Posisi Guru, Tak Pernah Tergantikan (Refleksi Belajar di Rumah Masa Covid-19)

0

Oleh. Nazarullah *

Belajar di rumah secara online masa covid-19 justru membuat anak-anak makin stres. Banyak tugas bahkan jauh lebih banyak jika dibandingkan belajar di sekolah seperti biasa. (Ratna Listyarti Ketua KPAI)

Hampir satu bulan, belajar di sekolah/madrasah di liburkan di Aceh sesuai surat edaran yang disampaikan oleh Mendiknas, Menteri Agama dan Juga Gubernur Aceh. Himbauan untuk belajar dirumah adalah bertujun untuk mensikapi agar wabah virus corona tidak meluas di Aceh dan pandemi ini tidak banyak memakan korban. Sejak saat itu, belajar dan menuntut ilmu di sekolah/ madrasah dan juga Perguruan Tinggi di alihkan ke rumah masing-masing dengan selogan #dirumahsaja.

Dalam memastikan anak-anak belajar di rumah dan tidak bekeluyuran ke warnet, game online ataupun ke warkop yang di pasang wifi, pemerintah daerah menugaskan Satpol PP untuk melakukan razia ke lokasi-lokasi yang dicurigai banyak berkumpulnya anak-anak. Jika kedapatan anak-anak tersebut akan disuruh pulang atau bahkan dipanggil orang tua untuk menjemput anak tersebut. Hal ini dilakukan adalah untuk penegakan taat aturan dan juga menjaga anak-anak agar tidak tertular virus corona dengan berkumpul di tempat-tempat tertentu.

Setelah anak-anak komit berada di rumah dan takut akan bermasalah dengan Satpol PP, berikutnya muncul masalah baru yaitu banyaknya keluhan orang tua bermunculan di medsos. Stres, pusing, capek, ribet dan malah ada yang protes karena saking banyaknya tugas yang diberikan guru secara online. Sehingga orang tua tersita waktunya untuk membantu anak-anaknya menyelesaikan tugas pelajaran dan tidak bisa lagi nonton sinetron dengan nyaman seperti malam-malam sebelumnya.

Di medsos juga banyak ibu-ibu yang mengeluh agar guru-guru mengurangi beban tugas yang diberikan kepada anak-anak karena ada anak yang kelelahan dan harus masuk rumah sakit. Namun, di sisi yang lain ada juga guru yang tidak membebani murid-muridnya dengan tugas-tugas sekolah, tapi muncul juga ungkapan orang tua yang nyiyir ke guru makan gaji buta dengan tidak mengajar selama masa covid-19.

Andai saling pengertian, kita akan bisa memaklumi bahwa belajar di rumah dalam kondisi saat ini adalah bagian dari pembelajaran juga. Anak-anak belajar, guru juga sedang belajar, dan orang tua pun sedang belajar untuk memahami profesi yang digeluti seorang guru.

Orang Tua Jadi Guru Serba Bisa
Mendidik anak di kelas bagi seorang guru sebenarnya bukanlah pekerjaan yang mudah. Mulai dari pagi sampai siang atau bahkan sore hari, guru menghadapi anak satu kelas dengan beragam perilaku, tingkah dan juga tingkat kecerdasannya.

Hal ini tentu saja membutuhkan triks tersendiri bagi guru dan bahkan kesabaran yang sangat ekstra. Malah, jika ada guru yang tidak memiliki kesabaran dan sedikit emosi, sehingga luapan emosinya tertuju kepada simurid, salah-salah si guru ini akan berhadapan dengan wali murid yang lebih tidak punya nilai kesabaran. Baik didatangi ke sekolah, di caci atau malah kadang ada juga guru yang di pukul atau diintimidasi oleh oknum wali murid. Padahal, kemarahan atau emosi guru tersebut belum sebanding dengan apa yang dia hadapi seriap harinya yang membutuhkan energi yang besar dalam mencerdaskan anak-anak bangsa.

