Polisi Tetapkan Satu Orang Tersangka Kasus Prostitusi di Aceh Selatan, Saksi: Kami Tidak Ada Diberitahukan Wajib Lapor

0
Ilustrasi(SHUTTERSTOCK)

Tapaktuan | Liputanaceh.com – Terkait kasus prostitusi yang berhasil diungkap Satuan Reserse Kriminal Polres Aceh Selatan dengan lokasi penggerebekan disalah satu Hotel yang terletak di Gampong Hilir Kecamatan Tapaktuan Kabupaten Aceh Selatan pada hari Minggu, 20 Oktober 2019 lalu, akhirnya Polisi menetapkan satu orang tersangka. Yakni  RO (22) seorang laki-laki yang sehari-hari berkerja sebagai resepsionis, sebagai tersangka atas kasus dugaan tindakan prostitusi.

Sebagaimana juga dilansir media Ajnn.net Selasa (22/10/2019), Kapolres Aceh Selatan, AKBP Dedy Sadsono ST melalui Kasat Reskrim Iptu Zeska Julian mengatakan penetapan RO sebagai tersangka dilakukan setelah pemeriksaan saksi-saksi secara maraton, pasca pihaknya melakukan penggerebekan terkait kasus asusila di Kabupaten Aceh Selatan.

“Kami sudah menetapkan satu orang sebagai tersangka, atas perannya sebagai mucikari,“ kata Zeska.

Lanjutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan dan dilakukannya gelar perkara, pihaknya mendapatkan bukti yang kuat atas peran RO sebagai mucikari. Atas bukti permulaan ini, maka kasus ini dapat ditingkatkan ke tahap penyidikan.

Zeska menambahkan, dalam waktu dekat polisi juga akan memanggil pemilik hotel tersebut, untuk dimintai keterangannya terkait apakah ia mengetahui praktik prostistusi di hotel miliknya atau tidak, yang menurut pengakuan RO sudah ia dilakoni sejak 1 tahun terakhir.

“Kami tetap mengedepan presumption of innonce (praduga tak bersalah). Namun, setelah kami lakukan gelar perkara dan cukup bukti untuk naik ke sidik. Pemilik hotel juga akan kami panggil,“ ujarnya.

Zeska juga menerangkan, berdasarkan kasus yang terjadi, maka hanya mucikari yang dapat dijerat hukum. Sedangkan untuk AN dan RP, selaku terduga penyedia dan pengguna jasa prostitusi status mereka hanya sebagai saksi sekaligus korban dan cuma dikenakan wajib lapor. “Hal itu karena, pada saat dilakukan penggerebakan dan hasil pemeriksaan, AN dan RP tidak sedang dalam keadaan melakukan perbuatan asusila,” terang Zeska.

Baca juga: Satreskrim Aceh Selatan Ungkap Pelaku Prostitusi di Salah Satu Hotel

Sementara itu, wajib lapor juga dikenakan terhadap dua orang pria lainnya yang menyewa kamar hotel itu secara bulanan. Hal ini dilakukan karena mereka juga sempat dimintai keterangan, dalam kapasitas sebagai saksi oleh polisi.

Terkait perbuatannya, tersangka RO selaku mucikari dikenai pasal 296 jo. pasal 506 KHUP, dengan ancaman kurungan penjara selama satu tahun empat bulan penjara. Saat ini, terhadap RO juga tidak dilakukan penahanan.

“Tersangka tidak kami tahan, karena ancaman hukumannya di bawah 5 tahun penjara dan pihak keluarga juga telah menjamin penahanan RO,“ tutup Zeska.

Sementara itu secara terpisah, saat dikomfirmasi liputanaceh.com via telpon dan pesan WA, hingga berita ini tayang, salah satu saksi yang menyewa kamar hotel itu secara bulanan mengatakan bahwa dirinya dan rekannya, belum mendapatkan pemberitahuan tentang  dikenakan wajib lapor. “Kami tidak ada diberitahukan masalah wajib lapor,” katanya.