Oknum Debt Collector ADIRA Diduga Lecehkan Wartawan, Ketua FPII Aceh Minta Penjelasan

0
205
Ketua Setwil Forum Pers Independen Indonesia (FPII) Provinsi Aceh, Ronny Hariyanto. Foto: IST

Liputanaceh.com | Ketua Forum Pers Independen Indonesia (FPII) Provinsi Aceh, Rony Arianto mengaku sangat menyesalkan sikap arogansi yang ditunjukkan salah satu oknum Debt Collector di Aceh Tamiang terhadap salah seorang wartawan beberapa waktu lalu.

Pasalnya ulah oknum Debt Collector tersebut dianggap telah melecehkan profesi wartawan yang bertugas dengan cara melemparkan kartu identitas pers serta mengeluarkan kata-kata kotor terhadap wartawan, yang tugasnya dilindungi undang-undang.

“Oknum Debt Collector Lesing ADIRA Finance di Aceh Tamiang itu melempar kartu identitas Wartawan ke tanah, sambil mengatakan apa itu Pers, pesong, saat kedua berada di Mapolsek untuk menyelesaikan sangkut paut keduanya, sebab wartawan tersebut juga nasabahnya,” ungkap Rony kepada LIPUTANACEH.COM, Pada Senin 20 November 2017.

Rony bahkan menyebut, perlakuan sikap oknum Debt Collector itu kepada wartawan merupakan sebuah bentuk pelanggaran dan melawan hukum. Ketua FPII Aceh ini juga meminta penjelasan dari pihak ADIRA terkait persoalan tidak beradab itu.

“Sebaiknya Pihak ADIRA secepatnya memberikan penjelasan kepada kita terkait persoalan tersebut ke awak media. Karena mereka harus menghargai kerja jurnalis dalam mengemban tugasnya melayani publik dalam hal penyampaian informasi,” tegasnya.

Ditambahkan dia, semua pihak wajib menghargai pekerja pers termasuk pihak leasing. Lesing lanjut dia, wajib menghormati harkat dan martabat masyarakat secara keseluruhan dan menyesuaikan sistem pendekatan kepada konsumen di Aceh dengan cara-cara yang baik. Begitu juga awak media, yang dimintanya untuk bersikap netral dan berimbang.

“Media juga diminta berimbang dalam pemberitaan, jangan sampai mengadili hingga merugikan salah satu pihak yang terlibat masalah. Jika ditemukan sikap petugas leasing diluar ketentuan norma yang ada, maka itu merupakan pelanggaran berat bahkan kemungkinan mengarah pada tindakan melanggar hukum dan harus pidana,” pungkasnya. (Hidayat Pulo Aceh)

BAGIKAN

KOMENTAR