Sang Peunawa Karya Zarkasyi Yusuf Hadir di Oase Kehidupan Era Modern

0
40


SALAH SATU
buku karangan penulis handal dan produktif bernama Zarkasyi Yusuf sangat menarik untuk di baca dan di resapi dalam kehidupan sehari-hari dengan judul “Peunawa Belajar Menyingkap Makna”. Buku ini sangat sederhana berhalaman 73 lembar merupakan sebagiannya kisah hidup penulis sendiri yang sangat menarik untuk diresapi di samping kumpulan tulisan penulis yang telah di muat di beberapa khabar ternama di daerah sumatera.

Tulisan dengan pengalaman penulis sendiri akan lebih terasa dan “auqak binafsih” (melekat dalam jiwa) terhadap pembaca karena transfer yang disampaikan lebih sempurna ada naluri transfer of spiritual yang lebih menjiwai ketimbang tulisan dengan sebuah teori saja.

Buku dengan judul yang sangat menggugah itu dengan ilustrasi dan gambar yang ditampilkan kurang merespondengan judul. Setidaknya aura ilustrasi lebih mengangkat nilai di belakang tabirnya dengan paduan warna yang lebih mengaura ada sebuah rahasia yang tersimpan. Namun penampilan huruf besar kata “Peunawa”sebuah pesan penting dari penulis isi buku ini bukan hanya dibaca tetapihaarus dihayatidan direnugkan sehingga akan memberinilai positif releguis tergadap pembaca dalam menjalani kehidupan.

Tebal halaman yang ideal seluruhnya 73 lembar sebuah hal yang tidak membosankan para pembaca terutamaparamubtadi (pemula)nya dalam melahap ilmulewat karya tulis. Jenis kertaspun masih standar namun hendaknya kualitas lebihsedikit lagi dariyang telah ada untuk menambah daya ketertarikan calon pembaca walaupun itu hal yang tidak terlalu urgen.

Di samping itu sedikit layout penerbit di pojok perlu juga di tampilkan terlebih dengan nama penerbit yang belum banyak dikenal di kalangan dunia penerbitan akan memberi nilai tambah,`dengan di letakkan di di belakang cover terkadang pembeli tidak jeli dalam hal ini,tentu saja pandangan pertama itu sangat menggoda.
Kelebihan buku ini dengan penyampaian kata dengan bahasayang mudah di pahami dan tidak berbelit-belit, namun sayangnya terkadang ada bahasa dalamistilah asing tidak diterjemahkan secara etimologi semisal dalam kurung,setidaknyabisa memberi gambaran terhadap pembaca, seperti di halaman 10 kata “mantik” seharusnyabisa ditambah dalam kurung dengan “logika”dan di beberapa halamannya lainnya, tetapi sebagiannya saja di semuanya. Beberapa kata dalambuku ini tulisannya masih ada huruf yang lebih atau kurang seperti kata “bahawa”dan sejenisnya, ini tugas sang editor yang kurang jeli dalam mengedit bahasanya.

Isi dan kajian yang disampaikan sangat menarik dengan perpaduan nilai local wisdom (kearifan local) keacehannya yang sangat kental di samping kajian ilmiah agamanya. Pesan yang hendak disampaikan di kemas dengan bumbu petuah panton atau hadih maja serta petuah ureung tuha sehingga mudah di ingat dan memberi bekas terhadap pembaca,seperti di gambarkan efek dari sifat egoisme pada halaman 37 dengan ungkapan “ujub sum’ah, riya teukabo, sinan yang leu ureung binasa”.

Begitu juga ketika penulis buku ini dalam menggambarkan pondasi nilai persaudaraan yang terbina dalam masyarakat kian pudar, nilai ukhuwah sebagai pondasi persatuan dan kesatuan telah ditinggalkan. Beliau mengibaratkannya pepatah Aceh bunyinya ”gaseh ka u blang sayang ka u glee”pada halaman 45 begitu juga pada bagian lain di buku yang sangat menggugah dan sebuah renungan ini.

Nilai yang di kemas dengan local wisdom keacehan ini kian punah dan jarang di temukan di beberapa karya orang Aceh sendiri. Nilai plusnya tentu saja dapat mengingatkan pembaca tentang nilai budaya dan warisan leluhur Aceh yang telah dan kian luntur selama baik hadih maja atau petuah ureung tuha lainnya hendaknya perlu dipelajari dan dilestarikan.

