Pemuda Lamgugob Maju Sebagai Caleg DPRK Banda Aceh

0
244

Liputanaceh.com | Pemuda Lamgugob, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh atas nama Muliadi, S.Ud resmi mendaftarkan diri sebagai Bakal Calon Legeslatif Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh pada pemilihan legeslatif tahun 2019 melalui Partai Amanat Nasional (PAN).

Berkas pendaftaran langsung diterima oleh Sekretaris PAN Kota Banda Aceh, Musriadi Aswad, M.Pd. Sekretaris PAN Banda Aceh mengatakan saatnya tokoh-tokoh muda masuk ke parlemen. PAN sangat mendukung langkah tersebut guna mencapai tujuan partai dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Pemuda bernama Muliadi, S.Ud yang akrab disapa Mulia atau Ady ini merupakan kader Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Banda Aceh. Saat ini dirinya menjabat sebagai Sekretaris Bidang Komunikasi dan Informasi Publik di DPD PAN Kota Banda Aceh.

Muliadi mencalonkan dirinya di daerah pemilihan 3, Kecamatan Syiah Kuala dan Ulee Kareng. Ia merupakan aktivis yang sekarang menjabat sebagai Ketua Yayasan Gebrakan Sahabat Peduli di Banda Aceh.

Saat mendaftar ke kantor DPD PAN Banda Aceh, Muliadi mengatakan tujuannya mencalonkan diri ke DPRK Banda Aceh sebagai penyambung aspirasi masyarakat, selama ini pengalamannya ketika turun langsung ke masyarakat banyak sekali persoalan-persoalan masyarakat terutama warga Kecamatan Syiah Kuala dan Ulee Kareng yang tidak terselesaikan akibat kurang maksimal berjalannya sistem. Terutama bidang Agama, Pendidikan, Sosial dan Olahraga.

“Selama ini banyak persoalan dari masyarakat sampai ke telinga saya dan sangat berat menyuarakannya bila saya tidak berada dalam sistem. Kemudian banyak kreativitas yang tidak terdukung sehingga sering kreativitas di masyarakat seperti pembinaan Seni Baca Al-Qur’an, Bimbingan Belajar Bahasa Gratis, Club Bola Pemuda dan juga pegiat sosial kurang mendapat dukungan,” ungkap Muliadi.

Muliadi tidak berbicara soal ekonomi disebabkan menurutnya, ekonomi akan tertunjang dengan sendirinya jika kreativitas masyarakat dalam hal apapun didukung serta diberdayakan.

“Seperti contoh banyak kreativitas ibu-ibu yang membuat kue khas Aceh. Namun tidak terekspos secara luas disebabkan kurangnya perhatian pada wadah ini. Seharusnya kita bisa dukung dengan membuat sistem yang baik bagaimana mempromosikan produk lokal hingga ke Internasional,” sambungnya. (Hidayat Pulo Aceh)

BAGIKAN

KOMENTAR