Ulama Dayah Menyayangkan Survey BPPD Aceh

0
687
Foto Irfan

Tgk. H. Faisal Ali

BANDA ACEH – Kamis (19/11) Badan Pembinaan Pendidikan Dayah Aceh melalui Seksi Kurikulum merilis kabar yang mengejutkan dunia pendidikan dayah. Rilis data survey dayah yang menerapkan mata pelajaran ulumul qur’an tersebut dipublikasi melalui media online salah satu harian terkemuka di Aceh. Dimana, survey menyebutkan bahwa 57% dayah di Aceh tidak menerapkan mata pelajaran ulumul qur’an.

Efek dari publikasi data survey tersebut, beberapa kalangan teungku dayah menyatakan keperihatinannya kepada Badan Pembinaan Pendidikan Dayah Aceh.

Salah satu tokoh muda dari Dayah Mudi Mesra Samalanga, Teungku Muhammad Iqbal saat dihubungi tim liputanaceh.com via telepon mengatakan, “sebagai santri dayah, kami sangat menyayangkan rilis ini dipublikasikan dengan cara dan waktu yang tidak tepat, ditakutkan ada polemik baru yang akan terjadi antara santri dayah dan pelajar agama Islam non dayah dalam mempertahankan eksistensi keilmuannya. Padahal yang penting saat ini adalah bagaimana cara kita memahami makna dari ulumul qur’an,” tegasnya.

Pada kesempatan lain, liputanaceh.com berhasil mewawancarai salah satu ulama dayah yang juga wakil ketua MPU Aceh, Teungku H. Faisal Ali, untuk memintai tanggapannya terhadap data survey yang beredar saat ini.

Lem Faisal, sapaan akrabnya menuturkan, dayah pada dasarnya telah mengajarkan ulumul qur’an melaluli kitab-kitab tertentu.

“Sebelumnya kita harus pahami makna dari ulumul itu sendiri, itu kan jamak dari pada ilmu? Berarti yang selama ini diajarkan di dayah beberapa kitab seperti tafsir yang membahas penafsiran Al-Qur’an dan asbabunnuzul ayat, ushul fiqh yang didalamnya membahas nasakh mansukh, tajwid, qiraat, dan beberapa kitab lain yang membahas hukum-hukum Al-qur’an, apakah itu belum masuk dalam kategori ilmu yang mempelajari Al-qur’an?” ungkap Ketua PWNU Aceh ini.

Teungku Faisal yang juga Pimpinan Dayah Mahyal Ulum Al Aziziyah menambahkan, bahwasannya dayah sudah mengajarkan ulumul Al-qur’an sejak masa ulama-ulama kita terdahulu. Cuma terkadang ada ulama-ulama masa kini yang menghasilkan karya-karya terbaru yang secara lebih mendalam pembahasannya terkait ayat mutasyabihat, muhkamat, asbabunnuzul, dan lainnya, yang belum dibahas secara rinci oleh ulama-ulama terdahulu.

“Ya, kalau ada kitab-kitab yang belum diajarkan itu memang benar, karena setiap dayah punya kurikulum tersendiri yang secara turun temurun diajarkan, itu harus kita hormati juga”, tambahnya.

Teungku Faisal juga mengajak kepada masyarakat untk memahami makna dari ulumul qur’an itu apa, jangan sampai dengan ada data survey seperti ini dapat merusak eksistensi keilmuan dayah. “Kalau memang ada kitab yang harus ditambah dan itu menurut kebutuhan masyarakat masakini, ya boleh-boleh saja, malah itu lebih baik”, tutupnya. (Irf/Ms)

BAGIKAN

KOMENTAR