Penulis buku ini dalam mengutip beberapa ayat dan hadist tidak menjelaskan referensi dasar berupa tafsir atau rujukan ulama terhadap penjelasan ayat dan hadist nabi. Setidaknya para pembaca dapat merujuk dan mendalami lebih lanjut. Bahkan ada di sebutkan nama ayat dan surat saja tanpa menyebutkan isinya. Seperti terlihat di halaman 15 “….Al-Mujadilah ayat 19 – 22.” Dan beberapa halmanan lain walaupun tidak keseluruhannya.

Dalam merangkaikan letak dan relasi setiap pembahasan dengan pembahasan selanjutnya sepertinya penulis kurang memperhatikan munasabah (perikatan/relasi)nya. Ibda’ (memulai)nya buku ini judul tulisan “Hidup adalah Belajar” letak pertama sudah bagus dengan nilai filosofinya dari tiada menjadi ada, tanpa ada kehidupan niscaya tidak yang namanya belajar.

Namun judul penutup tulisan dalam buku tersebut lebih cocok di khatam(di akhiri) dengan judul “Merdeka dari Neraka” ketimbang judul “Waktu Mengubah Kampungku” walaupun dalam kata pengantar pengarang telah menyebutkan di akhir tulisan kisah hidup beliau, namun nilai filosofinya kurang tepat, terlebih judul buku ini ada unsur “menyingkap”nya. Tentu Ibrah (pelajaran) dari “Merdeka dari Neraka” sebuah doa dan renungan serta tujuan akhir dari perjalanan hidup manusia di muka bumi sebagai khalifah al-ardhi (pemimpin di muka bumi) yakni terlepas dari azab api neraka.

Apresiasi dan salut pantas di sandangkan kepada penulis buku”Peunawa Belajar Menyingkap Makna”, sebagai alumni dayah dan lahir dan dibesarkan dari komunitas dayah, nilai sense of belonging (rasa memiliki) ke dayahan tidak luntur dari beliau, ini di buktikan salah satunya dengan sang editornya elemen dan sosok guru senior dayah dengan kalaborasi tokoh muda (Mukhlisuddin Marzuki) master lulusan dalam negeri dengan tokoh senior (Muntasir Abdul Kadir) doktor lulusan luar negeri sebuah pembuktian ketakdhiman sebagai nilai orisinal kedayahan masih terpatri sangat kuat dalam jiwa sang penulis di bandingkan dengan mereka para penulis produktif yang masih aktif didayah namun nilai semacam ini di abaikan dengan lebih memilih editornya di kalangan non dayah dengan jam terbang go nasional bahkan internasional sekalipun. Entah untuk mendongkrak nilai “ekonomis” dan “prestasisme” karya tersebut lebih “wow” ataupun tidak? Itu tidak terlalu penting rasanya. Padahal masih banyak di kalangan dayah bahkan guru dan senior sekalipun yang bisa diandalkan, kalau bukan kita insan dayah sendiri yang ingin mengangkat marwah dan derajat dayah, siapa lagi?

Dapat di simpulkan buku ini sangat bagus untuk di baca tentu saja dengan sedikit bertafakur terhadap apa yang sedang dibaca terlebih isinya bentuk pengajaran dan realita dalam kehidupan sehari-hari juga mengakat kisah nyata sang penulis sendiri, tanpa renungan, pesan dan ibrah yang di dapatkan oleh pembaca sangat sedikit dan ruh-nya samar-samar.

Walaupun buku ini masih ada kekurangan dalam beberapa hal,namun tidak terlalu memyentuh dengan isinya hanya berkisar problema metode penulisan dan mulabasah (hubungan) dalam penempatan judulnya di samping penegasan referensinya. Sekali lagi buku ini sangat layak untuk dimiliki sebagai bacaan inspirasi dan motivator kehidupan yang mampu menggugah dan merubah kepribadian serta hari esok anda ke arah yang lebih baik, tidak percaya? Buktikan saja dengan memiliki dan membacanya…Semoga

Wallahu ‘Allam Bishawab

***Helmi Abu Bakar El-langkawi
Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga
dan Staf di IAI al-Aziziyah Samalanga, Bireun
.