Tekad Dinas Pendidikan Dayah Aceh dalam Menyelamatkan Peradaban

0

BANDA ACEH |LA- Upaya yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Dayah Aceh dalam menjaga lestarinya nilai-nilai peradaban Aceh patut diacungi jempol. Walaupun dalam skala kecil, tapi yang paling penting adalah Usaha untuk berbuat sudah dilaksanakan.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Usamah El-Madny pada hari Jumat (12/04) saat menutup Acara Pelatihan Standarisasi Arab Jawi yang sudah berlangsung  selama 4 hari di hotel Al-Hanifi, Banda Aceh.

Arab Jawi merupakan salah satu peradaban yang mengangkat nama Aceh di kancah internasional.

“Kita ini pernah Jaya Karna khazanah keilmuan kita, untuk itu sudah menjadi kewajiban moral kita semua untuk menjaga peradaban itu sendiri,” ujar Usamah.

Pada masa itu, bahasa pengantar yang digunakan dalam proses belajar-mengajar pada umumnya adalah bahasa Arab Jawi dan Bahasa Melayu. Hal ini bisa dibuktikan melalui karya para ulama yang masih dibaca sampai sekarang diantaranya kitab Mir’atuth Thulab karya Syech Abdurrauf As Singkili, Kitab Sirus Salikin Karya Syech Abdussamad Al-Falimbani dan karya-karya lainnya seperti Kitab Masailal, Bidayatul, yang semua karyanya ditulis dalam Bahasa Arab Jawi.

“Sadar atau tidak, sedikit demi sedikit kita akan meninggalkan peradaban kita, Karna pengaruh budaya-budaya luar yang masuk dalam lingkungan kita. Seperti yang ditulis oleh Ibnu Khaldun dalam bukunya, bahwa Bangsa yang kuat akan memasuki peradaban bangsa yang lemah,” ujar Usamah kembali mengingatkan.

Kadis juga menyebutkan,Rumpun Melayu pernah menguasai peradaban Melayu raya, kejayaan literasi pernah kita capai, yang mana episentrumnya adalah Aceh, alat tulisnya itu adalah Arab Jawi, maka menjadi sangat penting untuk menjaga kelestarian Penulisan Arab Jawi ini di Aceh, agar kelak tidak hilang ditelan zaman.

Sedangkan pelatihan ini, lanjut Usamah, adalah sebuah bentuk ikhtiar-ikhtiar yang dilakukan dalam menjaga peradaban Aceh, Karna di Malaysia, di Brunei, tulisan Arab Jawi ini masih sangat popular.

“Cuma kita saja yang sudah sediki demi sedikit meninggalkan peradaban itu. Untuk memperkuat, ke depan kita akan membuat musabaqah penulisan Arab Jawi, akan kita perlombakan,” ujar Pak Kadis yang juga hobi menulis itu.

Jejak peradaban Aceh sampai saat ini masih  dikenal diluar negeri seperti di Malaysia dan Mindanao, serta negara rumpun lainnya, karena mereka masih menyimpan naskah-naskah kuno hasil karya para Ulama Aceh terdahulu, itu menjadi sebuah kebanggaan kita masyarakat Aceh, terhadap Kontribusi Ulama Aceh terdahulu dari Penulisan Arab Jawi.

“Kalangan Dayah memiliki kewajiban moral untuk menjaganya, agar kelak kita kembali menghasilkan karya-karya terbaik dari penulisan Arab Jawi untuk meraih kejayaan dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan Islam,” pinta Usamah.[]