Selain Baiturrahman, Inilah Landmark Lain di Banda Aceh

0

58Tugu Simpang Lima, Banda Aceh

Banda Aceh adalah sebuah kota yang mempesona. Banyak sekali yang bisa didapati di kota satu ini. Selain objek wisata sejarah, Banda Aceh juga menawarkan objek wisata tsunami yang saat ini sangat populer dikalangan wisatawan lokal, nasional maupun internasional.

Kota yang berdiri 809 tahun silam ini, terasa kian menarik dengan hadirnya wisata tsunami yang makin berkembang dan diminati para pelancong dari seantero dunia. Selain itu pemerintah kota pun kian menggarap berbagai potensi lain yang siap tawarkan kepada pengunjung.

Memang saat ini Banda Aceh tidak bisa dilepaskan dari satu hal, yaitu kata “Tsunami”, ini karena begitu membekas tragedi itu di ingatan rakyat Aceh dan dunia. Namun jangan salah, justru hal inilah yang kemudian menjadi modal dan landasan Banda Aceh makin menunjukkan taringnya dalam dunia pariwisata.

Bencana tersebut seperti mendatangkan berkah, ibarat sebuah pepatah mengungkapkan “Habis gelap terbitlah terang”, begitulah yang dialami kota Banda Aceh saat ini. Kota ini seakan mengalami revolusi pembangunan yang dapat dilihat dari segala aspek dalam kehidupan masyarakatnya, dari waktu-kewaktu terus mengalami kemajuan dan peningkatan ke arah yang lebih baik, dengan tetap mencirikan identitas khusus, yaitu ke-Aceh-an yang kental akan nuansa keislaman.

Banda Aceh selalu diidentikkan dengan Masjid Raya Baiturrahman, memang masjid ini begitu menawan dan diakui sebagai salah satu masjid terindah di Asia Tenggara. Jika melihatnya dari dekat, pantaslah kiranya masjid peninggalan Kesultanan Aceh ini menjadi icon dan landmark kota Banda Aceh.

Berbicara masalah landmark, sebenarnya masih banyak bangunan menarik lainnya yang menjadi ciri khas Banda Aceh, salah satunya adalah tugu dan monumen. Sebelum tsunami kota ini memiliki beberapa tugu yang berdiri diberbagai sudut kota. Kemudian setelah terjadinya bencana, tugu-tugu yang menghiasi kota madani ini pun kian bertambah banyak.

Mengunjungi sebuah kota besar terkadang sangat mudah menemukan tugu dengan bentuk patung manusia atau hewan. Namun jangan pernah berharap dapat ditemukan di Banda Aceh. Di kota ini, tidak ada satupun tugu yeng berbentuk manusia atau hewan, hal ini bukan bukan berarti orang-orang Aceh tidak memiliki seni, namun justru ini merupakan jatidiri, identitas yang terkait kepercayaan rakyat Aceh.

Ada beberapa tugu dan monumen yang menghiasi Banda Aceh, kehadiran tugu dan monumen ini makin menambah keunikan dan keindahannya. Selain itu, bangunan ini juga sarat akan unsur sejarah, seni dan daya tarik. Mengenai hal itu berikut adalah beberapa tugu dan monumen yang dapat didatangi ketika mengunjungi Banda Aceh.

Tugu ini berada di kecamatan Syiah Kuala, tepatnya dalam komplek kota pelajar mahasiswa Darussalam. Memiliki bentuk yang unik dengan menyerupai sebuah menara. Tingginya hampir mencapai 25 meter dan terletak di tengah-tengah lapangan. Tugu ini sarat dengan makna sejarah pendirian komplek pendidikan Darussalam dan umurnya sudah lebih dari setengah abad. Pada awal pendiriannya tugu ini diresmikan langsung oleh presiden pertama Indonesia pada tanggal 2 September 1959, sebagai sebuah tanda pembangunan komplek pendidikan tersebut. Dalam plakat tugu Darussalam, terdapat sebuah kalimat yang dibuat langsung oleh sang proklamator, isinya adalah “Tekad bulat melahirkan perbuatan yang nyata, Darussalam menuju pelaksanaan cita-cita”.

