Musibah dan Penyakit Turun Sebanyak 320.000 Akhir Rabu Bulan Safar, Benarkah?

0
153

TANPA terasa umat Islam saat ini telah memasuki dan menjelang akhir bulan yang kedua dalam kelender Islam yakni Safar. Allah SWT menjadikan setiap bulan sesuai dengan wajah tasmiah (alasan penamaan).

Umpamanya bulan yang diharamkan untuk berperang dinamai dengan bulan Muharam, bulan saat pepohonan berduri dikenal dengan Rajab, begitu juga dengan Safar. Wajah tasmiah Safar disebabkan pada bulan itu orang Arab meninggalkan rumah-rumah mereka dalam keadaan kosong (kitab Hawasyi Syarwani, jld 3, hal 371).

Allah SWT menjadikan Safar juga sebagai salah satu bulan yang mulia atau yang lebih dikenal dengan nama Safarul khairi. Namun dalam bulan Safar terdapat satu hari yang dikenal oleh sebagaian masyarakat dengan hari pembawa sial tepatnya hari Rabu. Masyarakat Aceh menyebutnya dengan Rabu abeh (Rabu terakhir bulan Safar), di Jawa populer dengan Rabu wekasan dan masih banyak di tempat lainnya.

Dalam anggapan masyarakat kesialan bulan Safar akan semakin meningkat jika ketemu dengan Rabu terakhir di bulan yang sama. Sebab, berdasarkan sebuah referensi klasik disebutkan bahwa Allah telah menurunkan 3333 jenis penyakit pada hari Rabu bulan Safar.

Akibatnya sehingga jika keduanya bertemu maka tingkat dan efek negative (kesialan) yang menyebar pada waktu itu semakin tinggi pula. Itulah sebabnya tingkat kewaspadaan terhadap hari Rabu bulan Safar juga lebih ekstra.

Hawash Abdullah (1982) dalam bukunya Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-Tokohnya di Nusantara menulis bahwa dalam kitab-kitab Islam memang banyak yang menyebut adanya ‘bala’ yang diturunkan pada bulan Safar. Misalnya, Syekh Muhammad bin Ismail Daud al-Fathani yang menyalin perkataan ulama menyatakan dalam kitabnya Al-Bahjatul Mardhiyah, tentang turunnya bala di bulan Safar.

Tersebut pula dalam kitab Al-Jawahir, diturunkan bala pada tiap-tiap tahun sebanyak 320.000 bala dan sekalian pada hari Rabu yang terakhir pada bulan Safar, maka hari itu terlebih payah daripada setahun”. Tulisan tentang bala yang diturunkan pada bulan Safar ini juga bisa ditemukan dalam kitab Jam’ul Fawaaid, tulisan Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani.

Dalam kitab yang lain ada pula disebutkan bahwa Allah telah menurunkan 3333 jenis penyakit pada hari Rabu bulan Safar, sehingga jika keduanya bertemu maka tingkat dan efek negatif (kesialan) yang menyebar pada waktu itu semakin tinggi pula. Itulah sebabnya tingkat kewaspadaan terhadap hari Rabu bulan Safar juga lebih ekstra.

Melihat fenomena itu, sudah menjadi tradisi dan semacam kebiasaan bagi sebagian masyarakat Indonesia untuk melakukan hal-hal tertentu untuk menghindari kesialan pada hari itu, misalnya dengan memperbanyak ibadah dalam berbagai bentuk, baik doa, zikir dan sedekah serta lainnya. Mari kita terus meningkat ibadah dan terus intropeksi diri. Walllahu’Alam Bisshawab..

***Helmi Abu Bakar El-Langkawi Penggiat Literasi Asal dayah MUDI Masjid Raya Samalanga