Uzlah Covid-19 Momentum Membumikan Sunnah Rasul Malam Jum’at

0

KITA meyakini bahwa di balik setiap musibah pasti ada hikmah yang bisa diambil. Di antaranya, Allah menegur dan mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Begitu juga dengan mewabahnya Covid-19 (Corona). Ketika virus corona muncul dan menyebar ke mana-mana banyak orang yang tidak berdaya. Mereka akhirnya terinfeksi dan banyak pula yang kehilangan nyawa. Manusia bukanlah makhluk yang super kuat tetapi Allah-lah Zat Yang Maha Kuat. Kita tidak berdaya ketika Allah menurunkan penyakit yang bernama covid 19. Maka berserah dirilah hanya kepada Allah semata diiringi ikhtiar dan doa serta introspeksi diri (taubat).

Dalam menghadapi wabah Virus Corona COVID-19 yang sudah mengglobal ini dan menginfeksi hampir di banyak negara termasuk negeri kita. Para ahli di dunia menyepakati cara efektif agar tidak tertular virus ini adalah dengan melakukan social distance. Kegiatan social distance atau jarak sosial adalah seseorang menjaga kedekatan fisik dengan orang lain guna mengurangi perpindahan virus dari tubuh satu ke yang lain.

Saat ada himbuan tersebut juga ada intruksi tidak keluar malam, terlebih malam jum’at plus bulan Syakban merupakan momentum terbaik untuk “uzlah” di rumah memperbanyak amaliah sunnah rasul di malam yang berkah sayyidul ayyam.

Dalam syariat Islam sebagaimana kita maklumi malam Jumat merupakan malam yang berkah dan afdhal dibandingkan dengan malam lainnya dalam tujuh dari dalam satu jumatan. Mengapa tidak, Jumat di ilustrasikan sebagai sayyidul ayyam (penghulu segala hari). Namun ada istilah yang sering kita dengar malam Jumat itu identik dengan malam sunnah rasul (sura) untuk mereka yang telah berkeluarga.

Istilah sunnah rasul mayoritas masyarakat mengartikulasinya dengan makna melakukan hubungan intim antara suami-istri yang dilaksanakan pada malam. Tentu saja ini akan menambah “sakit hati” kaum jomblowan dengan menjustifikasikan istilah sunnah rasul pada malam Jumat hanya itu intepretasinya (berjimak).

Padahal melihat dari katanya sunnah dan rasul sungguh bukan itu saja penjabarannya. Kata sunnah rasul dalam Islam penjelasannya mengacu kepada sikap, tindakan, ucapan dan cara Baginda Rasulullah Saw menjalani hidupnya atau garis-garis perjuangan dan tradisi yang dilaksanakan oleh Rasulullah.

Melihat kepada pengertiannya sunnah rasul itu bermacam pekerjaan dan perbuatan yang bernilai ibadah yang sangat ditekankan untuk dikerjakan pada malam atau hari Jumat dan sungguh banyak sunnah rasul itu. Apa saja bro sunnah tersebut?

Pertama, Memperbanyak Shalawat

Malam Jumat sebagai malam yang mulia, kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat. Bentuk shalawat itu sangat banyak namun esensi shalawat berupa pujian dan sanjungan serta doa untuk Nabi Muhammad. Di kalangan dayah, masyarakat Aceh, shalawat di implementasikan dengan membaca Kitab Barzanji dan sejenisnya.
Dalam hal ini Rasulullah Saw, beliau bersabda; “Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari jum’at karena shalawatnya umatku akan dipersembahkan untukku pada hari Jumat, maka barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku.” (HR. Baihaqi).

Dalam hadist juga disebutkan kelebihan melakukan sunnah rasul dengan bershalawat dengan bunyi hadist Rasulullah Saw:bersabda: “Perbanyaklah membacakan shalawat untukku pada hari jumat, karena hari itu adalah hari yang disaksikan; para malaikat menyaksikannya. Dan sesungguhnya, tidaklah seseorang membaca shalawat untukku kecuali bahwa shalawat itu akan dipersembahkan kepadaku hingga ia berhenti.” Abu Darda’ kemudian bertanya, “Begitu jugakah setelah anda meninggal ?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepada tanah untuk menggerogoti jasad para nabi.”

Kedua, Memperbanyak doa

Doa sebagai senjata orang mukmin selayaknya kita perbanyak untuk berdoa terlebih malam yang berkah seperti malam Jumat sebagai realisasi bentuk sunnah rasul pada malam mulia tersebut.
Kelebihan berdoa pada malam jumat juga disebutkan dalam hadist Rasulullah Saw, beliau bersabda ; “Hari Jumat itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslimpun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.” (HR. Abu Dawud). Masih sangat banyak lagi ibadah yang bernai plus yang dianjurkan pada hari atau malam jumat sebagai bentuk istilah sunnah rasul

Ketiga, Membaca Surat Al Kahfi

Salah satu surat spesifik dalam label sunnah rasul pada malam Jumat dengan membaca surat Al-Kahfi. Tentu saja ada nilai plusnya kita hiasi malam Jumat dengan surat Al-Kahfi sebagaimana sabda Nabi Muhammad: “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari jum’at akan diberikan cahaya baginya diantara dua Jumat.” (HR. Al Hakim).

Dalam hadist lain yang pemahaman hampir senada bunyinya:“Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jumat, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul ‘atiq.” (Sunan Ad-Darimi, no. 3273)

Di antara kelebihan membaca surat Al-Kahfi pada malam atau hari Jumat akan terhindar dari fitnah Dajjal. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa dengan rajin membaca surat ini pada hari jumat maka akan terhindar dari fitnah tersebut.Dari Ibnu Umar ra, berkata: Rasulullah saw bersabda:
“Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.” (HR. Abu Bakr bin Mardawaih) dan masih banyak lagi kelebihan ” sunnah rasul” lewat surat Al-Kahfi pada malam jum’at

Beranjak dari pembahasan di atas di tengah mewabahnya corona dan anjuran “uzlah” plus tidak keluar malam menjadikan waktu tersebut mengisi malam jum’at yang berkah di bulan yamg mulia. Di samping itu selayaknya mari kita hilangkan budaya mengapresiasikan bentuk hubungan intim malam Jumat dengan istilah sunah rasul . Kita ganti saja dengan ungkapan lain yang lebih pantas dan baik yang tidak menyinggung dan berefek negatif dalam perspektif agama dan terus berpacu dalam ibadah di setiap dimensi waktu dan tempat. Semoga!

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Tariq
Tgk. Iswadi Arsyad, M. Sos, Dosen IAIA Samalanga dan Pakar Sosial Keagamaan dan Politik