Pasca Pemilu Myanmar, Apakah Nasib Warga Rohingya Berubah?

0
316

315092_anak-pengungsi-rohingya_663_382

ACEH UTARA – Pemungutan suara dalam pemilhan umum Myanmar, Minggu (8/11/2015), merupakan pemilihan umum pertama yang terbuka di negara itu dalam 25 tahun belakangan.

Bagaimanapun, warga etnis Rohingnya yang beragama Islam tidak memiliki hak untuk memberikan suara.
Rasyid, 43 tahun, adalah salah satunya. Meski jauh dari tanah kelahirannya, dia masih mengikuti berita mengenai Myanmar dari tempat tinggalnya di sebuah barak di Desa Blang Adoe, Kuta Makmur, Aceh Utara.

Dia pun antusias bercerita mengenai pemilu Myanmar yang baru digelar.

Sebagai warga etnis Rohingnya, yang tidak memiliki hak suara, Rasyid berharap agar Aung San Suu Kyi dan partai pimpinannya Liga Nasional Demokarsi atau NLD akan menang.

Kendati demikian Rasyid menegaskan tidak ingin kembali ke Myanmar.

“Saya senang di sini, alhamdulillah. Saya suka di sini, aman.”

Status belum jelas

Sebenarnya status Rasyid dan sekitar 130 orang lainnya yang tinggal di sebuah barak di Desa Blang Adoe masih belum terlalu jelas.

Mereka hingga kini belum diberi status sebagai pengungsi dan oleh karena itu tidak bisa mendapatkan pekerjaan atau bersekolah, kata Steve Hamilton dari Organisasi Migrasi Internastional, IOM.

Oleh karenanya untuk saat ini hanya terdapat dua pilihan terlepas apapun hasil pemilu, yakni mereka tinggal di Indonesia dalam jangka waktu panjang atau pindah ke tempat lain, kata Steve.

Sementara peneliti etnis Rohingnya dari Universitas Teknologi Mara Malaysia, Mohiyuddin Sulaiman, berpendapat pemilu Myanmar dapat berpengaruh terhadap warga etnis Rohingnya bila memang berlangsung demokratis.

“Lebih gampang berunding dengan pemerintah yang dipilih secara demokratis,” jelas Mohiyuddin.

Pemilu Myanmar tahun ini diikuti oleh lebih dari 90 partai dengan 30 juta orang terdaftar untuk memilih namun warga etnis Rohingya tidak boleh memilih karena pemerintah Myanmar tidak menganggap mereka sebagai warga negara. (kompas.com)

BAGIKAN

KOMENTAR