Senyuman Sang Mursyid Abu MUDI Menuju Universitas Al-Aziziyah Samalanga Kampus Peradaban

0

SANG surya saat itu auranya melemparkan senyuman kala dhuha tiba, mobil mewah yang di parkiran gedung megah berlantai lima, tiba-tiba sosok yang tidak asing, berwibawa, ulama nan mursyid Naqsyabandiah turun dari kenderaan plat yang tidak asing dengan tulisannya. Pakaian jubah warna surga alias hijau menyelimutinya plus peci ala Timur Tengah berpadukan warna hijau juga dengan langkah perlahan menuju podium utama, semua tamu dan orang yang berada ditempat itu berdiri dan suasana terdiam dan mata semuanya tertuju kepada sosok berpakaian hijau berjubah itu.

Memasuki gedung “raja” sehari wisudawan nampak Al-Mukarram, Wadir, Rektor juga Koordinator Kopertasis berbaris antrian, Langkahnya almukarram terus berjalan bersama tongkat yag setia menemaninya, pantia mencoba menemani hingga sang almukarram duduk di posisi paling tengah. Lantas siapakah sosok tersebut?

Almukarram Almursyid Abu MUDI Bersama Rektor IAI Al-Aziziyah Samalanga Dr. Tgk. Muntasir A. Kadir, MA (HAB/LA)

Ia merupakan ulama dan al-mujaddin pendiri Institut Agama Islam (IAI) Al-Aziziyah Samalanga merupakan perguruan tinggi swasta kedua di Aceh setelah Institut Agama Islam (IAI) Al Muslim Bireuen yang mampu meraih status Institut setelah sebelumnya sejak diresmikannya pada 2003 perguruan tinggi ini bernama Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Aziziyah Samalanga.

IAI Al Aziziyah mendapatkan status baru tersebut setelah melewati tahapan pengajuan proposal alih status ke Direktorat Pendidikan Islam Kementerian Agama RI pada tahun 2013 dilanjutkan tahapan verifikasi kelayakan alih status, visitasi kelayakan melaksanaan pendidikan Institut serta rekomendasi dari berbagai stakeholder di Aceh dan Nasional. Bersamaan dengan persetujuan Alih Status IAI Al-Aziziyah Samalanga, juga perubahan status 4 Perguruan tinggi lain di Jawa Timur dan Sumatera Barat dan Selatan.

Kampus IAI Al-Aziziyah Samalanga Bantuan Presiden Jokowi. (HAB/LA)

Perseturuan Qaul Jadid Vs Qadim
Almukarram sejak awal hingga kini lembaga pendidkan tersebut masih di bawah kepemimpin Teungku Muntasir A. Kadir (Ayah Batee Iliek). Institut Agama Islam (IAI) Al-Aziziyah yang berlokasi di gampong Mideun Jok Samalanga, Bireuen perlahan terus berkembang pesat. Bermacam ragam terobosan telah dilakukan dan saban tahun mahasiswanya terus membludak.
Institut Agama Islam (IAI) Al-Aziziyah dalam jangka waktu yang bertahap mengemban visi untuk terwujudnya Institut Agama Islam yang mampu melahirkan intelektual muslim yang berbasis kepada ketinggian moral, pemahaman dan pengamalan agama.

Tentu saja ini revolusi dan reformasi pendidikan yang lahir ide cemerlang dan pemikiran Al-mursyid tersebut lahir pro dan kontra sesuatu yang wajar. Mereka yang kontra ada alasan tersendiri dengan menyebutkan masa Allayurham Abon Abdul Aziz Samalanga bahkan beliau “benci” kepada perkuliahan dan mereka ini penulis istilahkan dengan “qaul qadim.

Sedangkan mereka yang pro dan sependapat dengan pemilik ide sang almukaddid tersebut yang dikenal dengan “Qaul Jadid”.Tentunya problema yang melahirkan “Qaul Qadim” yang melarang dan tidak setuju dengan berdirinya perkuliahan di lingkungan dayah. Sementara yang berpengaruh kepada “Qaul Jadid” membolehkannya mendirikan kampus yang kini telah memiliki gedung lima lantai. Jelaslah bahwa “tarjih” almujaddid lebih diunggulkan “Qaul Jadid” dari “Qaul Qadim” sebagaimana dalam istilah Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Mahally. Lantas bagaimana dengan problema Qaul Jadid versus Qaul Qadim disini?

