Petani Kopi Gayo yang Selalu dalam Posisi Terimpit

0
269

0837005passpor3780x390

ACEH TENGAH — Temu Kopi Sumatera 2015 adalah sebuah ajang tahunan yang diprakarsai Lutheran World Relief (LWR). Ini merupakan forum pelaku usaha komoditas kopi untuk saling berbagi informasi.

Tahun ini, Temu Kopi Sumatera lebih menitikberatkan pada upaya peningkatan kualitas dan kuantitas kopi. Dengan demikian, kesejahteraan petani kopi meningkat seiring dengan semakin tingginya permintaan dari berbagai negara tujuan ekspor.

Pada hari pertama pelaksanaan, Selasa (3/11/2015) lalu, sejumlah tokoh dari daerah penghasil kopi Gayo di Aceh mendapat kesempatan menjadi panelis pada kegiatan yang berlangsung di Medan tersebut, di antaranya Bupati Aceh Tengah Nasaruddin yang menyampaikan pandangannya tentang upaya peningkatan kualitas dan kuantitas kopi di Aceh Tengah, termasuk melalui program resi gudang serta pembentukan Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG).

Menurut dia, dari mata rantai kopi yang dimulai dari petani hingga sampai ke konsumen di 14 negara, petani kerap berada di pihak yang kurang menguntungkan. Hal ini karena yang paling banyak mengambil keuntungan justru para eksportir.

Dengan demikian, petani selalu berada di posisi yang terimpit. “Idealnya petani memperoleh 65 hingga 75 persen dari harga kopi yang dipasarkan,” ujar Ketua Persatuan Himpunan Tani Indonesia (Perhiptani) Aceh itu.

Jika kondisi tersebut terpenuhi, lanjut Nasaruddin, barulah tercapai keadilan. Petani kopi sepenuhnya menikmati harga komoditas mereka sendiri.

Sebaliknya, jika petani hanya mendapatkan porsi yang kecil dari harga kopi, mereka akan kehilangan motivasi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil panen.

“Bahkan, bisa jadi mereka akan beralih ke jenis tanaman lain yang lebih menjanjikan,” kata Nasaruddin.

Sementara itu, Sekretaris Koperasi Baitul Qiradh Baburrayan Aceh Tengah, Armiyadi, dalam forum tersebut memaparkan seluk-beluk usaha peningkatan kualitas dan kuantitas kopi di dataran tinggi Gayo, termasuk dengan memberdayakan para petani melalui koperasi-koperasi yang dibentuk khusus untuk menaungi para petani tersebut.

Melalui Koperasi Baitul Qiradh Baburrayan, lanjut Armiyadi, ada sekitar 5.000 KK dengan lahan seluas 10.000 hektar yang dibina.

Acara Temu Kopi Sumatra 2015 dibuka oleh Kadisbun Sumatera Utara, Herawati, mewakili Plt Gubsu H Erry Nuradi, Selasa (3/11/2015), sedangkan keynote speaker adalah Tim McCully, Vice President Lutheran World Relief.

Kegiatan ini berakhir pada Rabu (4/11/2015) sore kemarin. (kompas.com)

BAGIKAN

KOMENTAR