Produksi Telur Lokal Baru Mencapai 30 Persen

0

antarafoto-Harga-Telur-Ayam-Naik-050614-JA

Banda Aceh – Kepala Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan (Kadiskeswannak) Aceh, Dr Ir M Yunus MSc mengungkapkan kebutuhan telur ayam di Aceh setiap hari mencapai 1 juta butir. Namun baru sekitar 300 ribu butir (30 persen) di antaranya dihasilkan dari industri peternakan ayam petelur di Aceh. Selebihnya dipasok dari Medan, Sumatera Utara.

Menurutnya, untuk produksi lokal, industri ayam petelur paling banyak di Aceh Besar, mencapai 200 ribu-250 ribu butir per hari. Lokasi industrinya, seperti di Blangbintang, Lam Sie, Samahani, dan Cot Keueng.

Sedangkan di Aceh Utara, Pidie, Nagan Raya, dan Subulussalam juga ada, namun untuk kabupaten/kota ini masih tergolong peternakan skala kecil yang hanya mampu memenuhi permintaan pasar di kabupaten/kota itu sendiri.

“Telur-telur ini kami suplai ke toko-toko eceran dan grosir di Aceh Besar dan Banda Aceh. Sementara dari industri peternakan telur di daerah lainnya, hanya mampu memenuhi permintaan di daerah mereka sendiri,” kata Yunus.

Karena itu, kata Yunus, Aceh belum mampu melepaskan diri dari ketergantungan pasokan telur dari Medan, di samping Aceh juga masih punya hambatan di bidang sumber daya manusia (SDM) yang handal serta modal. Begitu pun, Yunus yakin hambatan SDM itu bisa diatasi.

“Sedangkan modal, ini mungkin yang agak terkendala,” ujarnya.

Menurut Yunus, saat ini untuk peternakan ayam petelur di Aceh masih membutuhkan kandang yang moderen dan bibit. Sedangkan pakan juga masih dipasok dari Medan. Ia mengatakan, saat ini selain harga telur ayam naik, harga bibit dan pakannya juga naik.

Bibit ayam petelur Rp 60.000-Rp 65.000 per ekor. Sedangkan pakan Rp 6.000 per kilogram naik dibanding sebelumnya Rp 4.000 per kilogram.

Kadikeswannak menambahkan kualitas telur Aceh yang beredar di daerah ini lebih bagus dibanding telur dari Medan. Pasalnya, telur dari Aceh masih segar atau baru-baru.

“Sedangkan telur dari Medan, butuh waktu perjalanan mencapai sehari baru tiba di daerah tertentu di Aceh. Adapun harganya, sama saja, yaitu di tingkat distributor Rp 35.000 per papan dan dijual untuk masyarakat Rp 37.000 per papan,” tutupnya. (Serambi Indonesia)