Perkembangan Ekonomi Aceh Triwulan II 2017 Mengembirakan

0
33

BANDA ACEH | LA – Sumber perekonomian baru adalah salah satu elemen penting dari Negara, hal ini untuk memperkuat daya tahan ekonomi dan juga moment pemulihan ekonomi Bank Indonesia mengadakan Diseminasi Kebijakan Moneter Kamis ,7 September 2017.

Hal ini menjadi perbincangan hangat di tingkat perbankan khusus persoalan peningkatan ekonomi saat ini.

Sesuai dengan acara tersebut Gubernur Aceh melalui asisten III ,Kamaruddin Andalah mengatakan, membaca perkembangan ekonomi Aceh hingga triwulan II tahun 2017 ini, terlihat adanya tanda-tanda yang cukup menggembirakan.

” Data BI membuktikan, pertumbuhan ekonomi Aceh pada periode ini tercatat sebesar 4,01% (yoy), lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya tumbuh 2,67% (yoy). Perbaikan itu terlihat pula pada tingkat inflasi yang masih berada pada kisaran sasaran, yakni sebesar 4 ± 1%,” katanya.

Menurutnya, pencapaian inflasi yang rendah ini tidak terlepas dari kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Aceh yang cukup aktif melakukan koordinasi guna menekan gejolak inflasi daerah.

” Semangat itu pula yang mendorong kita dapat menjalankan 4 strategi utama pengendalian inflasi, yaitu menjamin ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi,” ujar kamaruddin.

Selanjutnya, dikatakan Kamaruddin, Sebagai penghargaan atas kinerja itu, Presiden telah menganugerahi salah satu TPID di Aceh, yakni TPID Kota Subbulussalam sebagai pendatang baru terbaik di wilayah Sumatera pada Rakornas TPID ke-8 beberapa waktu lalu di Jakarta.

” Berbicara tentang ekonomi Aceh, kita akui, hingga saat ini ketergantungan terhadap realisasi belanja pemerintah (APBA) masih sangat tinggi. Sementara peran sektor swasta masih terbatas. Fenomena ini memang harus kita ubah dengan mendorong agar peran sektor swasta lebih meningkat. Oleh sebab itu kita perlu memperkuat sektor-sektor potensial, seperti pertanian, perkebunan, perikanan, dan pertambangan melalui diversifikasi usaha dan berbagai bentuk dukungan, sehingga sektor ini memiliki nilai tambah bagi gerak usaha masyarakat,” katanya.

Selain itu, Ia mengatakan Aceh juga sangat potensial dalam menggerakkan usaha sektor pariwisata. Pengembangan sektor ini dapat menjadi quick-win serta memberi sumbangan cukup berarti bagi pendapatan masyarakat dan pembukaan lapangan kerja. ” Jika dikelola dengan baik, semua sektor ini sangat berpotensi menghadirkan alternatif sumber perekonomian baru dalam rangka memperkuat dan mendorong pemulihan ekonomi Aceh. Hanya saja, semua ini tentu membutuhkan dukungan sektor keuangan, khususnya dari Perbankan,” punta Kamaruddin Andalah.

Oleh karena itu, Bank Indonesia ( BI ) dapat juga mendorong agar Perbankan lebih berperan dalam penguatan ekonomi rakyat untuk sektor-sektor potensial. ” Dengan demikian, peran lembaga non pemerintah dalam ekonomi Aceh semakin menguat sehingga ketergantungan terhadap APBA akan berkurang,” ajaknya. [ ]

BAGIKAN

KOMENTAR