Peucicap (Tahnik) Budaya Aceh sebagai Sunnah Rasulullah

0
Al-Mukarram Abu Kuta Krueng salah seorang ulama kharismatik Aceh melakukan Peucicap (tahnik) dan tasmiah (pemberian nama) anak kedua bernama Azizatur Rasyida anak pasangan Tgk. Helmi Abu Bakar-Misniati Munir Blang Dalam, Ulee Glee, Pidie Jaya, (11/10/2019). (HAB/LA)

KELAHIRAN buah hati dambaan semua orang terkhusus orang tua dan kerabatnya. Paca kelahiran salah satu sunnah tahnik (peucicap dalam bahasa Aceh). Metode tahnik itu telah di jelaskan oleh para ulama. Tahnik itu mengunyah sesuatu, kemudian meletakkan atau memasukkannya ke mulut bayi lalu menggosokkan kelangit mulut.( Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari).

Tentu saja hal ini dilakukan dengan tujuan agar bayi terlatih dengan makanan, dan untuk menguatkan atasnya. Sedangkan mesti di lakukan dari mentahnik hendaklah mulut bayi terseut di buka sehingga sesuatu yg telah dikunyah masuk ke dalam perutnya.

Sementara itu yang lebih utama mentahnik di lakukan dengan kurma kuning, jika tidak mendapatkan maka dengan kurma basah, kalau tidak ada kurma bisa di ganti dengqn sesuatu yang manis seperti madu. (Kitab Fathul Bari : 9 hal 558)

Dalil Peucicap (Mentahnik)

Sangat banyak dalil yang mengupas tentang peucicap (tahnik). Abu Burdah dari Abu Musa, ia berkata:”Pernah dikaruniakan kepadaku seorang anak laki-laki lalu aku membawanya kehadapan Rasulullah saw mk beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dg sebuah kurma”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Lebih lanjut, Imam Nawawi berkata mengenai hadist ini adalah anjuran mentahnik atau mengunyah anak yang baru lahir dan ini merupakan sunnah dengan ijma’.  (kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim:14 hal 124).

Penulis mencoba merangkum dari sumber terpercaya dalil paling lengkap berkaitan dengan tahnik. adalah kisah tentang Abu Thalhah dan istrinya, yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik Ra. dan terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim :

كان ابنٌ لأبي طَلحَةَ يَشتَكي، فخرَج أبو طَلحَةَ، فقُبِضَ الصبيُّ، فلما رجَع أبو طَلحَةَ قال : ما فعَل ابني، قالَتْ أمُّ سُلَيمٍ : هو أسكنُ ما كان، فقَرَّبَتْ إليه العَشاءَ فتَعَشَّى، ثم أصاب منها، فلما فرَغ قالتْ : وارِ الصبيَّ . فلما أصبَح أبو طَلحَةَ أتَى رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فأخبَره،

فقال : ( أَعْرَسْتُمُ الليلةَ ) . قال : نَعَم، قال : ( اللهم بارِك لهما ) . فوَلَدَتْ غُلامًا . قال لي أبو طَلحَةَ : احفَظْه حتى تأتِيَ به النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فأتَى به النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وأَرسَلَتْ معَه بتمَراتٍ، فأخَذه النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فقال : ( أمعَه شيءٌ ) . قالوا : نَعَم، تمَراتٌ، فأخَذها النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فمضَغها، ثم أخَذ مِن فيهِ، فجعَلها فِي فِي الصبيِّ وحَنَّكَه به، وسمَّاه عبدَ اللهِ

‘Dahulu Abu Thalhah memiliki anak yang sedang sakit, kemudian Abu Thalhah keluar. Anaknya itu kemudian meninggal dunia. Ketika Abu THalhah kembali, ia berkata kepada istrinya: “bagaimana anak kita ?” Istrinya, Ummu Sulaim berkata: “dia sudah lebih baik dari sebelumnya. Kemudian Ummu Sulaim menyajikan makan malam lalu Abu Thalhah makan. Kemudian, Abu Thalhah menggauli istrinya. Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata: “tutupi anakku (dengan kain kafan)” Ketika pagi tiba, Abu Thalhah menemui Rasulullah Saw. dan menceritakan apa yang terjadi.

Al-Mukarram Abu Kuta Krueng salah seorang ulama kharismatik Aceh melakukan Peucicap (tahnik) dan tasmiah (pemberian nama) anak kedua bernama Azizatur Rasyida anak pasangan Tgk. Helmi Abu Bakar-Misniati Munir Blang Dalam, Ulee Glee, Pidie Jaya, (11/10/2019). (HAB/LA)

Rasulullah Saw. berkata: “kalian bercinta semalam?” Abu Thalhah menjawab: “iya.” Rasul menjawab: “Ya Allah berkahilah pasangan ini”. Kemudian, Ummu Sulaim melahirkan anak. Abu Thalhah kemudian berwasiat kepada Anas: “jaga dia sampai engkau bisa menemui Rasulullah Saw.” Kemudian Anas bin Malik Ra. menemui Rasulullah Saw. dan dibawakannya beberapa buah kurma.

Kemudian, Rasulullah Saw. menggendongnya dan bertanya, “ada yang dibawa bersamanya?” Orang-orang menjawab: “Iya, ada kurma Ya Rasul.” Nabi Saw. pun menjumputnya kemudian mengunyahnya, lalu beliau ambil dari mulutnya, dan diberikannya kepada mulut jabang bayi dan menggosokkannya di mulutnya. Kemudian memberi nama bayi itu Abdullah.”

Kisah Abu Thalhah ini diriwayatkan dengan beberapa redaksi yang mirip. Salah satu pemahaman yang dapat diambil dari hadis ini adalah disunahkannya melakukan tahnik kepada jabang bayi. Kesunahan ini misalnya disampaikan oleh Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim,

كون التحنيك بتمر وهو مستحب ولو حنك بغيره حصل التحنيك ولكن التمر أفضل

“Tahnik dengan kurma dan (hukumnya) itu dianjurkan/mustahabb. Dan andaikan tahnik dilakukan dengan selain kurma, maka sudah berlaku disebut tahnik meskipun dengan kurma lebih utama.”

Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari Syarh al-Shahih al-Bukhari mengatakan:

وأولاه التمر فإن لم يتيسر تمر فرطب وإلا فشيء حلو وعسل النحل أولى من غير

“Dan yang lebih utama itu (tahnik) dengan kurma kering (al-tamr). Kalau tidak mudah (mendapatkannya) kurma kering, bisa pakai kurma basah. Jika keduanya tidak ada, maka bisa dengan sesuatu yang manis. Dan, madu yang manis lebih utama (dari yang lain).”

Al-Mukarram Abu Kuta Krueng mentahnik (peucicap) bayi yang diberi nama Izzatur Rasyida di Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng. (HA)

Hendaknya sebagai orang tua tidak melupakan anjuran tahnik ini dan terus mendidik anak menjadi anak yang saleh dan salehah serta berbakti kepada orang tua, guru dan agama. Amin.

***Helmi Abu Bakar El-Lamkawi, Guru Dayah MUDI Samalanga