Mugoe dan Bercocok Tanam, Sunnah Nabi dan Warisan Endatu Penuh Keberkahan

0
63

BERCOCOK tanam merupakan salah satu pekerjaan yang paling utama diantara sekian banyaknya aktifitas yang dipandang terbaik dalam perspektif Islam. Bercocok tanam termasuk diantara usaha untuk memakmurkan alam menghidupkan sunah. Benarkah demikian?

Kita mencoba untuk menganalisa pada sirah nabawiyah kala membangun peradaban yang kuat yang dapat mengalahkan Bizantium dan Roma ternyata rasullulah memiliki kunci yg sangat dasyat yaitu menggabungkan kaum niagawan dari muhajirin dg kaum fallahin (petani) dari kaum anshar.

Keberadaan pertanian (bercocok tanam) menjadi landasan utama rasululah dlm membangun sebuah pranata sosial kemasyarakan dan politik. Semakin yakinlah bahwasannya energi tauhid dengan aplikasi dzikir bersama alam mengajak pepohonan selalu mengagungkan Allah dengan beristiqfar ,tahlil ,tahmid takbir dan bacaan lainnya termasuk al-Quran.

Lantunan zikir itu akan semakin menyejahterakan pepohonan dan hasilnya berlimpah untuk kita. maka dengan bismillah ruh spiritualitas ini harus kita sosialisasikan dg serius kepada petani kita yang semakin tertindas dan ketinggian dari kepedulian dan perhatian pemerintah.

Beranjak dari paparan diatas, memperkuat argumen di atas, Rasulullah saw., juga bersabda dalam hadisnya: “Tidak seorang Muslim pun yang menanam tanaman atau menaburkan benih, kemudian dimakan oleh burung atau manusia, melainkan dia itu baginya merupakan sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bukan hanya itu untuk menyokong hadis di atas, Baginda Nabi juga berkata pada kesempatan lain, berbunyi: “Tidak seorang Muslim pun yang menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan merupakan sedekah baginya, dan apa yang dicuri juga merupakan sedekah baginya dan tidak juga dikurangi oleh seseorang melainkan dia itu merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat”. (HR. Muslim).

Apa yang kita utarakan diatas hanyalah secuil fenomena yang terjadi didunia pertanian kita. Berdasarkan penjelasan di atas, memang para endatu kita yang mewariskan bercocok tanam (meugoe) kepada anak cucunya telah lebih dahulu memahami penjelasan Baginda Nabi. Ini menunjukkan adat dan istiadat yang telah dikerjakan para endatu terutama dengan mugoe, nilai syariat telah mendarah daging dalam jiwa mereka.

Marilah kita rawat peninggalan endatu yang juga sunnah nabi, kalau kita sering dengan semangat menggebu, menyebut perkawinan, malam jum’at bersama istri dan lainnya sebagai sunnah nabi, lantas kenapa mugoe (bercocok tanam) kita alpakan dan singkirkan begitu saja, waraskah kita?