Tugu ini juga terletak di Kecamatan Syiah Kuala, tepatnya di jalan T. Nyak Arief bersebelahan dengan lokasi wisata kuliner Simpang Mesra. Bentuknya memiliki keunikan tersendiri, mulai dari bagian dasar hingga pada bagian puncak, yang menyerupai sebuah ujung pena, oleh karena itulah tugu ini sering juga disebut dengan nama Tugu Pena. Tugu ini sarat akan makna perjuangan dan belajar sepanjang hayat, kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan seperti apapun. Ada sebuah kalimat pembangkit semangat yang disematkan pada tugu ini, Bunyinya adalah “Belajar sambil berjuang, berjuang sambil belajar”. Kalimat ini mengisyaratkan bahwa rakyat Aceh adalah orang-orang yang berjiwa patriotisme dan bersemangat dalam menuntut ilmu.

Tugu yang satu ini juga memiliki bentuk yang unik, dimana bentuknya sangat kental dengan unsur dan ornamen islam. Menyerupai sebuah kubah masjid dengan sebuah liontin atau gantungan yang menyerupai Cap Sikureung, yang merupakan lambang dan stempel resmi Kesultanan Aceh Darussalam pada masa silam. Nama tugu ini diambil nama dari seorang Sultanah atau ratu yang termasyur yang pernah memerintah Aceh, nama penguasa perempuan Kesultanan Aceh tersebut adalah Safiatuddin Tajul-’Alam yang bergelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi Fi’l-’Alam Binti Al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam. Tugu ini terletak di lampriet, Kota Baru, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.

Bangunan tugu yang satu ini terletak di simpang lima peunayong yang merupakan tempat etnis Tionghoa bermukim, kawasan ini juga merupakan sentra perdagangan. Tugu Bundaran simpang lima memang sudah menjadi icon dan landmark dari Banda aceh. Jika diperhatikan dengan teliti tugu simpang lima ini memiliki ornamen yang kaya akan unsur tradisional dan arsitektur Islam. Tugu Simpang Lima ini terletak dijantung kota dan berjarak kurang lebih 1000 meter dari Mesjid Baiturrahman.

Tugu jam merupakan salah satu tugu jalan yang terletak diantara berbagai objek wisata Kota Banda Aceh. Tugu ini terletak di bundaran diantara jalan Sultan Iskandar muda, Teuku Umar, Balai Kota dan jalan Sultan Alaiddin Mahmudsyah. Letaknya tidak jauh dari Museum tsunami Aceh, Taman Sari, Taman Putro Phang, Gunongan, Kantor Gubernur dan Kantor Walikota Banda Aceh. tugu ini dibangun oleh salah satu bank swasta Indonesia. Jika melihat secara seksama tugu ini juga memiliki ciri dan unsur tradisonalnya. Ini bisa kita lihat pada bagian puncak dari tugu yang hampir menyerupai sebuah batu nisan khas Aceh dan bentuk seperti lidah api pada bagian atasnya.

Bangunan monumen Thanks to The World terletak di sebelah utara lapangan Blang Padang yang merupakan lapangan utama kota Banda Aceh. tugu ini berbentuk seperti gelombang tsunami yang mengingatkan siapa saja yang melihatnya akan mengingat bahwa Aceh pernah dilanda gelombang tsunami. Monumen atau tugu ini mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada relawan, LSM, negara sahabat dan berbagai kalangan serta organisasi-organisai baik didalam maupun diluar negeri yang telah banyak membantu Aceh pasca terjadinya bencana tsunami.

Banguan monumen ini menandakan bahwa Pemerintah Aceh memang begitu serius dalam mempertahankan memori warga Aceh terhadap peristiwanya gempa dan tsunami Aceh 2004 yang silam, agar nantinya anak-anak Aceh yang menjadi generasi penerus dapat mengetahui sejarah dan peristiwa yang ada di daerah asalnya ini. Lantai depan monumen ini dipenuhi prasasti-prasati yang memuat berbagai hal tentang tsunami, seperti jumlah korban tewas dan hilang, panjang jalan yang hancur, jumlah jembatan yang musnah, jumlah warga yang mengungsi dll.

