Pelemahan Rupiah Terjadi di Level Rp14.286 per Dolar AS

0

Jakarta | LA – Pada perdagangan pasar spot Jumat (14/6) pagi, rupiah kembali melemah. Pelemahan tersebut membuat rupiah berada di level Rp14.286 per dolar AS. Diketahui rupiah melemah sebanyak 6 poin atau 0,05 persen dari Kamis (13/6) di Rp14.280 per dolar AS.

Tidak hanya rupiah saja, sejumlah mata uang lainya dari beberapa negara di Asia juga berada di zona merah pagi jum’at ini. Ringgit Malaysia misalnya, melemah sebesar 0,05 persen, dolar Hong Kong minus 0,03 persen, dan won Korea Selatan minus 0,03 persen. Namun, sebagian lainnya berada di zona hijau, seperti yuan China yang menguat 0,08 persen, yen Jepang 0,06 persen, baht Thailand 0,02 persen, peso Filipina 0,02 persen, dan dolar Singapura 0,01 persen.

Selain pada negara-negara di Asia, pelemahan juga terjadi pada Dolar Australia melemah 0,15 persen, dolar Kanada minus 0,07 persen, dan euro Eropa minus 0,01 persen. Sementara franc Swiss dan rubel Rusia yang menguat dari dolar AS, masing-masing 0,09 persen dan 0,01 persen. Sedangkan poundsterling Inggris tetap stabil.

Pelemahan tersebut tentunya dipicu oleh beberapa sebab. Di dalam negeri, pelemahan rupiah pagi ini bertepatan dengan akan digelarnya sidang sengketa hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Meski begitu, Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong menilai sentimen tersebut sejatinya tidak begitu mempengaruhi rupiah, meski mata uang Indonesia melemah pagi ini.

“Kalau jadi sentimen khusus sepertinya tidak, cenderung lebih besar pengaruh dari luar,” jelas Lukman Leong, Jumat (14/6).

Lukman menambahkan,pergerakan rupiah hari ini masih terpengaruh oleh dolar AS yang masih kuat, namun sudah mulai menurun perlahan. Pasalnya, ada sentimen ekspektasi pasar yang menginginkan bank sentral AS, The Federal Reserve menurunkan tingkat bunga acuannya pada bulan ini. Ia juga memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.250-14.325 per dolar AS pada hari ini dengan kecenderungan melemah.

Selain itu, pelemahan sejumlah mata uang juga dipicu oleh perang dagang AS-China yang masih terus berlangsung. Meskipun belum ada sentimen baru yang dikeluarkan masing-masing pemerintah kedua negara.

 

Sumber : CNN Indonesia