Peranan dan Dilema Wanita di Era Globalisasi

0
42

Dunia saat ini di dominasi penduduk lebih banyak kaum wanita ketimbang laki-laki. Melihat fenomena ini, peranan wanita saat ini dalam kancah perkembangan dunia baik dalam dunia pendidikan, politik dan lainnya merupakan sebuah keniscayaan.

Salah satu hal yang harus diluruskan dalam masyarakat bahwa kedudukan dan peranan serta keikutsertaan kaum wanita dalam kancah ilmu pengetahuan bukanlah sebuah bentuk bid’ahyang sering disalah pahami oleh sebagian masyarakat muslim. Apabila kita kaji kembali sejarah Islam baik di bidang politik, pertahanan negara, dan ilmu hadits, maka kita akan melihat banyak wanita teladan yang memiliki andil besar dalam perjuangan dan dakwah Islam. (Fauzi Saleh, 2005).

Khususnya wanita, disamping mereka berperan sebagai bagian dari masyarakat umum lainnya, mereka memiliki peran khusus yang tidak dimiliki oleh kaum pria yaitu peran sebagai isteri bagi suami mereka dan sebagai ibu bagi anak-anak mereka. Wanita merupakan figur inti bagi pendidikan dalam ranah domestik rumah tangganya.

Pendek kata, kaum wanita adalah pemegang kunci sakinah bagi keluarga yang dibangun oleh suami dan wanita pula sebagai ujung tombak pendidikan masyarakat dalam mengembangkan budaya, sosial, sastra, politik hingga agama melalui putra putri mereka sebagai generasi penerus bangsa. (Iin Meriza,Urgensi Pendidikan Bagi Wanita, 2017)

Lebih lanjut dalam pandangan Iin Meriza menyebutkan bahwa sebuh keluarga sakinah tidak terjadi begitu saja, namun idealnya harus dibekali dengan pemahaman dan pengetahuan tentang tugas dan kewajiban isteri oleh setiap wanita yang akan dan sudah berkeluarga.

Keluarga sakinah dalam islam merupakan gambaran keluarga yang mampu memberikan ketenangan, ketenteraman, kesejukan dan kedamaian yang dilandasi oleh iman dan taqwa serta dapat menjalankan syariat Islam dengan sebaik-baiknya.

Kondisi keluarga sakinah tentu sangat menguntungkan bagi proses pendidikan anak. Anak-anak yang dibesarkan dan dididik dalam keluarga yang hubungan kedua orang tuanya tenang, saling setia, dan saling mencintai akan mendapatkan kondisi yang tepat bagi perkembangan jiwanya. Secara substansi pula, wanita adalah sumber pendidikan bagi anak-anak mereka. Wanita memegang kendali dalam mengajarkan anaknya mulai di dalam rahim hingga dewasa. (Iin Meriza, 2017)

Peran wanita dalam kehidupan masyarakat akan terimplementasi terhadap kewajiban, sikap dan harapan wanita sesuai dengan status yang di sandangnya. Peran wanita dalam masyarakat merupakan aspek dinamis artinya peran yang disandang wanita dapat berubah rubah sesuai dengan kewajiban yang dilaksanakan dan hak yang diinginkannya.

Seperti yang dikemukakan oleh Aminuddin bahwa mempelajari peranan sekurang kurangnya melibatkan dua aspek yaitu: pertama, Kita harus belajar melaksanakan kewajiban dan menuntut hak hak suatu peran. Kedua, Kita harus memiliki sikap, perasaan dan harapan harapan yang sesuai dengan peranan tersebut (Pujiwati, Peranan Wanita DalamPerkembangan Masyarakat, (Jakarta: Rajawali, 2002), h, 105.)

Dalam pandangan Mead Herbert,sebagaimana disebutkan pada karyanya berjudul “Para Ibu Yang Berperan Tunggal dan Yang Berperan Ganda,” menyebutkan bahwa dengan demikian maka wanita dalam melaksanakan peran di luar rumah harus melaksanakan peran sesuai dengan statusnya, kalau dia berstatus sebagai pegawai dia harus berperan sebagai pegawai misalnya: disiplin, bertanggung jawab, mengerti hak dan kewajiban, berprilaku santun. Kalau status dia sebagai guru harus berperan sebagai guru misalnya, sopan, pintar, ramah, disegani, berprikebadian dan lainnya, eksesnya  kalau wanita salah melaksanakan perannya maka dia akan salah dalam menjalankan kehidupannya.

Hal ini perlu dilakukan oleh wanita karena kalau wanita akan berkiprah dalam kehidupan masyarakat dan harus ada respon dari orang orang yang ada di sekeliling kita, seperti yang dikemukakan oleh Mead Herbert yang mengatakan bahwa ”manusia tidak akan mampu melaksanakan peranannya, merespons nilai serta struktur sosial yang ada juga secara aktif menciptakan peranannya dalam masyarakat tanpa bantuan manusia lain.

** Helmi Abu Bakar, Penggiat Masalah Keagamaan dan Masyarakat, Berdomisili Bandar Dua, Pidie Jaya.

BAGIKAN

KOMENTAR