Monumen Replika Pesawat Seulawah RI 001 merupakan pesawat pertama yang dibeli oleh Indonesia, dengan bantuan dana dari seluruh rakyat Aceh yang setara dengan 20 kg emas. Selain itu, pesawat ini memiliki peran penting dalam awal kemerdekaan serta sejarah penerbangan Indonesia. Monumen ini menjadi lambang bahwa sumbangan rakyat Aceh sangatlah besar bagi perjuangan Republik Indonesia di awal berdirinya.

Monumen ini juga terletak di lapangan blang padang, kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, hanya sekitar satu kilometer dari pusat kota Banda Aceh. Sebelumnya pesawat ini banyak sekali kegunaannya bagi pemerintah Indonesia jaman awal kemerdekaan, selain berguna sebagai angkutan senjata, pesawat ini pun berguna untuk perjalanan presiden soekarno ke berbagai daerah untuk membangkitkan semangat pemuda Indonesia dalam membangun negara serta perjalanan ke beberapa negara untuk memberi tahu tentang kedaulatan negara Indonesia.

Melalui pesawat ini pula lah berita berita tentang perjuangan rakyat Indonesia dapat disebar ke beberapa tempat, termasuk juga ke PBB. Dengan adanya pesawat pertama Indonesia ini, maka lahirlah pula jalur-jalur penerbangan di Indonesia, dengan jalur pertama yang dibuat oleh presiden soekarno adalah rute Sumatera–Jawa, kemudian barulah dibuat rute-rute lainnya seiring berjalannya waktu, dengan keberadaan pesawat ini pula lah menjadi titik awal berdirinya perusahaan penerbangan di Indonesia sampai sekarang.

Ada banyak tugu peringatan tsunami yang ada di Banda Aceh, salah satunya juga terdapat di Blang Padang. Tugu ini dibangun untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh 26 Desember 2004. Tugu ini dibangun oleh Yayasan Harapan Bangsa Nusantara dan didanai oleh salah yayasan dari Amerika.

Tugu-tugu lainnya tersebar di ratusan titik di kota Banda Aceh. Pada banguan tugu menunjukkan posisi ketinggian air saat gelombang tsunami datang. Ketinggian air ditandai oleh batas garis biru, tepat di bawah kuncup bunga berwarna kuning. Sementara di bagian penyokongnya, terdapat prasasti yang menjelaskan jarak posisi tugu itu dari tepi pantai serta ketinggian air saat itu.

Tugu ini berada di tengah taman Sari yang terletak tidak jauh dari masjid raya dan kantor walikota Banda Aceh. tugu ini berdiri gagah ditaman yang sudah ada sejak masa kolonial ini. Tugu ini berbentuk semi-modern dengan lebih menunjukkan bentuk kubus dan segi empat. Tugu ini merupakan tugu peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ada di Kota Banda Aceh. Bagian dasar dari tugu ini terdapat teks proklamasi kemerdekaan.

Monumen ini terletak persis disebelah selatan Masjid Raya Baiturrahman dan disebelah utara Taman Sari. Monumen ini dibangun di atas puing-puing Hotel Kuta Radja, yang juga sarat akan nilai sejarah kemerdekaan Indonesia. Ditempat inilah dulu presiden Soekarno sempat meminta bantuan rakyat Aceh untuk dapat membantu perjuangan kemerdekaan untuk membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajahan Belanda. Bangunan monumen ini berbentuk tiang-tiang yang berdiri tegak dengan tinggi dan warna yang berbeda-beda.

Tugu yang satu ini terletak tidak jauh dari pusat perbelanjaan Barata, posisinya persis berada di depan ATM Bank BNI. Tugu Piala Adipura ini diresmikan pada tanggal 17 Mei 1997, menandakan bahwa Kota Banda Aceh telah menerima Piala Adipura yang pertama kalinya sejak program Adipura dicanangkan pada tahun 1986. Tugu ini merupakan bukti nyata bahwa Banda Aceh merupakan salah satu kota terbersih di Indonesia. Jika melihat bentuknya, tugu ini juga dipengaruhi oleh unsur Islam, dimana pada bagian puncaknya terdapat empat buah lempengan plakat berbentuk lingkaran yang bertuliskan tahun dan juga tulisan dalam bahasa Arab.