Oknum Debt Colector Diduga Main Tarik Paksa Kendaraan Konsumen, Ini Tanggapan FIF

0
121

Banda Aceh | LA – Perusahaan pembiayaan kredit kendaraan bermotor PT FIF Multi Finance Banda Aceh menyatakan, pihaknya tidak memerintahkan dan tidak membenarkan petugas debt colector di perusahaan tersebut bersikap tidak santun atau bergaya premanisme terhadap konsumen terkait tunggakan atau penitipan kendaraan bermotor akibat kredit bermasalah.

Hal itu dinyatakan pihak FIF Banda Aceh yang diwakili Kepala Bagian Kredit Bermasalah, Apriansyah, kepada awak media terkait persoalan yang melibatkan oknum debt colector FIF yang diduga berusaha mencoba mengangkut paksa motor milik konsumen di Banda Aceh sepekan lalu.

Baca : Heboh,! Oknum Debt Colector FIF di Aceh Diduga Tarik Motor Konsumen Secara Paksa

“Kita tidak perintahkan itu, mungkin itu hanya oknum,” ujar Apriansyah kepada awak media di ruang kerjanya, Senin 4 Agustus 2017.

Saat ditanyai soal siapa yang bertanggungjawab atas perbuatan oknum debt collector tersebut, Apri menjelaskan bahwa perusahaan bertanggungjawab soal itu. “Itu tanggungjawab perusahaan, mereka akan ditindak,” tegas Apriansyah.

Pada kesempatan itu secara pribadi, Apriansyah juga mengucapkan permohonan maaf di depan awak media yang ada di ruangannya atas perilaku oknum debt collector yang diduga mencoba upaya penarikan paksa terhadap kendaraan bermotor milik salah satu konsumen mereka di Banda Aceh dengan penuh arogansi dan sikap premanisme.

“Kami mohon maaf, ” ucap Apri singkat.

Apri juga mengaku, pihaknya selalu menyelesaikan soal kredit bermasalah dengan baik kepada konsumen. Dia kembali menyampaikan jika terdapat petugas yang berprilaku tidak santun atau bergaya premanisme, hal itu merupakan oknum yang bertindak secara pribadi.

Kedatangan awak media ke kantor FIF Banda Aceh dengan tujuan konfirmasi berita ke pihak perusahaan saat itu, sempat membuat suasana menjadi tegang, karena aksi saling larang mendokumentasikan atau merekam gambar antara pihak perusahaan dan pihak media. Bahkan juga sempat terjadi aksi saling rekam, namun situasi kembali tenang beberapa saat kemudian.

Dalam kesempatan itu juga hadir RH, salah seorang konsumen yang mengalami upaya penarikan kendaraan secara paksa oleh oknum debt colector yang mengaku petugas FIF.

“Mereka masuk rumah tanpa izin dan perlakukan kami seperti kriminal, mau main angkut saja,” keluh RH.

RH sangat menyesalkan kejadian tersebut dan menuntut agar sistem leasing di Aceh dirubah sesuai dengan adat dan budaya masyarakat Aceh.

“Kami akan pertanyakan ini ke Ketua DPR Aceh, DPRK dan Gubernur, apakah sistem kerja petugas leasing seperti ini cocok diterapkan di Aceh sebagai Nanggroe Meutuah dan Syariat? Kami tuntut sistem dirubah,” ungkap RH.

Dia mengaku sebenarnya tidak ingin membesar-besarkan persoalan tersebut, kecuali demi kepentingan masyarakat. “Kami yang sedikit mengerti soal ini saja mengalami seperti ini, lalu bagaimana dengan masyarakat awam yang lemah, siapa bela mereka?” sebut RH

Turut hadir bersama awak media mendampingi RH seorang Advokad dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Zubir SH, yang menurutnya pihak leasing tidak dibenarkan menarik secara paksa kendaraan konsumen dengan alasan apapun kecuali atas persetujuan pengadilan.

“Pihak Leasing tidak boleh menarik kendaraan bermotor konsumen karena tunggakan, apalagi ada oknum debt collector yang bergaya premanisme, itu melanggar Undang – Undang,” kata Zubir, Selasa 5 Agustus 2017.

Zubir menyarankan kepada konsumen agar mempertahankan barang miliknya jika ditemukan perilaku menyimpang oknum debt collector perusahaan manapun.

“Jika para penagih hutang berusaha merampas barang cicilan anda, tolak dan pertahankan barang tetap ditangan anda. Itu tindakan kejahatan, silahkan lapor polisi,” terangnya.(R/H)

BAGIKAN

KOMENTAR