Mewaspadai Penyebaran Covid-19 Via Pemudik (I)

0

VIRUS Corona menjadi momok yang sangat menakutkan beberapa bulan terakhir ini,. Bagaikan hantu makhluk tak kasat mata ini berhasil meneror manusia seantero dunia, tidak terkecuali Indonesia hingga negeri nol kilometer ujung barat negeri seribu pulau.

Secepat kereta api listrik made in China kini terkonfirmasi positif Covid-19 di Dunia 787.631 Kasus, Indonesia mencapai angka 1.528 dan 136 orang dinyatakan meninggal dunia dan 81 sembuh. Di Provinsi Aceh 5 orang Positif, Orang Dalam Pengawasan (ODP) meningkat dratis menjadi 797 orang dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) berjumlah 44 orang dan 2 orang dinyatakan meninggal (data pertanggal 31/3).

Fenomena pulang kampung (Woe Gampong) massal Rakyat Aceh dari perantauan baik Domestik maupun Luar Negeri menimbulkan kepanikan tersendiri di kalangan warga masyarakat Aceh. Keresahan ini wajar mengingat pola penyebaran Covid-19 yang menyebar seluruh dunia melalui orang yang berkunjung/pulang dari kawasan zona merah ( daerah terkonfirmasi positive Corona) sehingga Covid-19 ini ditetapkan WHO sebagai Pandemic.

Sedari awal desakan para pihak untuk dilakukan Lockdown (Karantina Wilayah) bertujuan menutup semua akses masuk Corona baik udara, laut dan udara ke Bumi Iskandar Muda. Kini Nasi sudah menjadi bubur, melakukan lockdown suatu keniscayaan.

Tidak perlu pembenaran atas sikap yang telah diambil para pemangku kebijakan, tidak ada yang perlu disalahkan. Sekarang saatnya bubur yang sudah ada kita saji dengan menambahkan susu, gula merah ataupun sirup untuk kita nikmati bersama.

Apakah salah saudara kita berbondong-bondong pulang kampung? Tentunya tidak, di tengah kekacauan tatanan dunia saat ini kalau bukan pulang ke tanah kelahirannya mereka harus ke mana? Ingatlah Orang tua, istri /suami, anak-anak dan sanak famili mereka ada di sini di desa (Gampong)  ini.

Si anak rantau bukanlah musuh yang harus di basmi, mereka darah kita. Hilangkan stigma negatif yang dilekatkan pada wajah mereka, perlakukan mereka secara manusiawi jangan sekali-kali mengusir mereka dari kampung halaman ataupun rumah keluarganya. Jangan pernah memperlakukan mereka seperti orang jaman dulu mempelakukan penyandang peunyaket budok (lepra).

Kita hari ini hidup di era teknologi 4.0 Pengetahuan dan Kemanusian harus kita kedepankan dalam penanganan pencegahan pengendalian Covid-19.

Nah ini saatnya kita meracik formula memutus mata rantai penyebaran virus Corona via ureung woe u gampong (orang pulang ke desa), memadukan protokol nasional dengan kearifan lokal (local wisdom) dalam tatanan sosial masyarakat Aceh, dengan racikan melibatkan semua sumber daya yang ada akan melahirkan formasi jitu melawan memukul mundur Corona (Turn Back Corona).

Ada beberapa cara prosedur atau mekanisme  yang bisa  dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 berbasis Desa Tangguh Bencana / Gampong Tanggap Covid. Apa saja langkahnya? Bersambung

Pidie Raya, 31 Maret 2020
*** Fakhrurrazi, S.ST, M.Si, Alumni Magister Ilmu Kebencanaan Unsyiah dan Praktisi Bidang Kesehatan serta Pemerhati Sosial Masyarakat.