Kampus IAIA Samalanga bantuan Presiden Jokowi Berdiri Megah di Pusat Kota Santri Samalanga. (HAB/LA)

Satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa pencetus ide itu bukan hanya ashabil wujuh (murid langsung dan senior) Abon Aziz juga telah jauh hari disiapkan sebagai calon penggantinya, ini terbukti dengan menjadikan beliau sebagai menantunya bahkan dalam setiap perkara dan problema selalu bersama dengan Abon Aziz, tentunya banyak permasalahan dan wasiat yang hanya tahu kedua ulama besar tersebut bahkan menjelang meninggal Abon Aziz, Al-mukarram masih juga mendengarkan petuah dan nasehat Abon. Singkat cerita Al-Mujaddid sosok yang lebih mengenal Abon Aziz terhadap pemiikirannya dengan ulama lainnya yang juga ashabil wujuh Abon Aziz Samalanga.
Komplek Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga. (HAB/LA)

Menerusuri akar pemikiran Abon Aziz melarang perkuliahan saat itu disebabkan di kampus banyaknya faham sesat seperti Wahabi dan sejenisnya yang mampu mengubah aqidah dan keyakinan serta pengetahuan seperti kebiasaab kaum dayah pada umumnya dan masih banyak lagi jawaban serta penjelasannya tidak mungkin habis diutarakan diforum ini.

Dalam menerjemahkan pesan Abon, lebih mendekati kebenaran menafsirkannya lebih tepatnya dikatakan Al-Mujaddid. Tentunya melihat realita saat ini dengan problemnya, dewasa ini terletak bagaimana generasi penerus itu tidak melupakan kewajiban belajar agama sebagai fardhu ain sebagai kewajiban pokok dan pendidikan yang berkiblat kepada fardhu kifayahnya juga masih kemungkinan dapat ditempuh.

Sang Al-mukarram tersebut mengasumsikan bahwa fenomena umat dan era globalisasi terus mengancam dekadensi moral dan akidah. Akhirnya keresahan oleh Al-Mujaddid menjawab apa yang terjadi dewasa ini dan lahirnya solusi terhadap kekhawatiran itu dengan mendirikan perguruan tinggi di lingkungan dayah, ide itu muncul dan dibuktikan pada tahun 2003 dengan mendirikan pendidikan formal bernama Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Aziziyah pada tahun 2003 dan sejak beberapa tahun silam telah berubah menjadi IAI Al-Aziziyah. Penabalan “Al-Aziziyah” itu sebagai tafaulan (sempena) kepada sosok pemimpin dayah sebelumnya yakni Abon Abdul Aziz Samalanga dan beliau dikenal sebagai sosok “Reformis” dalam dunia pendidikan dayah.

Kini IAIA Samalanga telah melakukan wisuda angkatan ke-VIII tahun 2019 sebanyak 670 orang masing-masing 222 wisudawan dan 448 wisudawati dan dalam wisuda tahun ini melahirkan 359 cumlaude dari berbagai Prodi baik Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA) maupun Ahwal Al-Syakhsyiayah (AS), Ekonomi Islam (Ekos) dan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).

Rektor IAI Al-Aziziyah Samalanga Dr. Tgk. Muntasir A. Kadir, MA dalam penjelasannya di hadapan wisudawan, tamu undangan dan masyarakat menyebutkan bahwa sampai tahun ini sudah ada 10 orang dosen tenaga pengajar di IAI Al-Aziziyah yang sudah meraihgelar doktor dan Insya Allah ada 8 orang lagi diharapkan dapat menyelesaikan pendidikan doktornya tersebut pada tahun depan dari 17 orang yang sedang menjalani S3. Bahkan tahun ini dua dosen IAIA lulus mendapatkan beasiswa program MORA. .Total dosen IAI Al-Aziziyah yang sudah tersertifikasi adalah 36 orangdari 81 orang dosen yang sudah memiliki NIDN.

Sementara itu Prof. Dr. H. Warul Walidin, MA yang juga Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh dalam kapasitasnya sebagai Koordinator Kopertais V Aceh salut kepada lembaga pendidikan yang didirikan sang Al-Mukarram dengan segala kelebihan dan sarana serta prasanana yang dimiliki telah mentasbihkan diri lembaga pendidikan tinggi Islam swasta terhebat dan terbaik di Aceh dengan segala “ter” (afdhala tafdhil)nya bahkan gedungnya melebihi apa yang dimiliki lembaga yang dipimpinnya saat ini UIN Ar-Raniry gedung megah lima lantai yang diresmikan bapak presiden Jokowi. Melihat apa yang dimiliki IAIA, Profesor kelahiran Pidie itu menyebutkan sudah layak IAIA menuju perubahan menuju Universitas (Al-Jami’ah).

