Tgk. Nasril Adly Khatib Idul Fitri 1441 H di Masjid Raya Labuy Sigli

0
PIDIE I Liputanaceh.com– Pimpinan Dayah An-Nur Darussalam, Gampong Jaja Tunong, Kemukiman Gigieng, Simpang Tiga, Tgk. Nasril Adly, M. Pd dipercayakan menjadi khatib Idul Fitri 1441 H di Masjid Raya Labui (Masjid Raya Po Teumeuruhom), Minggu, (24/5/2020), pagi.

“Insya Allah, besok, (Minggu, 24/5) akan bertindak sebagai Khatib Idul Fitri 1441 H di Masjid Raya Po Teumeuruhom Labuy dan semoga tidak ada halangan dan berjalan lancar,” katanya yang juga alumni Dayah Darussalam Labuhan Haji kepada  liputanaceh.com, Sabtu, (23/5/2020) saat dikonfirmasi melalui handphone.

Sosok tokoh agamawan yang juga Imum Chiek Masjid Tgk Chik Burhan Gigieng, Simpang Tiga itu menyebutkan sejak beberapa waktu sudah dihubungi panitia untuk menjadi khatib di masjid bersejarah tersebut.

Selanjutnya, Tgk. Nasril menambahkan di Kemesjidannya Tgk. Saifullah, S. Pd. I sebagai Imam dan Khatib shalat Idul Fitri.

“Tahun ini, Tgk. Saifullah, S.Pd.I Pimpinan LPI Madinatuddiniyah Miftahul  Fatah AL-Aziziyah Kecamatan Mane,” tutupnya.

Dalam catatan liputanaceh.com, menyebutkan bahwa Masjid Raya Labui yang awalnya bernama Masjid Raya Po Teumeuruhom, dipercayai sebagai masjid tertua di Aceh yang menyimpan nilai historis. Bukti sejarah itu sampai sekarang masih tetap utuh, meski sempat dilakukan modifikasi dengan tidak menghilangkan bentuk aslinya. Modifikasi dilakukan supaya warisan sejarah itu tetap awet.

Adalah tongkat kayu berukir dan mimbar (mihrab). Mimbar dibuat pengrajin yang didatangkan khusus dari Negara Cina sekitar abad 1416 M. Uniknya mimbar dengan arsitektur Cina itu kaya dengan ukiran, sampai kini masih berdiri kokoh di dalam masjid.

Mimbar tersebut masih digunakan untuk khatib saat berkhutbah pada hari Jumat. Untuk mempertahankan mimbar terus awet dan cantik, pengurus Masjid Labui melapisinya dengan cat warna emas.

Tongkatnya sendiri terbuat dari campuran emas, tembaga, dan kuningan juga digunakan khatib saat berkhutbah. Kedua bukti sejarah itu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat lokal maupun bagi turis asal Malaysia yang pernah berkunjung ke masjid yang dibangun di atas tanah seluas 7.396 m2 tersebut.