Seorang Warga Pulo Aceh Melahirkan Darurat di Boat

0
438
Seorang ibu warga Pulo Aceh, melahirkan darurat di boat. Foto: Istimewa
Seorang ibu warga Pulo Aceh, melahirkan darurat di boat. Foto: Istimewa
Seorang ibu warga Pulo Aceh, melahirkan darurat di boat. Foto: Istimewa

Aceh Besar | LA – Niat ingin melahirkan dengan melakukan persalinan di sebuah Rumah Sakit di Banda Aceh, seorang ibu dari Kepulauan paling ujung barat Negera Indonesia ini terpaksa harus melahirkan darurat di boat pada saat perjalanan menuju Banda Aceh. Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa, 16 Mei 2017.

Informasi yang diterima Liputan Aceh pada Selasa sekira pukul 21.00 WIB, wanita yang diketahui bernama Irma (30 tahun) merupakan warga Desa Lampuyang, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar ini terpaksa harus melahirkan di tengah perjalanan menuju Banda Aceh di sebuah boat angkutan umum KM Arjuna.

Kronologi kejadian unik dan menggemparkan itu bermula ketika Tgk Dir (35 tahun) yang tidka lain adalah suami dari Irma, berangkat dari Pulo Aceh menggunakan boat angkutan umum menuju Ibukota Provinsi Aceh guna melaksanakan persalinan di Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh.

Namun ketika masih setengah perjalanan dari pulau terluar Indonesia menuju Banda Aceh, sekira pukul 08.30 WIB, Irma merasakan sakit di bagian perutnya. Dia pun mengadukan hal itu kepada suaminya tercinta Tgk Dir, yang kemudian disampaikan kepada Kepala Puskesmas Pulo Aceh, Balirah (52 tahun) yang kebetulan berada di satu boat dengannya.

Mendapat laporan dari warganya, Balirah pun segera melakukan tugasnya sebagai seorang tenaga kesehatan dengan memeriksa sang pasien. Pada saat diperiksa, diketahui ternyata Irma akan segera melahirkan, Balirah pun segera bertindak dengan tenang dengan dibantu sejumlah warga di tempat kejadian.

Tak lama kemudian, sang ibu pun akhirnya melahirkan seorang bayi yang cantik dengan jenis kelamin diketahui perempuan. Sang bayi juga lahir dengan kondisi yang baik dan dalam keadaan sehat wal’afiat.

Menurut penyampaian Balirah, Irma pernah melakukan konsultasi kepada pihaknya hanya satu kali saja di bidan Puskesmas Kecamatan Pulo Aceh. “Pada saat itu Irma masih dalam usia kandungan 4 (empat) bulan. Setelah itu dia tidak pernah lagi melakukan pemeriksaan rutin, sehingga kami tidak dapat memprediksi kelahiran,” ungkap Balirah. (Redaksi)