Siswa SMK-SMTI Banda Aceh Produksi Hand Sanitizer

0
ket foto : Wakil Ketua Tim Gugus Tugas Penanganan Covid 19 Aceh, Dr. Ir. Dyah Erti Idawati, MT meninjau pembuatan hand sanitizer di SMTI, Senin 20 Juli 2020.

Liputanaceh.com, Banda Aceh | Wakil Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Aceh, Dyah Erti Idawati, mengapresiasi serta mendukung siswa Sekolah Menengah Kejuruan Sekolah Menengah Teknologi Industri (SMK-SMTI) Banda Aceh dalam memproduksi hand sanitizer untuk mencegah penularan virus corona.

Hal tersebut ia ungkapkan saat melihat langsung proses produksi hand sanitizer, di Laboratorium Kimia Industri SMK SMTI Banda Aceh, Senin, (20/7).

Kepala Sekolah SMK SMTI Banda Aceh, Hariyanto, menjelaskan, bahan baku dari hand sanitizer bermerek Klona itu, bersumber dari tanaman herbal. Ia mengatakan, berdasarkan hasil uji dari sejumlah laboratorium, daya membunuh kuman dari hand sanitizer Klona itu mencapai 99 persen dan bahannya pun aman untuk kulit.

“Hand sanitizer yang kami produksi ini memuat bahan baku minyak atsiri, cengkeh, kayu putih, ekstrak sirih, lidah buaya serta gliserin. Kemudian juga mengandung alkohol, ” ujar Hariyanto.

Produksi hand sanitizer tersebut bekerjasama dengan perusahaan Owellnes We Care, anak perusahaan PT Biosentra Indonesia. Semua bahan baku pembuatan hand sanitizer itu disediakan oleh mereka dan proses distribusinya pun mereka lakukan.

“Karena sudah dikomersialkan, maka harus bekerjasama dengan badan usaha. kami menyediakan bahan baku dan melakukan distribusi, sementara pihak sekolah menyediakan SDM dan peralatan. Jadinya harga produk lebih murah, ” kata Lahmudin Amar, Representatif Owellness we care.

Amar mengatakan, kerjasama itu dimulai pada masa pandemi ini. Saat ini pihaknya mulai mendistribusikan produk tersebut ke berbagai daerah di Aceh, terutama ke sekolah, usaha perhotelan, dan swalayan.

“Saat ini kita sedang memproses izin dari Kemenkes RI, agar produk ini bisa kita distribusikan secara nasional,” ujar Amar.

Amar berharap, kehadiran istri orang nomor satu di Aceh itu dapat membantu proses distribusi produk buatan anak Aceh tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Dyah mengatakan, ia dapat meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh bahkan Plt Gubernur Aceh untuk mengeluarkan surat izin agar produk buatan anak Aceh itu dapat dijual melalui berbagai swalayan yang beroperasi di Aceh.

“Jika sulit barangnya untuk masuk ke swalayan-swalayan, kami bisa mengeluarkan surat dari Gubernur agar mudah, ” kata Dyah.

Untuk mendukung produk tersebut, Dyah juga akan meminta seluruh dinas di bawah kewenangan Pemerintah Aceh untuk membelanjakan produk murid SMK SMTI Banda Aceh itu, jika membutuhkan hand sanitizer.

“Bapak Plt Gubernur juga sudah mengeluarkan kebijakan kongkrit agar setiap kebutuhan konsumsi Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) dibelanjakan pada UMKM Aceh atau membeli produk Aceh sendiri, ” kata Dyah.