Santri Aceh Menyikapi Kelatahan Teuku Wisnu

0

BEBERAPA tahun yang lalu, wajah Teuku Wisnu sering menghiasi beberapa layar televisi Indonesia. Artis asal Aceh ini kerap membintangi beberapa sinetron “favorit” yang sangat digandrungi oleh ibu-ibu Indonesia. Padahal Sinetron yang tidak mendidik itu telah merampas banyak waktu para ibu, yang seharusnya diluangkan untuk mendidik dan membina anak-anaknya belajar.

Setelah lama menekuni dunia keartisan, ternyata Teuku Wisnu tidak mendapat ketenangan batin dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan dunia “maksiat” itu dan bertaubat kembali ke jalan maghfirah. Untuk menebus kesalahan yang telah dilakukannya, Teuku Wisnu merasa perlu untuk terjun ke dunia dakwah. Dia ingin menyebarkan ilmu agama kepada masyarakat luas sebagai ganti penyebaran maksiat yang telah dilakukan. Ketika mendengar kabar itu, saya sebagai masyarakat Aceh merasa gembira dan bangga dengan Teuku Wisnu, keturunan bangsawan (Teuku) dari Aceh berdakwah di tingkat nasional, sugguh membuat bahu ini naik, bangga.

Kegembiran dan kebanggaan itu sirna sudah ketika menonton sebuah acara di Trans TV yang berjudul “Berita Islami Masa Kini” yang dibawakan oleh Teuku Wisnu dan Zaskia Adya Mecca. Mengapa tidak, dalam acara itu Teuku Wisnu mengatakan bahwa bacaan Al-Fatihah kepada orang meninggal tidak bermanfaat. Tidak sampai di situ, Teuku juga menuding pelakunya adalah bid’ah, sebuah statement yang selalu didengung-dengungkan oleh para “pengusik” ketentraman beragama Islam di negeri ini.

Akibat dari statement “kacau” tersebut nama Teuku Wisnu menjadi heboh di media sosial. Teuku Wisnu menjadi buah bibir masyarakat Indonesia akibat “dakwah”-nya yang mem-bid’ah-kan (mengkafirkan) orang membaca Al-Fatihah kepada yang sudah meninggal. Statement itu menimbulkan kontroversi dan saling meng-hujjah. Bahkan caci maki di media sosial antara masyarakat awam dengan masyarakat awam lainnya, ada yang pro, ada yang kontra, bahkan ada sebagian awam yang saling mengancam. Hal ini menyita banyak waktu dan meguras energi untuk hal yang sudah jelas ke-sunnahan-nya.

Membaca Al-Fatihah kepada orang yang sudah meninggal merupakan hal yang sudah disepakati oleh mazhab yang empat. Dan ke empat mazhab menyatakan bahwa pahala Al-Fatihah yang dibacakan untuk mayat akan sampai kepada mayat dan perbuatan tersebut adalah perbuatan yang dianjurkan jika dilakukan dengan ikhlas. Bahkan guru besar–yang diikuti oleh Teuku Wisnu–yang bernama Ibnu Thaimiyah dalam kitabnya “Majmu’ Fatawa” juga menyampaikan bahwa orang yang mengingkari sampainya amalan orang yang hidup kepada orang yang meninggal adalah bid’ah. Bagaimana ini? Siapa yang harus didengar, Syaikh Ibnu Thaimiyah atau “syeikh” Teuku Wisnu. Kacau memang.

Jika mau konsisten dalam mengikuti maka mereka seharusnya mengikuti gurunya Ibnu Thaimiyah, bukan justru mengambil sana sini dari siapa saja yang tidak tahu darimana asalnya dan dimana mangkalnya, dan selanjutnya menodong siapa saja sesuka hati.

Jikapun kita katakan hal itu merupakan hal yang khilafiah (berbeda pendapat ulama), maka kenapa harus mem-bid’ah-kan, kenapa harus menuding, untuk apa harus menyalahkan orang lain, kenapa harus mengacaukan suasana. Untuk apa itu semua, kenapa tidak diam saja, kan khilafiah? Apakah memang demikian yang diajarkan oleh gurunya, atau hanya ingin mencari sensasi.

Sebagian masyarakat awam ada yang membela dengan dalih setiap orang bebas berpendapat. Kita katakan bahwa bebas berpendapat itu ada ketentuannya, harus terukur bukan berarti bebas berpendapat boleh dilakukan oleh siapa saja dan tentang apa saja. Pendapat itu harus dari seorang yang ahli, juga menurut keahliannya. Seorang ahli mesin bebas berpendapat tentang mesin, seorang ahli hukum boleh berpendapat juga tentang hukum, begitu juga dengan agama, mesti dari ahlinya yaitu dari para ulama.

Jika siapa saja bebas berpendapat tentang masalah agama, maka lahirlah kelompok-kelompok dengan pendapatnya sendiri sesuka hatinya, seperti Lia Aden, Mirza Ghulam Ahmad, Millah Abraham, dan lainnya yang sempat membuat kegaduhan di kalangan masyarakat. Jika ini terjadi mau dibawa kemana agama Islam ini.

Sesungguhnya kita butuh da’i, tapi da’i yang benar-benar da’i. Da’i yang alim, wara’, tawadu’, juga zuhud. Kita tidak butuh da’i “bajakan”, da’i jalanan yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan, menjajakan hadis dan ayat secara sembarangan. Mengambil satu potong hadis dan menuding sana sini membuat kehebohan dan kekacauan dalam tatanan sosial masyarakat.

Jika tidak mengerti, maka biarlah orang yang sudah cukup syarat saja yang berdakwah. Biarlah hal ini diemban oleh para ulama-ulama. Namun jika ngotot juga ingin berdakwah maka belajarlah dengan benar, tuntut ilmu yang benar, melalui orang-orang yang benar.

Muhammad KhairiLayaknya seorang yang masih awam tentang ilmu agama seharusnya Teuku Wisnu harus belajar lebih banyak tentang ilmu agama. Lebih lagi jika misinya ingin menjadi seorang ustadz yang sebenarnya, bukan ustadz “pengacau” dan memantik kehebohan masyarakat yang hidup tenang dalam bimbingan para ulama dan kyai-kyai yang shalih dan zuhud.

Penulis Muhammad Khairi, S.Sos,I. Dia adalah santri Ma’had Aly MUDI Masjid Raya Samalanga dan Pengurus ISAT (Ikatan Santri Aceh Timur)