Opini : Menjadi Wartawan itu Gampang, Tapi Bukan Pekerjaan Gampangan

0
46

Menekuni profesi sebagai wartawan jangan timbul penyesalan. Menjadi wartawan seperti wisatawan yang asik menikmati panorama alam yang indah.

Bedanya wartawan berwisata dari satu peristiwa dan fakta kepada peristiwa dan fakta lain secara mengasikkan.
Sesesorang terlanjur mencintai profesi kewartawanan timbul penyesalan mengapa tidak sejak sekarang menjadi wartawan.

Menikmati kehidupan tidak monoton. Bisa bertemu siapa saja mulai dari tukang sirih sampai presiden.
Wartawan senior, AA Kunto A, Redaktur Majalah Marketing, Nara sumber di Palatihan–pelatihan jurnalistik dan penulis buku tentang Jurnalistik mengatakan,

Sumpah ! menjadi wartawan itu gampang. Siapa pun bisa jadi wartawan. Profesi ini , bukan warisan, bukan penyakit keturunan. Pun bukan untuk mereka yang mengantongi indeks prestasi akademik nyaris sempurna.

Menjadi wartawan tidak perlu menunggu jadi sarjana. Bukan gelar yang jadi ukuran kemampuan seseorang menjadi wartawan profesional. Memang baik berpendidikan tinggi, namun jauh lebih baik berwawasan luas dan berpengetahuan tinggi, papar AA Kunto.

Ternyata AA Kunto pun sudah membuktikannya, betapa mudahnya proses menjadi wartawan. “ Gampang jadi wartawan, meski pekerjaan wartawan bukan pekerjaan gampangan. Jadi yang gampang itu tahapan menjadi wartawannya. Selama menjalani profesi ini, itu yang tidak gampang”, kata AA Kunto yang memulai karier wartawan sejak duduk di bangku kelas 2 SMA Kolese de Britto, sebagai reporter rubrik “Gema” Harian Bernas, Jogja.

Profesi seorang wartawan bertujuan mengumpulkan dan menulis berita agar dapat dimuat didalam surat kabar atau disiarkan melalui media elektronik.

Profesi ini dianggap unik. Mengapa demikian?. Karena menyatunya cara kerja seorang intelektual dengan pekerja lapangan, antara pekerjaan berpikir dengan pekerjaan tangan, antara otak dan otot.

Seorang wartawan harus turun ke lapanagan untuk mendapatkan fakta yang akurat, mengendus sumber fakta paling utama, primer. Berbelanja sendiri tidak boleh diwakilkan dan memasak sendiri ( Bahan-bahan berita diolah sendiri) untuk dikirim ke media cetak (koran, tabloid atau majalah) atau media elektronik .

Meskipun begitu ada dua pandangan yang saling bertentangan. Satu pihak menganggap wartawan sebagai pekerjaan tidak menarik, tidak terhormat dan tidak menghasilkan cukup banyak uang, sehingga ada secara sinis mengatakan, “ Seorang wartawan bukanlah seorang pria yang menarik untuk diambil menjadi menantu”.

Tetapi ada pula pihak yang menganggap, justru sebagai suatu profesi yang sangat menarik, menantang dan sangat terhormat karena seorang wartawan yang bertanggungjawab senantiasa mengutamakan kepentingan orang banyak dalam melaksanakan tugasnya.

Sekarang berada di pihak manakah anda ? . Wartawan disebut juga agen pembaharuan, sebagai jembatan, media, yang menghubungkan antara fakta dan pembaca melalui pesan yang diperoleh dari sekumpulan fakta kehadapan sidang pembaca. Pesannya harus utuh, tidak ditambah, tidak dikurangi, tidak dimanipulasi.

Terlepas suka atau tidak suka, di era informasi kini dengan tranformasi informasi yang begitu cepat disajikan media cetak, elektronik dan media-media online yang tumbuh bak jamur di musim hujan, setiap jam dan bahkan setiap menit diburu pembaca yang ingin tahu apa yang terjadi di dunia, didalam negeri, di luar negeri, juga dikampung halamannya bagi yang merantau.

Informasi yang tersaji berbentuk berita, opini, dan lainnya bisa kita nikmati karena adanya profesi wartawan. Itu mungkin fakta keseharian yang tak terbantahkan. Allahu’alam. (Kasmanudin, wartawan di Banda Aceh)

BAGIKAN

KOMENTAR