Ramadhan Bukan Penghalang Dalam Meningkatkan Semangat Beraktifitas

0
55

MEUREUDU I LA– Bulan Ramadhan sebagai bulan dimana umat Islam diwajibkan berpuasa, sering kali dijadikan alasan untuk mengurangi intensitas dan produktivitas bekerja. Padahal justru dengan tingginya aktifitas semakin menambah pundi pahala kita.

“Memang untuk menjaga aktifitas di bulan Ramadhan kita harus menjaga stamina, namun tidak berarti kita lupakan aktifitas rutin terlebih mereka yang menjadi abdi negara harus melayani masyarakat sesuai waktu yang telah ditentukan dan ini menjadi ladang pahala yang besar terlebih di bulan Ramadhan ini, ” kata Tgk. Zahari Abdullah salah seorang tokoh agama Pidie Jaya yang vokal menyuarakan kebaikan dan perbaikan itu.

Zahari menambahkan kalau kita baca sejarah bangas ini saja sebagai contohnya tanpa kita melihat sejarah para Nabi dan Rasullahrasanya, kita merasa malu semangat produktifitas pejuang negeri ini di bulan puasa Ramadhan ini.

“Sangat banyak sekali hal besar yang terjadi selama bulan Ramadhan ini dalam sejarah perjuangan negeri ini. Semua warga negara Indonesia pasti tahu kalau proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 kan? Namun, apakah semua tahu kalau itu terjadi di Ramadan? Tepat pada 9 Ramadan 1364 H,” sambung mantan Kepala KUA Bandar Dua, Pidie Jaya itu.

Sosok berkacamata itu juga menambahkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dibentuk satu hari menjelang malam pertama Ramadan. “Pada 1 Ramadan tentara sekutu menjatuhkan bom ke Kota Nagasaki yang membuat kekuatan Jepang runtuh dan berada di ambang kekalahan perang. Pada hari kedua bulan puasa, Soekarno, Hatta, dan Radjiman menemui Marsekal Terauchi di Vietnam untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia,” kisahnya sekelumit semangat dan produktifitas para pendahu di bulan Ramadhan ini.

Ia menguraikan esensi puasa Ramadhan ini akan membentuk perilaku muslim yang berakhlak serta melatih pemenuhan kebutuhan rohaniah dan jasmani sesuai porsinya masing-masing. Perbedaan manusia dengan makhluk ciptaan Allah lainnya terletak pada diberinya akal manusia untuk mengendalikan hawa nafsunya.

“Hal ini penting karena apabila manusia memperturutkan hawa nafsunya maka derajatnya akan lebih rendah dari hewan atau binatang. Puasa yang benar adalah puasa yang diimplementasikan di dalam dan di luar bulan Ramadhan,” ulas alumni UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu yang kini menjadi pengulu di salah satu kecamatan di Pidie Jaya itu.

Ramadhana itu harus kita tingkatkan aktifitas dan semangat kerja, apa pun usaha yang kita lakukan, besar atau kecil, baik atau buruk, pasti akan mendapatkan balasan. Jika usaha kita baik, kebaikanlah yang akan kita dapatkan. Jika usaha kita buruk, keburukan pula yang akan kita dapatkan.

“Baik atau buruknya suatu usaha dinilai dari jenis usahanya dan cara berusahanya. Hal ini pernah dikatakan oleh Rasulullah. Rasulullah saw sangat suka terhadap umatnya yang bekerja dengan tangannya sendiri. Ini disebutkan dalam hadist riwayat Imam Bukhari “Tiada seorang pun makan makanan yang lebih baik daripada dia makan dari (hasil) pekerjaan tangannya. Sesungguhnya Nabi Daud as makan dari (hasil) pekerjaan tangannya.” ungkap pria berkumis yang akrab dengan peci hitam nasionalisme ala Sukarno itu

Terkadang dosa dan kesalahan kita terhapus hanya dengan semangat dan usaha yang kita kerjakan walaupun banyak cara untuk bertaubat namun pengahapusnya dengan bekerja sebagai bentuk dan cara kita mencari rezeki. Zahari menjelaskan ini sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh At-Tabrani, berbunyi :

“Sesungguhnya di antara dosa-dosa, ada satu dosa yang tidak bisa dihapus oleh shalat, tidak pula oleh puasa, tidak pula oleh haji dan tidak pula oleh umrah.” Para sahabat bertanya, “Lantas, apa yang bisa menghapusnya, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Semangat dalam mencari rezeki.” tutupnya dengan penuh semangat dan berharap kita dapat meningkatkan semangat dan aktifitas di bulan Ramadhan yang berkah ini.

BAGIKAN

KOMENTAR