Permainan Tradisional Perlu Mendapatkan Binaan

0
208

BANDA ACEH | LA – Permainan tradisional pada dasarnya memiliki nilai penting yang perlu di bina dan ditumbuhkembangkan bagi pembentukan nilai kepribadian yang dimulai dari PAUD, Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama ( SMP) . Permainan tradisional ini memiliki nilai-nilai yang positif yaitu nilai material, nilai vital (nilai mohivasi) dan nilai kerohanian (psikis).

Hal ini disampaikan oleh wali kota Banda Aceh,pada pembukaan Permainan tradisional anak tingkat Gugus SD/Mi Se-Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, Minggu 26 November 2017,di  Lapangan Blang Padang Kota Banda Aceh.

“Nilai material dalam suatu permainan tradisional merupakan nilai yang dipergunakan pada sarana dan jenis permainan tradisional yang dimainkan oleh masyarakat, apakah dalam artian bermain ataupun bertanding,” kata Aminullah dalam kesempatan itu.

Karenanya sarana permainan yang umumnya relatif mahal, sehingga menggunakan sarana yang lebih murah dan mudah ditemukan di nusantara dan juga lingkungan sekitar tempat tinggal , seperti tepung kapur untuk sarana permainan galah, tali untuk permainan tarik tambang, papan dan karet atau ban bekas untuk permainan terompah panjang, kayu dan bambu untuk permainan geunteuet/engrang, rotan untuk permainan ‘linggang awee’ (hulahop) dan Iain sebagainya.

“Adapun nilai vital yang terkandung di dalam permainan tradisional juga penting untuk terus dibina, karena hal itu merupakan suatu nilai yang muncul pada diri generasi muda dan anak-anak secara tidak sengaja atau disadarinya, sehingga terbentuk motivasi, kedisiplinan, serta semangat kebersamaan yang tinggi pada setiap jenis permainan tradisional yang dilakukannya,” sebut orang nomor satu Kota Banda Aceh ini.

Sedangkan nilai kerohanian/psikis atau nilai keyakinan dalam suatu permainan tradisional itu, kata Wali Kota Banda Aceh tersebut merupakan suatu nilai yang muncul tanpa disadari. Itu merupakan suatu nilai sosial dan semangat kebersamaan yang tinggi di dalam mematuhi peraturan dan tata tertib bermain, seperti yang sudah disepakati, diakui dan tanpa ada keterpaksaan.

“Generasi muda kita saat ini sedang dihadapkan pada dinamika perubahan dunia yang serba cepat. Era ini telah disebut sebagai globalisasi. Pada masa ini, perkembangan teknologi dan informasi yang serba cepat dan masif telah melingkupi seluruh tatanan kehidupan manusia, termasuk perubahan pola pikir dan gaya hidup bahkan perilaku dalam masyarakat,”

Hal ini hampir berlaku sama dengan sikap inti yang dipenganuhi oleh pola Pikir yang serba instan atau perilaku yang menginginkan pola hidup yang serba praktis sehingga anak-anak Iebih memilih untuk memainkan game di intemet (dunia maya), baik melalui laptop, gadget, hp dan play station.

Oleh sebab itu, permainan tradisional menjadi semakin termarjinalkan dikarenakan anak-anak Iebih memilih bermain games dengan mendownload soft game yang di akses dari intemet dan kemudian memainkan sendiri atau berkelompok di depan PC, TV, Gadget dan HP.

“Dari permainan tradisional tersebut, pada diri anak-anak akan tumbuh dan terbentuk rasa saling bekerjasama, saling menghormati dan saling menerima setiap kemenangan dan kekalahan secara sportif. Nilai-nilai sportivitas dan kegotong-royongan seperti itu semakin sulit kita temui dii masyarakat kita saat ini,” papar Aminullah yang juga mantan Dirut Bank Aceh. (SA)

 

BAGIKAN

KOMENTAR