Soal Tenda Bentuk Salib di Peresmian Masjid Raya Baiturrahman

0
658
Soal Tenda Bentuk Salib di Peresmian Masjid Raya Baiturrahman. Foto: Dok. Liputanaceh
Soal Tenda Bentuk Salib di Peresmian Masjid Raya Baiturrahman. Foto: Dok. Liputanaceh
Soal Tenda Bentuk Salib di Peresmian Masjid Raya Baiturrahman. Foto: Dok. Liputanaceh

Banda Aceh | AD – Setelah bertahun-tahun penampakan foto mirip salib pada atap pembangunan Kantor Gubernur Aceh, kini penampakan tanda mirip salib itu kembali muncul, namun kali ini kemunculannya bahkan ada di masjid kebanggaan Rakyat Aceh yaitu Masjid Raya Baiturrahman.

Penampakan foto salib tersebut sangat nyata apabila dilihat dan dipotret dari atas menara masjid Raya Baiturrahaman yang menjulang tinggi, atau pun dapat melihatnya dengan alat alat potret lain seperti dron yang diterbangkan diatas kawasan masjid.

Menanggapi hal tersebut, Syeh Muhammad Nasir Woyla al-Chalidy, MA, saat dimintai tanggapannya oleh media Liputan Aceh, pada Jum’at 19 Mei 2017, mengaku terkejut dengan penampakan foto tersebut. Dia meminta Pemerintah dan masyarakat Aceh agar selalu menjaga masjid kebanggaan Masyarakat Aceh yang didirikan pertama kali oleh pahlawan Aceh Sultan Iskandar Muda itu. Apalagi kini masjid tersebut sudah menjadi bukti sejarah penting pada saat musibah Tsunami melanda Aceh 2004 lalu.

“Masyarakat Aceh dan Pemerintah Aceh harus siap menjaga peninggalan tersebut dan jangan sampai dikotori oleh segelintir orang, apalagi hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu saja,” harap Muhammad Nasir.

Pemimpin Aceh sekarang, lanjut dia, sudah lupa dan luput perhatiannya terhadap kegiatan yang dilakukan seperti upaya mendirikan tenda di  peresmian masjid Baiturrahman bBanda Aceh yang berbentuk salib. “Ini menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat Aceh di seluruh dunia, kenapa hal seperti ini bisa terjadi di tanah Aceh yang dikenal sangat kental dengan syariat Islam. Padahal dari dulu kita dianggap cerdas dan berani,” cetusnya.

Syeh Muhammad Nasir Woyla, yang pernah meraih penghargaan ulama termuda se-Asia pada tahun 2010 ini mengatakan, seharusnya peresmian masjid tersebut ditandai dengan lambang kemakmuran Islam di Aceh, bukan dengan lambang kristen atau lambang lainnya. “Ini bentuk pencitraan Pemerintah Aceh yang gagal, bahkan telah merusak citra mereka sendiri,” sebutnya.

Islam, kata Muhammad Nasir, sekarang berada di persimpangan bangkit dan hancur, apabila muslim di Aceh tidak pandai menjaganya, salah satunya pencitraan rusak yaitu dengan diresmikannya Barus sebagai titik Nol Islam Nusantara, maka akan sangat mudah dirusak dan diobok-obok. “Seperti titik nol Islam Nusantara itu kan seharusnya di Aceh dan wajib dimiliki oleh masyarakat Aceh, karena kita semua tahu tentang sejarah ini,” jelasnya.

Dikatakan dia, saat ini Agama Islam dan Aceh, butuh sosok pemimpin yang berdiri kokoh memegang Islam sebagaimana para leluhur (Indatu) Aceh dahulu. “Dulu pendahulu kita relah darah mengalir pada tubuh bahkan nyawa melayang sekalipun demi menjaga Agama yang mulia ini dan tanah Aceh yang akan diajajah kafir. Tapi belum tentu hal demikian mau dilakukan bangsa kita sekarang, apalagi kalau sudah ada uang dan jabatan,” pungkasnya. (AR/H)

Baca juga: Peresmian Wajah Baru Masjid Raya Diwarnai Penampakan Tenda Salib

BAGIKAN

KOMENTAR