komandoi Nek Krueng Baro dkk (Para orang tua dulunya juga tidak mengetahui nama aslinya hanya makruf dengan nama wilayah atau tempat). Awalnya mereka berusaha membuka lahan di kawasan Buket Teungeuh yang kini berada di kawasan kecamatan Jangka Buya yang juga tetangga Blang Dalam , setelah sekian lama berusaha, namun hasilnya tidak memuaskan dan lahannya tidak produktif.

Akhirnya mereka mengambil inisiatif untuk hijrah dan memutuskan membuka lahan baru di kawasan perbukitan Glee Cot Panah dan sekitarnya . (Teungku Syiek Cot Panah merupakan ulama dulu yang berjihad melawan penjajah yang di makamkan di kawasan perbukitan tersebut yang kini didirikan Dayah Tgk. Marhaban).

Tentunya hasil yang didapatkan bisa bertahan hidup dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Merekapun lama menetap dan berkembang hingga ada 14 kepala keluarga di gampong tersebut Hinga melantik kepala gampong yang di istilahkan Petua Ibrahim yang beristri kan Nek Niah.

Waktu terus berotasi dan negeri pun terus berusaha, Walhasil mereka pun mencoba untuk mengajak orang lain ikut tinggal dan hidup bersama 14 kepala keluarga tersebut. Ternyata hingga beberapa tahun membina dan memajukan gampong yang kini dengan Blang Dalam. Perkembangan selanjutnya setelah ada 20 keluarga masyarakat bersepakat untuk melantik seorang Teungku Imum Meunasah.

Lantas orang memnaggil dengan Blang Dalam, apa asbabul wurud (asal usulnya)? Asal usul Blang Dalam dua versi, pertama, Persawahan di gampong tersebut sangat dalam, hampir semeter kedalamnya, maka kala orang mengisyaratkan ke masyarakat yang persawahannya sangat dalam tersebut di namakan Blang Dalam.

Kedua, dataran yang di diami gampong tersebut bertebaran sawah yang melebihi hampir lebih separuh dataran gampong tersebut hingga di namakan Blang dalam gampong atau Blang Dalam.

Kebanyakan pendatang Gampong Blang Dalam berasal dari Kiran sekarang, seperti garis keturunan M. Yunus dan beberapa lainnya. Kini gampong telah banyak perubahan dan tidak sedikit tokoh lintas komunitas lahir dari negeri tersebut baik politikus, ulama, birokrat, pendidikan dan lainnya yang lahir dari gampong yang terletak di pinggir jalan Banda Aceh -Medan.

Para pecinta kuliner atau foodies pasti tidak dapat melupakan nama gampong tersebut yang kini di abadikan warung makan terkenal dengan nama “RM Blang Dalam” yang juga dikelola putra kelahiran gampong Blada (Blang Dalam).

Kita berharap banyak tokoh dan cerdik pandai yang orang tuanya atau keturunannya asal Blang Dalam setidaknya mampu memberikan secercah perubahan dan kebaikan serta kemajuan demi generasi penerus baik di bidang pendidikan, agama, ekonomi dan lainnya bukan hanya untuk kalangan sendiri juga Pidie Jaya dan Aceh bahkan lebih dari itu. Bukankah sebaik-baik manusia itu yang bermanfaat untuk orang lain. Lantas apa kontribusi kita baik sebagai pejabat, politikus, bisnisman, guru, tokoh agama maupun lainnya yang telah kita persembahkan meraih titel “amfa’linnas” sebagai sebaik-baik manusia?

Sekali lagi, jabatan dan kekayaan dan ilmu hanyalah titipan amanah dan mari kita mencoba bagaimana itu kita warnai demi kemajuan dan kebaikan bersama terutama dengan kekuatan pemuda yang berintegritas kelimuaannya baik imtak dan iptek menuju hari esok yang lebih baik dalam ridha-Nya. Semoga…!!!

***Helmi Abu Bakar El-Langkawi, Pecinta Kuliner Kopi BMW Cek Pen Lamkawe asal Pidie Jaya

BAGIKAN

KOMENTAR