Selama masa belajar di rumah, banyak ibu-ibu dan juga ayah yang sudah bisa merasakan bagaimana menjadi parenting untuk anak-anaknya dengan sejumlah mata pelajaran yang harus mereka kuasai. Meski belajar di rumah yang kelihatannya sangat santai, namun bila dituruti, sampai tengah malampun tugas yang diberikan guru lewat online atau WathsApp belum juga selesai dikerjakan.

Belum lagi semua tugas anak-anak dikerjakan oleh ayah atau ibu mulai dari pelajaran bahasa Indonesia, Matematik, Bahasa Inggris dan juga pelajaran-pelajaran lainnya. Itu baru satu anak di tingkat MI/SD, bagaimana lagi jika ada dua anak lagi yang masing-masing kelas VII tingkat SMP/MTs dan kelas X di tingkat MA/SMA atau bahkan Perguruan Tinggi.

Seorang Teman saya, dosen di salah satu Perguruan Tinggi ternama di Aceh dalam WAG beliau juga ikut menyampaikan keluhan kecil mengenai mahasiwanya yang sudah pulang kampung. Kepada mahasiswanya lewat WathsApp sudah disampaikan bahwa selama masa wabah Corona, perkuliahan akan dilaksanakan melalui Zoom. Namun yang terjadi adalah banyak mahasiswa yang tidak inut bergabung saat kuliah dengan alasan sinyal lelet, tidak ada kuota atau ada sinyal bagus di wifi warung kopi, tapi masa pandemi ini warung kopi sedang tutup.

Coba bayangkan apa yang terjadi dalam rumah tangga yang di dalamnya hidup tiga anak dengan tiga tingkatan kelasnya tambah anak tertua yang sedang kuliah di Perguruan Tinggi. Anak pertama minta bantu sama orang tua menyelesaikan tugas Fisika dari guru, anak kedua minta bimbingan ibunya dalam menyelesaikan pelajaran bahasa inggris, dan anak ketiga yang masih duduk di MI/SD, guru hanya meminta mereka menyelasaikan tugas tema IX.

Di sinilah mulai panik dan spaning orang tua karena tidak paham tentang tematik dengan jaring-jaring temanya. Ujung-ujung bukan anaknya yang dibantu menyelesaikan tugas, tapi malah anaknya yang dimarahin. Malah ada orang tua yang marah-marah kepada guru di WAG dengan mengatakan “anak-anak yang dikasih tugas sekolah, kenapa saya orang tuanya yang malah repot”.

Cukupkah hanya sampai di situ? Tidak sedikit orang tua yang merasa kerepotan dengan kondisi belajar di rumah. Sebab, mereka harus bekerja mengasuh anak kecil (bayi) serta menjadi guru yang harus serba bisa bagi anak-anaknya di rumah. Bahkan tidak hanya sampai disitu, disamping membantu anak dalam belajar materi sekolah/atau madrasah, orang tua juga punya tugas baru yaitu selama masa #dirumahsaja, suasana bermain di sekolah sudah beralih di rumah. Kamar tidur sering kusut, ruang tamu sering berantakan, dan dapurpun jadi sering kotor karena anak-anak sering minta dibikin makanan. Akhirnya, ibu sering marah-marah, dan ayah sering menggerutu.

Harus kita ketahui, belajar di rumah saat pandemi corona, harusnya tidak ada perbedaan antara anak belajar di sekolah dengan di rumah. Mulailah dari mandi pagi seperti mau ke sekolah, sarapan. Sehingga anak-anak tidak merasakan perbedaannya antara belajar di sekolah dengan beajar di rumah. Kalau ini tidak kita lakukan, maka berikutnya akan muncul masalah baru yaitu anak-anak merasa bosan lama-lama #dirumahsaja.

Belajar di rumah, Apakah Efektif ?
Ada cerita menarik seorang siswa ringkat SMA yang berdomisili di Darussalam Banda Aceh. Dia bercerita bahwa setiap hari gurunya memberikan tugas berupa essay. Bila tugas sudah siap dikerjakan, harus dikirim file microsoft word lewat wathsApp. Pernah kami dikirim soal sama guru berkaitan dengan: apa yang kamu ketahii tentang virus? Coba ceritakan apa itu virus corona 19? Dengan memanfaatkan Google, siswa ini mencoba mencari informasi dan diketik ulang, seterusnya dikirim ke gurunya.

