Syahdunya Zikir dan Doa Haul Ayahanda Abu MUDI dalam Sentuhan Abiya Muhammad

0
234

Nampak dari Kejauhan terlihat sosok yang sangat bersahaja dengan berpakaian kebiasaan menghadiri acara resmi dan zikir bahkan ini sangat sakral Haul orang yang sangat di cintai dan di sayanginya. Jubah dan surban kerap menghiasi setiap menghadiri pengajian dan zikir.

Kaki Al-Mukarram melangkah dengan jalan perlahan dan tongkat yang selalu menyertai di dampingi beberapa orang dekat dan anak serta keluarganya juga dewan guru senior menuju Mesjid yang bersejarah yang disandarkan kepada Raja Iskandar Muda sang Raja Aceh yang sangat adil dan di kenal dunia luar terkenal dengan nama Mesjid Po Teumeruhom.

Beliau tidak lain adalah Al-Mursyid Al-Mukarram Syaikhuna H. Hasanoel Basri HG (Abu MUDI) yang berpakaian lengkap dengan surban menuju tempat yang telah disiapkan panitia dalam hal ini Humas Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga.

“Alhamdulillah, kami selaku panitia telah mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan acara zikir dan doa bersama Haul Ayahanda Abu MUDI Al-marhum Tgk. H. Gadeng bin Bulang,” kata Tgk. Mustafa Lamno, SH yang merupakan Ketua Humas MUDI yang telah di percayakan beberapa periode memegang amanah tersebut dan masih setia mengabdi untuk MUDI walaupun “cercaan” jomblowan sejati (Joti) kerap di alamatkan kepadanya baik oleh kawan seleting maupun gurunya. Namun mendelete dan membalasnya dengan senyuman polos.

Lautan jubah putih yang merupakan “jihadis” zaman now plus bersurban ikut memberikan aura dan semangat tersendiri acara Haul Waled (Sapaan Abu MUDI terhadap Al-Marhum Ayahanda). Mesjid Po Teumeruhom itu tidak dapat menampung semua para Jihadis Jubah Putih plus bersurban itu. Bahkan harus rela duduk di halaman Mesjid tersebut.

Pasukan Jubah putih tanpa ada yang memberi aba-aba dan memerintahkan semua berdiri seolah sedang siap “mengokang” senjatanya yang selalu setia kemana pergi namun ini bukanlah medan peperangan seperti mereka yang mengibarkan bendera panji hitam berdalih “berjihad” namun kerap melakukan tindakan di luar syariat Islam seperti yang di lakoni di semenanjung Arab.

“Kok ada yang berdiri? Siapa yang arahkan dan komandoi Teungku?,” kata salah seorang jamaah yang terlihat masih muda dan layaknya tamu, seperti belum memahami kondisi dan tradisi Dayah dimana berdiri saat guru yang sedang melintas dan menghadiri sebuah acara.

Suasana tiba-tiba senyap tidak ada satupun yang berbisik dan gaduh, ternyata Al-Mursyid Abu MUDI
bersama para Wadir dan Guru senior hadir memasuki Mesjid Po Teumeruhom mengikuti zikir dan doa bersama Haul Al-marhum Ayahandanya.

Saf depan rombongan Abu MUDI, keluarga serta sebagian dewan guru. Para santri kembali mengambil tempat duduk dan mengikuti arahan para pimpinan zikir Dalail Khairat membaca berbarengan bahkan nampak Abu MUDI juga sangat khusyuk dan syahdu serta larut dalam alunan zikir yang mengupas pujian dan doa kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Bukan hanya itu, bahkan para dewan guru, santri dan jamaah terbuai dan hanyut dalam sentuhan irama Syekh zikir yang membawakan zikir Dalail Khairat, diantaranya Tgk. Adnani yang merupakan salah seorang qari nasional yang pernah mewakili Aceh beberapa tahun yang silam dan kini di percayakan menjadi Aspri (Asisten Pribadi) Al-Mukarram Abu MUDI.

