Tgk. Yusri Gade: Hiasilah Hari Tasu’a dan Asyura dengan Ibadah

0

PIDIE JAYA I LA– Kini kita kembali berada di bulan yang mulia yakni bulan Muharram yang merupakan salah satu bulan yang mempunyai kelebihan tersendiri di antara bulan yang lain.

“Bahkan dalam bulan Muharram sendiri dari tanggal satu hingga 10 Muharram merupakan tiga di antara 10 yang terbaik sepanjang tahun selain sepuluh akhir Ramadan dan sepuluh awal Zulhijjah. Kini kita berada dalam akhir sepuluh awal Muharram,” kata Tgk. Yusri Gade, S. Hi dalam khutbah jum’at di Masjid Baitul Fuqarah, Paru Keude, Bandar Baru, Pidie Jaya, (6/9/2019).

Sosok ulama alumni dayah MUDI Samalanga itu mengatakan dalam banyak literatur kitab disebutkan bahwa puasa Asyura dan Tasu’a, yang dikerjakan tiap tanggal 9 (Tasu’a) dan 10 Muharram (Asyura) memang selalu dinanti-nantikan kaum muslimin. Karena pahalanya yang sangat besar, yaitu bisa menghapuskan kesalahan dan dosa-dosa kecil selama setahun lalu.

“Pernyataan tersebut sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Puasa hari Asyura, aku mengharapkan pahalanya di sisi Allah dapat menghapuskan dosa-dosa kecil setahun sebelumnya.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah). Dalam hal ini jumhur ulama berpendapat bahwa shaum (puasa) Asyura dilakukan pada hari kesepuluh dari bulan Muharram, sementara shaum Tasu’a dilakukan pada hari kesembilan dari bulan Muharram,” papar dai kondang yang kerap diundang keberbagai daerah di negeri ini.

Ulama kelahiran Pidie ini menambahkan syariat mengajurkan untuk melakukan ibadah puasa Tasyua dan Asyura yang memiliki berbagai keutamaan yang sangat luar biasa. Sudah semestinya bagi seluruh kaum muslimin wal muslimat mengerjakan puasa Asyura ini karena banyak hikmah yang terkandung di dalamnya.

” Di antaranya kelebihan melaksanakan puasa Asyura adalah salah satu wujud syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan hamba-hamba-Nya yang beriman dari kejahatan orang-orang kafir, yaitu selamatnya Nabi Musa dan Harun AS bersama Bani Israil dari kejahatan Firaun dan bala tentaranya,” sambungnya yang juga pengurus Tastafi dan Sirul Mubtadi itu.

Selanjutnya, hikmah lainnya meneladani Nabi Musa, Harun, dan junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, yang berpuasa pada hari Asyura.

Khatib yang berperawakan mungil ini juga mengulas tentang momentum tasu’a. Imam al-Nawawi rahimahullaah menyebutkan tentang tiga hikmah dianjurkannya berpuasa hari Tasu’a, tujuan disyariatkan puasa Tasu’a untuk menyelesihi orang Yahudi yang berpuasa hanya pada hari ke sepuluh.

” Diantara tujuan disyariatkan tasyu’a untuk menyambung puasa hari ‘Asyura dengan puasa di hari lainnya, sebagaimana dilarang berpuasa pada hari Jum’at saja. Pendapat ini disebutkan oleh al-Khathabi dan ulama-ulama lainnya. Sedangkan alasan yang paling kuat disunnahkannya puasa hari Tasu’a adalah alasan pertama, yaitu untuk menyelisihi ahli kitab,” ulasnya.

Terakhir Tgk. Yusri berharap dan mengajak kepada jamaah untuk menghiasi hari Tasu’a dan Asyura dengan berbagai macam ibadah minimal mengurangi maksiat. Tentunya sangat besar fadhilah beribadah kedua hari tersebut dan hendaknya dilalui tanpa sia-sia.