Nawaitu sang almujaddid mencurahkan dirinya dan “mewakafkan” segalanya demi kebahagian dan cita-cita sang Allahuyarham Abon Aziz untuk kejayaan panji Aswaja tidak pernah luntur dan segala terobosan terus dilakukan. Pengembaraan integrasi ilmu tidak pernah berhenti dan semangnya padam, bahkan IAI Al-Aziziyah menargetkan bisa membuka program pascasarjana dengan dukungan semua pihak termasuk sudah banyak dosen yang doktoral dan harapan ini juga harus direalisasikan demi melahirkan para ilmuwan dengan integrasi ilmu. Lantas siapakah sang Al-Mukarram tersebut?

Melahirkan Universitas Ahkam di Kampus
Beliau adalah Al-Mujaddid Al-Mursyid Syekh H. Hasanoel Basri HG atau akrab disapa Abu MUDI. Menabalkan Al-Mujaddid juga tidak berlebihan walaupun ada sebagian orang menyebutkannya tidak tepat namun penulis ada banyak indikator mendukung atas gelar tersebut terhadap “tajdid”nya, diantaranya Al-Mursyid Abu MUDI awal tahun milenium menjelang pra industri 4.0 telah mampu melahirkan sesuatu yang baru di negeri syariat ini dalam berbagai bidang pendidikan termasuk mendirikan perkuliahan di kampus dan jenjang pendidikan lainnya, dimana awalnya ini hal yang tabu di kalangan dayah dan banyak lainnya tajdid al-mukarram yang tidak dicatat di ruang ini padahal Al-Mursyid bukanlah sosok guru besar sebagaimana yang dianugerahkan di lembaga pendidikan tinggi.

Seharusnya sekaliber guru besar alias profesor harus mendahului dalam aksi “tajdid” dan realisasi kampusnya lahirnya dayah sebagaimana dayah mendirikan kampus dan perkuliahan seperti dayah MUDI Samalanga dan lainnya.

Seharusnya kala Dayah telah mereformasikan dirinya dengan menjemput perkuliahan di dayah dan insan dayah “menyerbu” kampus, lantas kapankah kampus mereformasikan dirinya mendirikan dayah dalam naungan kampus sebagaimana yang telah di mulai oleh langkah tersebut oleh Abu MUDI dan diikuti dayah lainnya?

Padahal apabila dua kepingan mata pisau ilmu (dayah-kampus) yang dulunya pendidikan satu atap telah dipisahkan saat kolonial Belanda menjajah negeri ini beberapa abad silam ini bersatu dalam mereformasikan menuju perubahan dengan saling melengkapi dan berbagi, pasti genderang kebangkitan Islam di seperti diprediksikan sejarawan bersinar kembali di negeri Aceh, sudah siapkah kampus bergandengan tangan, “bermesraan” bercinta dengan dayah meminangnya dalam pusaran cinta sejati bermahkotakan kejayaan dayah-kampus (Ahkam), kapan?

Terakhir kita sangat berharap ide cemerlang Al-Mursyid Abu MUDI berharap dengan gedung baru berlantai lima bantuan presiden Jokowi mampu mewarnai mercuar integritas ilmu di bawah panji Al-Aziziyah sebagaimana harapan Allayurham Abon Aziz Samalanga begitu juga penyambung estafet selanjutnya Al-mursyid Abu MUDI mampu menjadi insan dayah mampu mengintregasikan ilmu dalam mengarungi kehidupan ini yang lebih baik.

Tentunya tidak kata lain yang indah selain untaian doa dan harapan jutaan masyarakat di balik gedung itu akan lahir bukan hanya ulama juga umara plus tokoh agamawan juga intelektual dari berbagai elemen lainnya dengan besutan tangan dingin para teungku dosen (Tuson) yang berkarakter dengan iptek dan imtak juga harapan Al-Mukarram Abu MUDI lahirnya guru besar di bawah panji sang mercusuar Al-Aziziyah tersebut dalam mewarnai IAI Al-Aziziyah Samalanga Go internasional bahkan terwujudnya menjadi Universitas Islam Al-Aziziyah Samalanga sebagai lokomotif revolusioner pendidikan dan pusat pendidikan peradaban Aceh menuju negeri Baldatun Tayyibatun Warabbul Ghafur.. Amin

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq
Qaddimu ‘amalakum lidaril akhirah ta jidu ‘indaha fauza wannajah
***Helmi Abu Bakar El-Lamkawi, Pemerhati Masalah Pendidikan dan Sosial Masyarakat, Warga Ulee Glee, Pidie Jaya