Bahkan dari kejauhan kalau tidak salah suara emas juara nasional Tgk. H. Iqbal semakin terbiusnya jamaah dalam melafalkan sambil menghayati setiap ukiran zikir yang di lantunkan pemuda jenius yang rela meninggalkan “bangku” kuliah untuk menjadi Kaum Sarungan di Surga dunia MUDI Mesjid Raya Samalanga.

Di celah-celah zikir kian menggema dan menyapa malam Jum’at yang berkah di penghujung bulan Safar yang terkenal dengan Rabu Abehnya walaupun tradisi itu yang dulunya mengajak keluarga dan masyarakat mandi ke laut kini telah di modifikasi untuk mengisinya berzikir dan berdoa serta sejenisnya.

Penulis mencoba menempatkan diri walaupun sebentar untuk mengabadikan momen ini dari “Istana” berlantai empat dan terlihat “aura” jubah putih membahana menyapu malam yang sejuk dan ikut mendengarkan lantunan zikir yang di hadiri sang Mursyid dan Wakil Mursyid tarekat Naqsyabandiah itu.

Hampir dua jam lantunan zikir dan wirid yang menghiasi malam Haul ayahanda dari Masyaikhuna dan Ayah rohani kita bersama, nampak Al-Mukarram Al-Mursyiduna Wamurabbi sangat bersemangat dan syahdu bahkan terselip wajah serta senyuman indah dan bahagia berkat kiriman doa dan zikir untuk almarhum di Istana yang setiap saat hadir “paket” pahala dari anak rohaninya.

Namun zikir dan wirid bersama tidak lengkap tanpa untaian sekeping doa Khatam untuk almarhum. Beberapa saat acara hampir selesai, protokoler terdiam dan tidak tahu harus siapa yang melantunkan doa ini.

Sudah lumrah kala berkumpul masyaikh tentunya saling mengalah takdhim. Memang sejak dulu spesialis doa itu tetap milik Al-Mukarram Tgk. H. Muhammad Baidhawi atau akrab dipanggil Abiya Muhammad menantunya Al-Mursyid Abu MUDI.

Memang tidak salah dan sudah menjadi “kewajiban” untuk spesialis beliau sebagai sang ulama muda tasawuf, Abiya Muhammad putra Al-Marhum Tgk. Mukhtar Ulee Glee. Satu persatu untaian doa yang dipersembahkan seakan ada magnetik tersendiri menyentuh qalbu mereka yang menadahahkan dua tangannya.

Butiran doa Abiya sangat tersentuh jamaah yang mendengar lafal demi rangkaian kata-kata, untaian doa yang terucap mengalir ruhnya menembak qalbu kita bahkan tidak terasa butiran kecil terus membasahi dua bola mata. Terlebih mereka yang larut dalam samudera rabitah kala berdoa tidak terasa baju membasahi serpihan doa Abiya, sangat dahsyat dan menjiwai kala Abiya melantunkan doa.

Doapun berakhir dan ditutup shalawat. Rombongan Al-Mukarram Al-Mursyid Abu MUDI beserta keluarga meninggalkan Mesjid kebanggaan masyarakat Samalanga itu, azanpun berkumandang mengajak pasukan jubah putih bersiap untuk shalat Isya berjamaah.

Kita berharap semoga zikir dan doa yang kita pintakan bersama menjadi “oleh-oleh” berharga dan penyejuk untuk almarhum ayahanda guru kita Tgk. H. Gadeng bin Bulang yang telah menganugerahkan kepada kita mercusuar dan lampu menerangi menjalani jalan setapak meraih ridha-Nya menuju kampung halaman kelak nantinya. Tidak ada untaian yang paling indah selain ungkapan doa untuk almarhum “Allahumagfirlahu Warhamhu Wa’afuhi Wa’fu’anhu…. “.


**Helmi Abu Bakar El-Langkawi Penikmat Kopi BMW Cek Pen Lamkawe asal Blang Dalam Ulee Glee
.