Belajar di rumah bukan berarti libur pada saat wabah covid-19 ini, bukan pula tidak ada aktivitas literasi. Belajar di rumah tentu saja masih tetap harus ada target pencapaian kurikulum sebagaimana telah ditetapkan. Namun, hal ini akan menjadi kendala jika diterapkan di daerah dengan infrastruktur internet dan teknologi yang kurang mendukung seperti dapelosok daerah atau di desa-desa tertentu. Dan bisa juga kendalanya akan muncul terhadap siswa yang orang tuanya tidak memiliki HP android.

Terhadap persoalan yang seperti ini, satu-satu jalan adalah guru memberikan tugas sebanyak-banyaknya kepada siswa dengan mengabaibaikan online learning dan tugas diserahkan keguru pada saat tatap muka nantinya saat belajar sudah normal kembali.

Harus diakui, belajar melalui online atau google calssroom, banyak siswa yang menghadapi kesulitan dalam memahami pelajaran yang semestinya butuh butuh konsultasi langsung dengan guru terutama pelajaran yang membutuhkan penjelasan dari tenaga pendidik seperti Matematika, kimia, Fisika dan beberapa pelajaran lainnya seperti Ekonimi.

Jika beberapa mata pelajaran ini ditanyakan kepada orang tua mereka, maka tentunya disinilah akan muncul masalah baru yaitu tidak semua orang tua menguasai bidang studi seperti ini. Akhirnya siswa merasa bosan, jenuh dan pada akhirnya, tugas yang dikirim oleh guru tidak dapat dikerjakan.

Keberadaan orang tua yang tidak bisa membantu dan membimbing anak-anak belajar pelajaran tertentu di rumah seperti layaknya belajar di sekolah, telah membuat anak-anak merasa bosan, kesel tidak mengerti dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Untuk satu hari, ada dua guru yang meberikan tugas kepada siswanya dan harus diselesaikan pada hari itu juga, sehingga anak-anak harus kerjakan tugas itu mulai dari pagi sampai dengan sore hari.

Hal ini telah mereka jalani hampir tiga minggu. Akhirnya keluarlah kalimat “enak belajar di sekolah dari pada belajar dengan orang tua di rumah yang tidak bisa membantu memberikan penjelasan seperti guru di sekolah/madrasah”.

Rasa bosan anak-anak belajar dirumah sudah mulai terasa. Kejenuhan orang tua dalam membimbing anaknya membuat PR juga sudah mulai timbul. Ujuk-ujuk untuk membantu anak menyelesaikan tugas dari guru secepat mungkin, malah yang sering dialami siswa adalah orang tua mereka tidak mampu memberikan penjelasan seperti guru menerangkan pelajaran di sekolah, terhadap tugas yang dikirim oleh gurunya dan dan tugas itu harus diselesaikan dalam satu hari.

Beranjak dari hal ini dapatlah kita memetik pelajaran bahwa, ternyata mendidik itu adalah profesi yang sangat mulia. Guru adalah sosok yang sangat bermakna dalam dunia pendidikan. Keberadaan teknologi berupa classroom, online learning dan lain sebagainya, belum mampu menggantikan posisi guru sebagai pendidik dan pengajar Posisi guru tidak pernah bisa tergantikan sama sekali, walaupun secanggih apapun sumber atau alat belajarnya yang diciptakan. Untuk guru, teruslah berkarya, jasamu akan terus bermanfaat bagi generasi.

Masa covid-19 dengan selogan #Belajardirumah, telah banyak pelajaran yang dapat kita ambil, salah satunya adalah tanpa guru dunia akan tetap gelap. Oleh karena itu, marilah kita tempatkan guru pada posisi terhormat, karena guru adalah pelita yang telah membantu semua orang tua dalam menerangi kegelapan hati dan otak anak dalam bidang pendidikan.

* Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor pada UIN Ar-Raniry dan Juga Widyaiswara pada Balai Diklat Keagamaan Aceh.